Living with Him

Living with Him
Serpihan 56



Selama ini begitu banyak orang yang membenciku, hingga aku tak tahu bagaimana rasanya dicintai. Ternyata begitu indah, seperti lantunan irama merdu yang menghiasi relung hati.


"Terima kasih," ujarku lirih, menutupi gejolak yang membuncah di dada. Aku harus segera mengalihkan emosi ini, khawatir akan meledak karena begitu girangnya.


“Jadi, apa kamu mau pakai cincin ini?” tanya Rezvan menjepit lingkaran emas itu dengan telunjuk dan jempolnya, kemudian menyodorkan padaku.


Hatiku mencelos untuk kedua kalinya. Aku belum dapat memutuskan, terlebih ini menyangkut masa depanku seumur hidup. Perlu pertimbangan masak, bukan hanya sebatas pernyataan cinta yang berujung pacaran. Lebih dari itu, ikatan yang akan dijalani merupakan perjanjian yang menyangkut dunia dan akhirat.


Namun tak dapat kupungkiri, aku sangat menginginkannya. Bersanding dengan pria yang memenuhi hampir semua standar untuk menjadi calon suami. Terlebih jika melihat matanya yang kini menatapku lekat, seolah ingin mengunci hatiku dengan segenap kharismanya.


Aku mendesah. Kurasakan bibirku bergetar saat berbicara pelan. “Aku menghormati Mama kamu, dan terima kasih udah memilih aku untuk jadi pemilik cincin itu. Tapi untuk menikah, aku belum siap. Banyak hal yang harus dipikirin. Maaf."


Tak berani menatap Rezvan, aku menunduk dalam. Mengapa rasanya begitu sakit, menolak sesuatu yang sesungguhnya begitu diinginkan?


"Kintana ...," panggil Rezvan lembut. "Maaf kalau tadi di luar saya spontan minta kamu nikah sama saya. Itu semua karena saat ini, sudah bukan waktunya bagi saya untuk pacaran lagi. Di malam pesta pernikahan itu, saya berjanji satu hal: Ketika diberi kesempatan untuk jatuh cinta lagi, saya ingin serius dan menjadikan perempuan itu istri saya. Tapi kalau kamu belum siap, nggak apa-apa. Kapanpun kamu siap, saya akan ada buat kamu. Untuk sekarang, saya hanya ingin cincin ini melingkar di jari manismu, terlepas kenyataan nanti kita akan menikah atau tidak. Saya berharap cincin ini sudah menemukan rumah yang menurut saya paling tepat untuk dilingkarinya. Bagaimana? Apa kamu mau meminjamkan jari manismu sebagai tempat singgahnya?"


Aku menggigit bibir bawahku. Jantungku semakin berpacu, menarik seluruh darah ke pusat pemompa darah itu hingga ujung tangan dan kakiku terasa dingin. Aku tak ingin menyesal jika menolak, tapi kalau menerima, apakah itu keputusan yang tepat? Ah, aku benar-benar bingung. Menentukan pilihan sulit ini membuatku ingin menangis lagi.


"A-aku … ehm─”


Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Dengarkanlah kesungguhan ini


Suara vokalis band yang terdengar sangat dekat memotong kata-kataku. Aku menoleh ke sumber lagu Janji Suci yang dipopulerkan Yovie n Nuno itu mengalun. Terang saja, pria bertopi bucket itu hanya berjarak dua meja dari tempat kami duduk. Tangannya menengadah ke arah kami, sambil melanjutkan lirik dengan syahdu.


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur


'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Aku dan Rezvan saling bertukar pandang. Sepertinya dia juga terkejut dengan kehadiran tiba-tiba cowok yang menyanyikan lagu untuk kami. Terlebih saat suara riuh turut memenuhi seantero kafe dengan pekikan juga suitan panjang.


“Terima … terima … terima!”


Tubuhku terasa lemas. Kini semua yang tadi memandangku sebelah mata, berbalik menyorakiku. Semua berdiri bertepuk tangan sambil tersenyum ke arah kami. Sang penyanyi melantunkan bait terakhir dengan penuh penekanan.