
Aku merasa seperti seorang murid yang sedang dijewer Pak Guru. Tubuhku gemetar dan jantungku berlomba. Kandung kemihku tiba-tiba terasa penuh dan sfingternya berusaha menahan aliran urin keluar. Jangan sampai aku pipis di celana, terutama di depannya. Tidak. Tak lagi aku akan mempermalukan diriku sendiri. Walau kuakui, berada di dekatnya lebih menyeramkan dibanding melihat hantu. Yah, meskipun aku belum pernah melihat penampakan itu. Amit-amit.
Kuteguhkan hati demi bisa menebaskan tangan agar cowok itu melepas tarikannya di kepalaku. Aku memasang wajah cemberut dengan mata melotot, kemudian berteriak dengan nada galak. “Apaan, sih?”
Tanpa melihat wajahnya, aku menghentakkan kaki menuju pintu pembatas dapur. Namun bukannya maju, tubuhku malah oleng ke belakang saat telinga kelinciku kembali mendapat gaya tarik yang lebih besar. Tudung di kepalaku tersingkap hingga terasa mencekik leherku.
“Mau kemana, sih? Lagi makan juga. Abisin dulu, tuh!”
Aku mundur selangkah, menghilangkan efek jerat yang bisa membunuhku. Kuputar tubuh dan mendengus kasar ke arahnya. “Nggak nafsu!”
Bukannya melepas, dia malah semakin kuat memegangi telinga kelinciku. Seperti kambing yang diikat, aku diseret paksa hingga kursi. Mau tak mau aku mengikutinya, daripada kehabisan napas. Dia menekan bahuku dan membuatku terpaksa duduk dengan enggan.
“Udah! Abisin dulu makannya. Entar disangka gara-gara gue lo nggak mau makan. Terus sakit, deh. Terus gue diomelin Bi Iyem,” ucapnya seraya menarik kursi di sebelahku dan duduk.
Bahuku naik turun menahan amarah. Wajahku tertekuk dengan bibir mengerucut. Aku bergeming, seluruh ototku seolah membeku. Kenapa sih, orang ini benar-benar mengacaukan hidupku? Sebelumnya aku baik-baik saja. Sekarang, mau makan saja harus diatur dia.
“Ye, malah bengong. Mau disuapin?”
Aku menghela napas panjang, mencoba berdamai dengan keadaan. “Nggak usah!” dengusku kasar. “Kamu ngapain masih di situ?”
Kamu? Aku ingin tertawa sendiri mendengarnya. Yah, itu lebih baik daripada aku bilang lo, bukan?
“Gue mau memastikan lo makan. Gue nggak mau disalahin lagi kayak tadi pagi. Bisa-bisa ada singa ngamuk lagi ke kamar gue,” sindirnya tajam, membuat ulu hatiku tertohok.
Aku bangkit dengan cepat, membuatnya meniru gerakanku. “Kalo masih ngomongin itu, saya pergi aja!” gertakku. Entah kenapa aku jadi berani. Mungkin karena perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Sebelumnya dia menganggapku tak ada, sekarang malah lebih banyak bicara.
Dia tertawa, kemudian kembali menekan bahuku hingga duduk. “Iya. Udah lo makan aja!”
Berhasil! Aku sungguh puas bisa menggertak orang seangkuh Rezvan. Walau sebenarnya bukan masalahnya juga kalau aku tak makan.
Aku tercekat saat mendapati wortel masih berada di tanganku. Kuletakkan di sebelah kanan, kemudian membuka plastik berisi gula merah cair yang masih tergenggam di tangan kiriku dan menuangnya. Tanganku yang gemetar membuat beberapa tetes gula terpercik di atas meja. Mencoba tak menghiraukan cowok yang sedang menggerogoti apel di sebelahku, aku mulai menyuap dengan cepat supaya bisa terbebas dari orang menyebalkan ini. Rasa manis yang seharusnya membuatku bahagia malah berubah menjadi rasa getir yang membuat mual.
“Gue tahu arti nama lo!” ucapnya tiba-tiba, membuatku terhenti. Hei, sejak kapan dia peduli namaku?
“Apa?” tanyaku terpancing. Bahkan, aku sendiri tak pernah tahu arti namaku.
Rasa penasaran membuatku menoleh dan mendapati dia sedang mengunyah tanpa suara. Pandangannya terfokus pada buah yang sudah berlubang akibat gigitannya, seolah apel itu adalah lawan bicaranya.
“Kintana itu bahasa Malagasy, artinya bintang,” jawabnya serius. Dahinya berkerut, seperti sedang berpikir keras. Aku semakin tidak sabar mengetahui filosofi namaku. “Tapi buat lo, cocoknya ditambahin laut. Jadi bintang laut!”
Hah? Yang benar saja.
Rezvan tersenyum, sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak setelah melihatku ternganga di sampingnya. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Sial! Sama sekali tidak lucu. Apa cuma segitu kemampuan humornya? Tapi bodohnya aku malah sempat termakan penasaran tadi. Oh, andai benar-benar ada lubang kelinci di sekitar sini, ingin rasanya aku masuk dan bersembunyi, tak keluar lagi.