Living with Him

Living with Him
Serpihan 10



Menahan tangis, kuangkat motor yang entah mengapa terasa dua kali lipat beratnya. Tak mudah memang. Tanah yang becek dan licin membuat kakiku tergelincir hingga jatuh bangun berulang kali. Nyeri berkedut sempat terasa saat tulang keringku menghantam mesin motor, tapi tak kuindahkan. Aku harus berhasil keluar dari hutan yang semakin gelap dan sunyi ini.


Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya aku berhasil bangkit sambil menuntun sepeda motor menyebalkan ini menuju jalan raya terdekat. Sambil terus mengutuk kebodohan karena memaksakan diri melewati rintangan Takeshi Castle ini, aku menjaga keseimbangan kendaraan ini. Aku tak peduli walau harus kembali ke jalan terjauh, yang penting aku tidak sendirian. 


Getaran terasa merambat di atas paha kananku, tempat ponsel kuselipkan. Aku berhenti sejenak, memasang standar pada motor yang tak berguna karena amblas termakan tanah. Tak tanggung-tanggung, kuda besi itu jatuh menimpa kakiku hingga terjepit. Sakit. Sekarang aku boleh menangis, kan?


Susah payah kutelusupkan tangan dinginku yang mulai keriput ke dalam kantong celana dan menjepit ponsel dengan jempol dan keempat jariku. Samar kulihat nama Bi Iyem tertera. Kugeser telunjuk di atas tombol berwarna hijau namun tak ada reaksi apapun, hanya percikan air yang membasahi layar. Iya, tanganku basah. Kulap tangan pada bagian celana yang tak basah. Begitu lega rasanya saat aku berhasil menerima telepon dan mendengar suara Bi Iyem di seberang sana.


"Kintan! Kamu di mana? Kok belum pulang?"


"Bibi!" jeritku histeris. "Bibi, motor aku … ban motornya … aku jatuh, Bi!" 


Aku menangis seketika. Tak dapat kubendung lagi sesak yang sedari tadi kutahan. 


"Ya Allah. Kamu jatuh di mana, Tan?" Bi Iyem tak kalah panik. 


"Di …," aku mengedarkan pandangan, "di hutan yang jalan pintas mau ke apotek," ucapku serak.


"Hah? Kamu ngapain lewat situ? Hujan, licin!" pekik Bi Iyem.


Iya, Bi. Aku tahu! Aku memang bodoh. Tolong jangan diperjelas lagi. 


"Bibi suruh Mas Evan jemput kamu, ya!"


"Jangan, Bi. Nggak usah! Aku nggak mau dijemput dia!" tolakku terang-terangan. Biarlah Bi Iyem tahu kalau aku tak suka sama anak Pak Hardjanto itu.


"Terus gimana, Tan? Bibi nggak bisa nyetir mobil buat jemput kamu. Nanti keburu malam!" 


Ucapan Bi Iyem seratus persen benar, tapi egoku tetap tak setuju. Tak dapat kubayangkan berdua saja dengannya setelah pertemuan pertama kami yang begitu memalukan. Apalagi kalau sampai ia memarahiku seperti yang dilakukan pada ayahnya sendiri. 


"Nggak usah, Bi! Aku coba tuntun motor sampe keluar aja. Nanti mudah-mudahan dapat tumpangan," kilahku meyakinkan.


"Hus. Udah kamu tunggu di situ aja. Itu dia Mas Evan." Suara Bi Iyem terdengar samar saat memanggil namanya. Sesaat kemudian sambungan terputus.


Aku menatap kosong pada layar ponsel yang kini menampakkan foto selfie wajahku dengan bibir tersenyum. Sungguh jauh berbeda dengan kondisiku saat ini yang sangat memprihatinkan. Mungkin memang benar kata temanku saat kuliah dulu. Alam suka sekali mem-bully diriku.


Dengan sisa tenaga aku berusaha menyingkirkan motor dari atas tubuhku. Berat. Energiku kini hanya sanggup menggesernya sedikit menjauh sehingga kakiku bisa terbebas. Nyeri hebat terasa di lutut kanan hingga ujung jari, membuatku meringis. Aku mencoba berdiri tapi upaya yang kukerahkan sia-sia. Rasa sakit ini menahanku jatuh terduduk kembali di atas genangan cokelat kehitaman.


Menunggu dalam ketidakpastian seraya menahan nyeri membuat emosi menggumpal di dalam dadaku. Aku tak yakin Rezvan mau mengotori kakinya atau sekadar membiarkan tubuhnya terkena percikan hujan demi menjemputku. Siapa aku? Hanya orang asing yang kebetulan tinggal di rumahnya untuk merawat ayahnya. Manusia angkuh seperti dia pasti hanya memandangku sebelah mata.


Aku tak tahan lagi.


Aku menangis. Aku meraung. Aku berteriak. 


Bukan hanya karena kesialan yang kuhadapi hari ini, tapi juga nasib yang semakin memusuhi. Apa sebaiknya aku mati?