Living with Him

Living with Him
Serpihan 54



Mataku terbelalak sementara napasku tertahan. Bukankah kalimat itu yang biasa digunakan di film-film, untuk melamar seseorang? Astaga! Apa Rezvan baru saja memintaku menikah dengannya?


Rasanya hatiku ingin berkata "ya" saat itu juga. Namun, otakku melarang dengan segala logika yang muncul tiba-tiba. Dia tak mungkin bersungguh-sungguh. Pasti semua hanyalah kepalsuan dan sebentar lagi dia akan tergelak menyaksikan aku termakan umpan permainannya.


"Kamu jahat!" jeritku sambil mendorong tubuhnya mundur, kemudian berlari menjauhinya. Tangisanku pecah seketika.


Hujan kembali turun dengan deras tanpa aba-aba. Aku membiarkannya jatuh membasahi wajah, agar air mata di pipi tak berjejak lagi. Biar saja tubuhku menggigil, aku tak mau peduli.


Genggaman tangan Rezvan menarikku paksa dan menuntunku masuk ke sebuah kafe di salah satu ruko. Aku meronta, memintanya untuk melepas. Namun, dia tetap bergeming.


"Lepasin! Kalau nggak, aku bakal teriak kamu mau perkosa aku! Biar kamu dipukulin sama semua orang di sini!" teriakku sambil mencubiti tangannya yang memerangkap pergelangan kiriku.


"Teriak aja. Saya nggak apa-apa dipukulin, yang penting kamu nggak kehujanan lagi. Saya nggak mau kamu kebasahan sampai sakit," ucapnya tegas.


Aku tak dapat berkata-kata lagi. Ucapannya seperti sinar mentari yang menghangatkan pagi. Dan sialnya, malah semakin membuatku jatuh hati. Kini, nuraniku seolah sedang bertarung dengan otak, tentang siapa yang paling benar. Rasa atau logika.


Rezvan mendorong pintu dengan keras, membuat loncengnya berdenting kuat. Semua pengunjung yang ada menoleh ke arah kami. Tak ingin terjadi kesalahpahaman, aku melunakkan perlawananku dan pasrah saat pria itu menarik sebuah kursi dan menyuruhku duduk.


Aku bisa membuatmu


Jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta, kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa...


Alunan lagu Risalah Hati dari Dewa 19 yang dinyanyikan grup band live music menerobos gendang telingaku. Meresapi lagu yang entah bagaimana menohok sudut hatiku, kurasakan panah tatapan dilontarkan padaku dari belasan pasang mata pengunjung. Biasanya, seseorang atau sesuatu yang berbeda, akan menjadi objek pengamatan orang lain. Aku pun mulai menilai di mana letak perbedaanku dengan mereka. Dari luar saja sudah terlihat, setelan yang sebagian besar pengunjung kenakan berupa gaun dan kemeja, berbeda denganku yang hanya mengenakan sweater dan celana gombrong. Terlebih wajahku yang menampakkan kegusaran hati, tentunya menambah nilai minusku di mata mereka.


Dua piring berisi sepotong besar red velvet dan tiramisu mendarat di meja. Aku memasang wajah cemberut saat Rezvan membanting tubuh di kursi seberangku. Namun begitu, desakan dalam lambungku tak dapat berbohong saat menghidu aroma manis yang menari di hidungku.


Aku menelan ludah pelan, menyembunyikan hasrat untuk langsung melahap penganan favoritku itu. Menahan godaan, aku membuang muka ke arah jendela yang menampilkan refleksi wajah pucat bermahkota rambut acak-acakan dengan pakaian yang seperti karung di tubuhku. Astaga! Mengapa penampilanku menyedihkan begini?


"Kamu nggak suka, ya? Kalau gitu, saya balikin aja, deh. Saya kurang suka makanan manis," ucap Rezvan hendak menarik kembali piring di depanku.


"Jangan!" tahanku seketika. Seperti harimau yang nyaris kehilangan mangsa, tanganku spontan melingkupi keramik putih itu. Mataku melotot dengan dahi berkerut. Kalau saja bisa, mungkin aku sudah mengaum untuk mengusir pencuri makananku.


Seulas senyum terbit di bibir Rezvan, membuatku menyadari tingkah bodohku sendiri. Melipat tangan di depan dada, aku memasang wajah sinis. "Ya udah, kalau mau dibalikin, balikin aja!"


"Nggak, kok. Buat kamu aja. Silakan dimakan," ujarnya lembut.


Seorang pelayan pria datang membawakan segelas besar cokelat panas dan secangkir americano. Beberapa piring lain berisi croissant, sandwich, muffin, dan cupcake cantik terhidang di meja. Dengan sopan, laki-laki bercelemek hitam itu mempersilakan kami makan.


Aku menjilat bibir, menahan liurku agar tak menetes keluar. Perutku seperti dihukum dengan perpaduan aroma makanan dan minuman lezat itu di udara. Berapa lama lagi aku bisa bertahan dengan segala 'kejaiman' hingga memasukkan semuanya ke mulutku tanpa bersisa.


Rezvan memiringkan kepala, menatapku dan berkata dengan lembut. "Kintana, silakan dimakan. Apa mau disuapin?"


"Nggak! Nggak usah!" sahutku galak. Menyerah pada sogokan yang tak kuasa lagi kutahan, aku berkata pelan. "Ya udah kalau kamu maksa, aku makan."


Tanpa mempedulikan bagaimana respon Rezvan, aku mulai menyesap kehangatan yang dihantarkan cokelat panas ke dalam kerongkonganku. Memejamkan mata, aku menghayati rasa manis yang menghadirkan ketenangan kalbu. Belum puas, aku menyendok red velvet yang langsung menggoyang papila lidahku. Biarlah kurasakan kenikmatan ini, sebentar saja. Aku hanya ingin sejenak menyembunyikan luka di masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan yang masih abu-abu.


"Jadi …," Rezvan membuka pembicaraan, "apa saya boleh minta tolong jelasin, kenapa kamu bilang saya jahat?"


Mataku terbuka. Pria di depanku mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat pipiku kembali merona. Wajah persegi dengan rahang kuatnya kembali menghadirkan memori keintiman tadi. Terlebih bibirnya, astaga, jangan sampai aku kehilangan akal dan melumatnya.


Aku berdehem demi menghancurkan karang kotor di otakku. Setelah berhasil mengingat pertanyaan terakhirnya tadi, aku mulai berkata dengan sinis. "Cincin tadi buat Cintya, kan? Kenapa dikasih ke aku?"