Living with Him

Living with Him
Serpihan 67



Aku duduk bersandar di kursi besi dengan pandangan menerawang. Seluruh kesadaranku seolah melayang, hingga tak peduli dengan begitu banyaknya orang berlalu lalang. Bukan hanya tubuhku yang kehabisan tenaga, tetapi juga jiwaku layaknya telah hilang.


Seperti video yang diputar berulang, otakku tak henti menampilkan kejadian yang membuat hatiku gerimis. Setelah Rezvan dibawa pergi, entah berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk menangis. Hingga matahari mulai bangun dari peraduan, aku baru tersadar bahwa ada seseorang yang harus segera mendapat pertolongan. Aku mulai mengumpulkan sisa tenaga untuk berpikir dan bertindak. Menggunakan ponsel Pak Harjanto yang tertinggal, aku berteriak histeris saat menelepon Dokter Henry untuk meminta bantuan.


Menggunakan sedikit keberanian dan sisa tenaga, aku menarik tabung oksigen dan memasangkan selang pada hidung Bi Iyem setelah bersusah payah menyeretnya keluar. Walau sering melihat kematian saat berdinas, aku tetap tak kuasa melihat mayat Pak Pardi yang meninggal dengan cara sangat mengenaskan. Diiringi tangis yang tak henti keluar, aku berusaha menyelamatkan satu kehidupan yang tersisa.


Entah berapa lama waktu yang berlalu hingga dua mobil polisi dan ambulans datang. Semua terjadi begitu cepat. Bi Iyem segera dibawa ke ambulans, sedangkan jenazah Pak Pardi dimasukkan ke kantong mayat setelah dilakukan olah TKP. Aku pun dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Seperti masuk ke berita kriminal yang biasa ada di televisi siang hari, polisi mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Aku menjawab apa adanya, tentang pukul berapa aku pulang, apa yang terjadi, dan selebihnya. Otakku sampai tak sanggup mengurainya. Terlebih saat mereka menanyakan kemana perginya Rezvan. Astaga! Kalau saja aku tahu, lebih baik aku ikut dengannya daripada sendirian menghadapi rumitnya kenyataan.


Akhirnya, di sinilah aku. Duduk sendiri di ruang tunggu kantor polisi. Tak lagi mengerti apa yang harus kulakukan selain menunggu dalam ketidakpastian.


Namun begitu, aku masih beruntung. Berkat semua ini, aku jadi mengetahui sebuah fakta yang memberikan setitik cahaya kebahagiaan. Cintaku berbalas dan Rezvan telah memintaku untuk menjadi istrinya. Oh, andai saja mataku masih bisa mengeluarkan air, aku tak tahu yang keluar adalah air mata duka lara atau suka cita.


"Kintana!" teriak suara berat laki-laki, membuatku terlonjak.


Sekilas bayangan Rezvan berlatar matahari menyilaukan terlihat berlari menghampiriku. Aku menyipitkan mata seiring detak jantung yang semakin berpacu. Begitu sosok yang memanggilku tinggal berjarak selangkah dari depanku, aku kecewa saat menyadari yang mendekat adalah pria bertubuh kurus dengan kacamata. Naren.


Belum sempat aku bergerak, pria itu langsung menghambur memelukku. Aku tak dapat mengelak, terlebih saat ia membelai rambutku kuat. Di satu sisi aku merasa gamang dengan posisi ini, tetapi di sisi lain aku tak sanggup menghindar.


"Kintana, kamu nggak apa-apa, kan? Saya khawatir banget. Kamu nggak bisa dihubungi. Evan juga," ucapnya dengan napas tersengal. Jemarinya menyingkirkan beberapa helai rambut yang sejak tadi kubiarkan menutupi wajah.