Living with Him

Living with Him
Serpihan 46



Duduk di pinggir undakan pembatas tanaman yang kering kerontang, aku menenggak air mineral yang kubeli di terminal keberangkatan. Otakku berputar, berusaha menjernihkan pikiran. Sejak kapan aku tertidur? Seingatku, aku masih berkirim pesan pada Naren untuk pamit pergi ke ibukota saat bus baru berangkat selang satu jam. Setelah itu, mimpi buruk seperti merenggut kesadaranku. Tidak, aku tak perlu mengingatnya lagi. Yang perlu kuingat adalah tujuanku, menemui ayahku. Ya, itu dia!


Aku merogoh tas dan mengaduk isinya. Kuraba permukaan licin dan rata benda persegi panjang yang menjadi sarana pencarian ini. Walau sempat mengingat alamat yang tertera, aku butuh memastikan bahwa tujuanku memang benar. Lagi pula, setidaknya aku harus mengabari Naren dan Dokter Henry bahwa aku telah tiba di Jakarta.


Deg!


Seketika aku terdiam. Tak dapat kutemukan gawai yang belum lama kubeli, hasil menyisihkan sisa uang yang tak diberikan pada Ibu. Aku mengintip celah tas dan tak juga melihat benda yang kucari. Kukeluarkan satu per satu barang bawaanku yang tak seberapa. Satu pak tisu, sehelai baju dan celana ganti, charger, sobekan foto masa kecil, serta beberapa batang lolipop yang sempat kutitipkan. Tidak kutemukan tanda keberadaan benda terpenting itu. Bahkan, rupanya dompetku juga raib!


Ya Allah! Bagai ditusuk pisau tepat di ulu hati, seluruh tubuhku terasa kaku dan sesak. Aku menangis sejadi-jadinya. Kujambak rambutku sendiri, menyumpah serapah atas kecerobohan sepanjang perjalanan tadi. Oh, apa masih ada satu kebaikan tersisa untuk hidupku yang semakin kelam ini?


Tidak! Aku tak boleh menyerah. Sudah sampai sejauh ini, aku harus tetap berjuang. Aku menenggak kembali air mineral hingga tandas tak bersisa. Perlahan, dinginnya cairan yang menembus kerongkonganku mampu sedikit menyejukkan hati. Rencana demi rencana akhirnya tersusun di sisa kewarasan yang aku miliki.


Perutku berdendang sepanjang perjalanan, mengiringi suara khas Didi Kempot saat menyanyikan lagu Stasiun Balapan yang diputar berulang-ulang. Rintik gerimis menyambutku saat turun dari mikrolet berwarna biru telur asin itu. Langit jingga kemerahan menjadi nuansa latar belakang yang mewakili perasaanku saat ini. Jantungku berdebar teramat kuat, menantikan momen haru yang akan kuhadapi saat bertemu ayah nanti. Namun di satu sisi, berulang kali hatiku memungkiri bahwa inilah jalan terbaik yang harus aku lalui.


Menanti, membiarkan detik tersapu sunyi. Mataku tak henti menatap dua titik, pintu masuk kafe dan foto di tangan. Di undakan depan ruko yang tutup, aku duduk sambil menekan perut, mencoba menyingkirkan perih yang semakin menusuk. Kini diriku tak ubahnya kucing liar yang berteduh di pinggir jalan, tak ada yang peduli.


Langit seolah menuang air yang terjun bebas mengguyur daratan. Udara dingin bak menjelma menjadi ribuan jarum jahit, menusuk pori-pori kulit. Sebagian orang nekat menembus derasnya hujan, tetapi tak banyak juga yang tetap berteduh. Kendaraan merayap di jalanan macet, suara klakson bersahutan memekakkan telinga. Semua ingin cepat tiba di rumah, bercengkrama dengan keluarga.


Spontan aku berdiri tegak saat sebuah mobil yang berhasil membebaskan diri dari kemacetan berhenti tepat di depan kafe. Seorang wanita keluar sambil menempatkan tas di atas kepala, bergegas menuju teras. Napasku tertahan saat pengemudi selesai memarkir kendaraannya dan turun. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menghampirinya.


"Bapak!" teriakku tersamar hujan.