Living with Him

Living with Him
Serpihan 53



Lagi-lagi aku terbelalak. Tanganku mengepal erat, ingin sekali menjambak rambutnya. Tak kusangka pria yang kupikir terhormat ini berotak seperti Om Cahyo.


“Kamu kurang ajar banget, ya? Dasar mesum! Tadi cium orang sembarangan, terus peluk-peluk tanpa persetujuan. Aku masih diam aja karena ngehormatin kamu. Tapi sekarang kamu udah kelewatan! Nggak sopan! Jahat! Mesum!”


Aku berteriak-teriak sambil memukulkan tasku ke badannya berkali-kali. Dia tampak terkesiap. Tangannya menahan hantaman tasku, membuatnya melepas stir hingga mobil berbelok tak tentu arah. Menyadari tindakanku berbahaya, aku menghentikannya. Bersedekap, aku membuang wajah yang sudah berkerut seraya menahan api amarah yang seketika tersulut.


Rezvan berbelok ke parkiran deretan ruko yang tak terlampau ramai. Ia menghentikan laju mobilnya mendadak.


“Bu-bukan begitu, Kintana. Maksud saya, sudah malam. Apa kita nggak sebaiknya istirahat dulu? Di hotel atau di mana gitu. Beda kamar. Kamu pasti capek,” jelas Rezvan tergagap. Kulirik sekilas dan terlihat wajahnya berubah pucat.


“Aku mau turun di sini!” pekikku membuka pintu mobil, “terima kasih karena udah bersedia datang. Tapi aku nggak mau kalau cuma dijadikan objek untuk pemuas nafsu setan!”


Aku keluar dan membanting pintu dengan keras. Kakiku menghentak aspal yang basah dengan keras, mengusik genangan menjadi cipratan di celana baruku. Seluruh tubuhku terasa panas di tengah udara malam yang dingin pasca hujan lebat sore tadi. Tak kuhiraukan teriakannya yang menyebut namaku berulang kali.


Seperti jin yang bisa berteleportasi, Rezvan sudah berdiri menghadangku. Tatapan tajam kuhujamkan pada matanya, sebelum bergeser menghindarinya. Dia menarik tanganku, yang serta merta kutepis dengan kasar.


"Kintana, maaf," ucapnya keras.


Malas meladeni, aku berlari menjauh. Namun kecepatan kakiku tak sepadan dengannya. Dia kembali berhasil menghadangku.


"Maaf tadi saya salah bicara. Saya juga nggak cium kamu. Saya cuma usap bibir kamu pakai jari. Kalau kamu marah karena itu semua, saya benar-benar minta maaf," jelasnya parau. “Saya memang ingin mencium kamu. Tapi nanti, kalau kamu sudah menikah dengan saya.”


Wajahku terasa panas mendengar semua kata-katanya, begitu pula otakku yang tak sanggup berpikir. Kemarahan yang terakumulasi dengan rasa malu berhasil menyulut emosiku.


Rezvan terdiam. Aku jadi teringat kisah cintanya yang baru saja kandas. Apa ucapanku keterlaluan?


“Kintana,” sahutnya pendek, di luar perkiraanku. Jantungku seperti melompat mendengarnya. Tak mungkin itu aku. Berapa banyak manusia yang memiliki nama itu di dunia ini? Yang pasti bukan aku. Aku tak boleh menyerah dan takluk oleh godaan cowok sialan ini.


"Hah? Kintana? Kintana siapa?" sindirku tajam sambil menengok ke kiri dan kanan.


“Kintana Cahyaningrum, gadis yang lahir tanggal 29 Februari, dua puluh tujuh tahun yang lalu. Anak pertama dari tiga bersaudara yang kuliah di FIK UI dengan IPK Cumlaude. Hobinya baca novel romance sambil makan lolipop dan nangis di pojokan. Dia perawat yang andal dan terampil, juga care. Dan yang pasti, dia bikin saya jatuh cinta pada pandangan pertama."


Desir hebat menjalar di setiap jengkal pembuluh darahku, bersama angin membuat seluruh tubuhku gemetar. Seperti ada hujan bunga warna-warni yang merasuki hatiku. Rasa apa ini? Begitu manis, laksana bibirku dipenuhi madu.


"Ngo-ngomong apa, sih? Nggak jelas!" pekikku salah tingkah. Aku berbalik membelakanginya, menyembunyikan perubahan wajahku yang kini entah berbentuk seperti apa. Memejamkan mata dengan erat, kunikmati setiap buncahan rasa yang menggelitik manja.


Tunggu dulu! Kalau dia bilang jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama, itu artinya saat dia melihatku hanya berbalut handuk tempo hari. Astaga!


Jantungku seolah berhenti berdetak saat sebuah cincin bermata biru tergeletak di tengah telapak tangan besar. Pantulan cahaya lampu jalanan membuat kilaunya terlihat begitu indah.


Aku memutar tumit dan mendapati Rezvan berada tepat di belakangku. Mundur selangkah, kudengar bisikan yang membuat perutku mulas seketika.


"Will you marry me?"