
Rezvan bergeming. Rahangnya mengeras, tak sedikitpun menggubris pertanyaanku. Aku menggigit bibir, khawatir. Apa aku telah salah berucap?
“Kintana …! Kintana my baby!” Terdengar suara yang membuat bulu kudukku merinding. Aku menoleh dan benar saja, sosok yang sudah kuduga sedang berjalan ke arahku. “Manisku, kamu cantik sekali malam ini! Mau ketemu Om, ya?”
Perutku terasa mual mendengar bualannya. Entah mengapa setiap bertemu dengannya aku merasa seperti sedang dihampiri dewa sial. Di satu sisi ingin menghormatinya sebagai kerabat Pak Harjanto, tapi di sisi lain ingin kabur menghindari setiap godaannya yang lebih menakutkan dibanding hantu. Yah, walau aku belum pernah melihat makhluk menyeramkan itu. Jangan sampai!
Om Cahyo merentangkan tangan, bersiap memelukku. Matanya menyipit dengan mulut dimonyongkan. Tampaknya urat malunya sudah putus karena ia tak menghiraukan tatapan penuh tanda tanya dari orang di sekitar. Aku bergidik sambil mundur perlahan. Ia hanya berjarak tiga langkah dari sampingku dan aku bersiap lari menghindar.
Sejurus kemudian pandanganku terhalang sosok tinggi berjas hitam. Aku terkejut saat Rezvan berdiri di tengah, antara aku dan pria mesum bertubuh besar itu. Walau berada di belakangnya membuatku merasa sedikit aman, tapi aku penasaran apa yang akan dia lakukan.
“Kintana datang sama Evan, Om! Tolong jangan diganggu,” ucapnya dingin, sedingin udara malam yang semakin menusuk.
“Oh, kamu yang ajak dia, Van? Wah … wah … udah mulai tergoda juga kamu sama si cantik Kintana.” Om Cahyo berusaha menggapai tanganku yang terlindungi tubuh kokoh Rezvan. “Kalau kamu sudah selesai sama dia, langsung oper ke Om, ya. Om rela deh, pakai bekas kamu dan Papa kamu, asalkan itu Kintana my baby.”
Darah di tubuhku menggelegak. Rasanya seperti ada tungku api yang dinyalakan dari batu bara panas. Gigiku bergemeletuk dengan tangan mengepal erat. Ingin rasanya kuhajar pria kurang ajar itu di depan semua orang.
Rezvan menepis tangan Om Cahyo kasar. “Kintana perempuan baik-baik, Om! Tolong jangan ganggu dia lagi. Dia itu perempuan terhormat dengan profesi mulia! Jangan pandang dia sebelah mata!"
Desir samar di hatiku kembali menggerayangi kala mendengar untaian kalimat pembelaan Rezvan. Ucapannya bagai setetes hujan turun memercik di atas api yang sudah terlanjur tersulut. Aku tak dapat menyembunyikan lagi emosiku yang sudah dipuncak, berubah menjadi bulir air mata yang turun tanpa sanggup dibendung.
Dari balik bayangan air mata, kulihat seorang cowok datang menghampiri Om Cahyo yang sedang mengamuk dan mencaci dengan kata-kata kasar. Dia mencoba menenangkan dan mengajak pria besar itu pergi. Bukannya berhenti, laki-laki tua itu masih saja menunjuk-nunjuk, membuat cowok yang menariknya membentak.
“Papa! Sudah! Jangan bikin malu!” sentaknya sambil mendorong dada Om Cahyo pergi. “Sorry, ya, Van! Papa kebanyakan minum.”
Rezvan mengangguk. Cowok tadi menyeret Om Cahyo yang masih memaki. Aku berdiri gemetar.
“Ayo, kita cari tempat duduk,” ajak Rezvan sambil menggenggam tanganku lembut. Tubuhku terasa kaku, terlebih mataku yang sejak tadi melawan air mata agar tidak tumpah. Aku berusaha melangkahkan kaki yang seperti diganduli satu ton besi.
Rezvan membimbingku duduk di sudut tenda yang tak terlalu ramai. Dia hendak beranjak, tapi buru-buru kutahan. Aku tak mau sendirian di tempat yang banyak orang tak kukenal ini.
“Kamu mau ke mana?” cicitku sambil menarik lengan jasnya.
“Mau kasih pelajaran ke Om Cahyo,” sahutnya pelan hendak kembali melangkah.
Aku berdiri. “Jangan, Rezvan!” tahanku dengan lidah terasa janggal karena pertama kali menyebut namanya. “Aku mohon!" pintaku memelas. Aku tak tahan jika terjadi keributan lagi, terlebih disebabkan olehku.