
"Saya kaget banget waktu Om Henry telepon dan kasih tahu semua kejadian yang nimpa kamu. Apalagi waktu beliau suruh jemput kamu di kantor polisi."
Aku tersenyum kaku. Lidahku terasa kelu. Tanpa bermaksud kurang sopan, aku hanya diam dan menunduk. Mataku terasa pedih karena sejak tadi menahan tangis, tetapi kini semua sesak yang kutahan tiba-tiba pecah kembali.
"Sudah. Nggak apa-apa. Kamu aman di sini." Tangan Naren terasa melingkar di bahuku, kemudian menarik kepalaku hingga bersandar di bahunya. Belaian lembut terasa di rambut kusutku, memberikan kehangatan yang cukup menenangkan. Namun satu hal yang membuatku bertanya adalah mengapa tak ada getaran seperti saat Rezvan menyentuhku sebelumnya?
Beberapa saat berlalu hingga aku dapat kembali menguasai emosiku. Jemari Naren mendarat di pipiku untuk mengusap air mata. Ia menyerahkan sebotol air mineral yang langsung kuteguk hingga habis setengahnya. Memintaku menunggu, ia beralih ke dalam kantor tempat tadi polisi menginterogasiku.
Segelitik perasaan bersalah muncul di sudut hatiku. Seharusnya aku bisa menjaga tubuhku dari sentuhan pria lain selama Rezvan tak ada. Saat ini aku sudah berstatus calon istrinya, aku tak boleh membiarkan hati lain menyangka adanya pertanda. Namun aku harus bagaimana? Hanya Naren yang ada di sini, saat aku hanya sendiri memendam lara? Ah, andai saja Rezvan yang memelukku tadi. Entah bagaimana tubuhnya bagai candu bagiku untuk terus dan terus menyentuhnya.
Oh, sekarang pikiranku benar-benar sudah kotor.
"Kinta," panggil Kak Naren membuyarkan lamunanku. Ia duduk di sebelahku, kemudian mengusap tanganku yang sedang tergenggam di atas pangkuan. Otomatis aku langsung menariknya, membuat dia terkejut. "Saya sudah bicara sama polisi, katanya boleh bawa kamu pulang. Saya lihat juga kamu perlu istirahat. Ayo!"
Aku menggigit bibir. Sesungguhnya saat ini aku tak memiliki tempat tujuan untuk didatangi. Terlebih aku tak punya uang dan barang-barangku semua di rumah Pak Harjanto. Aku tak berani kembali ke sana.
"Aku … aku mau ke rumah sakit aja. Mau lihat kondisi Pak Harjanto," ucapku akhirnya setelah terdiam beberapa saat.
Naren kini mengusapkan kedua tangannya di pundakku. "Kamu perlu istirahat, Kintana. Kalau di rumah sakit kamu nggak bisa istirahat. Gimana kalau ke rumah saya aja?"
"Nggak. Jangan ke rumah kamu," tukasku kasar. "Aku mau ke rumah sakit aja!"
Kudengar Naren menghela napas, mungkin malas meladeniku. "Ya udah. Ayo ke rumah sakit. Tapi janji, di sana kamu harus istirahat, ya."
"Iya," sahutku lirih.
Naren berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri, tetapi urung saat dering ponselnya berbunyi. "Sebentar, ya. Om Henry telepon," bisiknya sebelum meneruskan dengan kata, "Halo."
Aku mengangguk dan masih membiarkan bokongku menempel di kursi besi. Kulihat dahi Naren mengernyit dan seketika tubuhnya menegang. Suaranya setengah berteriak saat berkata, "Innalillahi."
Jantungku berdebar demi mendengar kata terakhirnya. Sontak aku berdiri, berharap bisa mendengar percakapannya dengan Om Henry. Sejurus kemudian ia menutup teleponnya dan menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku semakin tak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi, walau dalam hati kecilku sudah sedikit memiliki dugaan.
"Kintana, Om Harjanto meninggal."
Mendengar prasangkaku menjadi nyata, seketika semua terlihat hitam. Nyawaku seolah turut melayang ke alam kegelapan.