
"Setelah ini, kamu mau bayarnya gimana, Kintana? Kamu nggak mungkin selamanya kerja di sini, kan? Kalau kamu pakai uang saya, kamu bebas mau kembalikan kapan aja," jelasnya rasional.
Aku menggeleng keras. "Nggak, Mas Naren. Saya nggak mau melibatkan banyak orang untuk masalah ini. Tolong bantu ajukan pinjaman di bank aja."
Naren mendesah. "Ya udah kalau kamu maunya begitu. Nanti akan saya usahakan, ya," ucapnya tersenyum diiringi anggukanku. "Tentang ayah kamu, apa kamu punya fotonya? Saya punya teman detektif swasta. Dia bisa cari ayah kamu."
Tubuhku menegang demi mendengar kemungkinan bahwa aku bisa bertemu lagi dengan pria yang telah menghancurkan hidup keluargaku. Tentu saja aku ingin bertemu. Aku ingin dia setidaknya bertanggung jawab membantu meringankan bebanku.
"Kenapa? Kamu nggak mau ketemu ayahmu?" tanya Naren.
"Mau!" sahutku cepat. "Tapi … saya takut."
"Nggak apa-apa. Kalau saya bisa, nanti saya temenin."
Alarm ponselku berbunyi, menandakan waktu pemberian makan dan obat pasienku telah tiba. Aku pamit pada Naren, tapi ternyata dia mau ikut bertemu dengan Pak Harjanto. Kami beranjak menuju pintu samping yang hanya berjarak lima langkah dari tempat kami duduk. Dia hendak menyeka air mata yang tersisa di wajahku, tapi dengan cepat aku usap dengan lengan baju.
Aku tersentak begitu mendapati Rezvan sedang duduk di sofa samping jendela terbuka yang berhadapan dengan tempatku dan Naren duduk tadi. Dia menatap kami, kali ini bukan dengan ekspresi tegang seperti biasa. Raut wajahnya lebih lunak, walau tetap ada kesan mengintimidasi yang terpancar dari mata hitamnya. Apa dia mendengar semua pembicaraan kami tadi? Entahlah. Toh dia tidak akan pernah peduli.
Tak mengacuhkannya, kami terus berjalan hingga kamar Pak Harjanto. Pria tua itu begitu riang menyambut Naren. Ternyata bukan hanya hatiku yang terasa hangat bersamanya. Orang lain juga merasakan hal yang sama.
Pak Harjanto menitipkan satu amplop berkas pada Naren untuk diberikan ke Om Cahyo. Menurutnya, seharusnya pengacara keluarga itu datang hari ini, tapi ternyata tak ada kabar darinya. Ia berpesan agar dokumen cepat selesai supaya esok atau lusa bisa dilakukan penandatanganan. Naren menyanggupi dan akan membantu ayahnya agar pekerjaan cepat selesai dan lusa dia bisa datang lagi ke sini. Matanya mengerling padaku saat mengatakan itu.
Naren pamit dengan alasan tidak ingin menggangguku bekerja. Aku mengantarnya hingga tempat dia memarkir mobil. Tak lupa kami saling bertukar nomor ponsel. Setelah mengucapkan salam perpisahan, pria bertubuh ramping itu melajukan mobilnya dan terus melambaikan tangan hingga tak terlihat di tikungan.
Saat hendak masuk, aku melihat Rezvan berdiri di depan pintu rumah sambil bersidekap. Tingkahnya seperti seorang ayah galak yang menunggu anak gadisnya berkencan. Matanya tak henti mengawasi gerak-gerikku, membuatku salah tingkah. Tak ingin bersitatap dengannya, aku berlari memutar lewat pintu belakang. Aku tak habis pikir, mengapa dia menjadi seperti penguntit, selalu ingin tahu urusan orang?