
Aku membuka mata dan tak dapat menangkap adanya cahaya. Kurasakan himpitan benda keras di kiri dan kanan tubuhku yang duduk bersila, menekan hingga membuat napasku sesak. Bau anyir menguar dari udara pengap sekitar, membuat perutku bergejolak. Terlebih guncangan dari bawah punggungku semakin menambah rasa mual. Namun, yang meningkatkan adrenalinku adalah kebisingan tanpa rupa. Bak ditelan kegelapan, aku merasa begitu kesepian ditengah suara ramai ini.
Setitik sinar tampak berpendar di sudut terjauh jangkauan penglihatanku. Semakin lama, binar itu semakin terang dan jelas. Sebentuk wajah mulai terlihat samar, hingga leher dan badan besar dengan tangan memegang lilin. Separuh badan itu tampak melayang di udara, di mana tubuh bagian bawah seolah ditelan kegelapan. Biar begitu, desah lega keluar dari mulutku, menyadari bahwa aku tidak benar-benar sendirian.
Seringai lebar mencuat dari kiri dan kanan bibir bayangan yang semakin mendekat. Aku terhenyak kala melihat dua gigi taring bertengger tajam, penuh dengan darah. Wajah yang kini hanya berjarak satu langkah di depanku terlihat jelas. Om Cahyo!
Aku menahan napas, tak sanggup bergerak. Tangan besarnya membelai pipiku, kemudian mencekik leherku. Aku meronta sekuat tenaga, sambil berteriak sekeras-kerasnya. Kini, taring dengan bau amis yang pekat bercampur dengan udara menyentuh leherku. Setiap sendiku terasa kaku, bahkan untuk sekadar menghindar dari serangan vampir berwujud manusia mesum itu. Suaraku juga tak terdengar, walau sekuat tenaga aku menjerit meminta pertolongan. Oh, apa yang terjadi?
Sesosok wanita entah dari mana datang dan mendorong tubuh besar Om Cahyo hingga menghilang ditelan kegelapan. Jantungku yang berdebar begitu kuat, sesaat kembali berirama, menyambut kedatangan malaikat penolong. Namun, kelegaan yang sempat terasa sekejap hilang, berganti dengan lonjakan kelistrikan jantung yang lebih hebat. Wanita bersanggul itu lebih buas, mendorongku hingga terjengkang. Senyum sinisnya hanya dimiliki satu orang di dunia ini. Bu Yatmi. Seperti Om Cahyo, mulutnya penuh dengan darah segar yang menetes ke atas wajahku. Lidahnya menjilat bibir atas, seolah sedang menikmati santapan lezat. Kini dia menundukkan kepalanya, menempatkan taringnya tepat di arteri karotisku.
Menutup mata, aku hanya bisa berdoa dalam hati. Walau sebelumnya aku begitu ingin mati, tetapi merasakannya begitu dekat tetap membuatku ngeri. Saraf Krauseku mendeteksi rasa dingin yang merayap dengan cepat dari tangan sang pemangsa ke seluruh tubuhku. Tak sanggup lagi melawan ketakutan, pita suaraku menyemburkan teriakan.
Seketika wajahku basah dan mataku terbuka. Cahaya silau menyelinap ke dalam pupilku, membuatku menyipitkan mata. Jantung yang masih terpompa keras merangsang dadaku naik turun dengan napas memburu. Aku tercengang menatap sekitar. Kursi berlapis jok kulit berderet tiga membelakangiku. Memutar kepala ke kanan, aku mendapati jendela bening menembuskan pemandangan deretan bus berjajar tak karuan dengan ratusan manusia berkeliaran di sekitarnya. Di sebelah kiriku, sesosok pria berbaju biru telur asin memegang botol air mineral dengan tutup terbuka.
“Mbak! Bangun! Udah sampe terminal!” pekiknya sambil menunjuk plang besar melengkung di atas gapura lebar yang berbatasan dengan jalan raya.
Aku mengerjapkan mata. Apa katanya? Terminal? Aku memijat kepalaku yang terasa berat, berharap bisa menyambungkan neuron di otakku yang sempat terputus. Hmm, terminal, ya. Oh, iya! Astaga! Aku pasti tertidur selama perjalanan!
Sambil meminta maaf, aku memeluk tas ransel biru dan berjalan tergopoh-gopoh turun dari bus. Celingukan, kepalaku menoleh ke kiri dan kanan seperti anak ayam yang kehilangan induk. Tenang, aku harus menenangkan diriku sebelum melakukan langkah selanjutnya. Aku tak peduli walau lalu lalang orang menghalangi pandanganku mencari sebuah tempat untuk berpikir.