
Setelah meletakkan jas hujan beserta payung di bawah kursi belakang, aku mengulangi kegiatan menaikkan tubuh ke atas jok dengan sekuat tenaga. Tak ada sedikitpun rasa iba atau sekadar empati darinya melihatku terpincang seperti ini. Ia malah memutar musik dengan keras, kemudian menggoyangkan kepala menikmatinya. Setelah kubanting pintu dengan keras, baru ia mulai menekan pedal gas dan mobil pun melaju membelah kesunyian hutan.
Aku tak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan. Malas. Seluruh tubuhku lelah dan aku tak ingin berdebat atau merasa kesal mendengar ocehan menyebalkannya. Lagi pula, rasa dingin yang merayap dari tubuh yang basah berpadu dengan udara dari AC seolah membekukan setiap jengkal sarafku. Begitu pula mulut dan lidahku yang semakin kelu. Hanya saraf auditoriusku yang kini bekerja, menghantarkan suara merdu Axl Rose yang menyanyikan lagu November Rain ke dalam otakku.
If we could take the time
To lay it on the line
I could rest my head
Just knowin' that you were mine
All mine
So if you want to love me
Then darlin' don't refrain
Or I'll just end up walkin'
In the cold November rain
Suara berat pria di sebelahku turut mendendangkan salah satu lagu dari band Guns N' Roses itu. Harus kuakui, suaranya cukup enak didengar. Kalau saja orangnya tak menyebalkan, aku pasti akan dengan senang hati melontarkan pujian padanya.
"Nggak bilang terima kasih, nih?" sindirnya saat kami sudah tiba di jalan raya yang lengang.
Aku melirik sebal melalui ekor mata. Haruskah pembicaraan pertama kami dilalui dengan sindiran tajam seperti itu?
"Ehm … iya ... terima kasih, Pak," cicitku seperti tikus terjepit.
Dia berdecak keras sebelum menjawab. "Pak lagi, Pak lagi. Nggak ada panggilan lain yang lebih normal apa?"
Terus apa? Masa dipanggil Om? Atau Mamang? Apa mau dipanggil Beb? Hah? Bikin mual saja.
Entah mengapa sudut bibirku tersenyum tiba-tiba. Aku benar-benar lupa dan … tegang. Hei, dia bukan siapa-siapa. Aku tak perlu takut menghadapinya.
"Iya, Kak," sahutku kemudian setelah otakku berdebat sendiri.
"Kakak? Emang gue kakak lo?"
Aku memalingkan wajah, tanpa sadar melotot ke arahnya. "Terus apa?"
"Terserah," sahutnya datar.
"Bodo amat!" desahku dalam hati. Uh, aku kesal bukan main. Lama-lama aku panggil Mbah saja sekalian!
"Tadi siapa nama lo?"
Baru saja aku ingin istirahat, suaranya kembali menyentak gendang telingaku. Dengan malas aku menjawab pelan. "Kintana."
"Siapa?" ulangnya menedengkan telinga.
"Kintana!" jeritku geram. Entah segalak apa wajahku saat ini.
"Oh, Kintana." Dia manggut-manggut. "Baru dengar nama kayak gitu."
Aku tak dapat membantah. Nama pemberian ayahku itu memang jarang dipakai. Tapi toh, aku tak pernah peduli.
Hawa dingin semakin membuat ngilu setiap persendianku. Kugosok-gosok telapak tangan, menciptakan sedikit gesekan untuk menimbulkan panas, kemudian meniupnya. Mataku terus mengawasi jalanan, sebentar lagi belokan tajam menuju tanjakan curam tempat rumah Pak Hardjanto berada.
Bruk!
Sehelai kain tebal berbahan jeans mendarat tepat di wajahku. Aroma maskulin terendus melalui saraf olfaktorius hidungku, terus merayap hingga otak. Aku menoleh kasar dan melotot pada cowok di sampingku yang kini tersenyum mengejek.
"Pake, tuh! Kedinginan, kan?" perintahnya.
Ya tapi apa harus dilempar begitu? Benar-benar tidak sopan!
Tak kuacuhkan rasa kesalku yang semakin memuncak. Kehangatan jaket tebal ini sangat menggoda bagi tubuhku yang kedinginan, walau tak dapat menghilangkan basah di bajuku. Setelah mengenakannya secara terbalik dan asal, aku menyesal karena merasa seperti dipeluk seorang laki-laki.
Apa memang begini rasanya?
Hangat, nyaman, dan terlindungi.
Rasa penat dan lelah semakin menggeregoti setiap jengkal tubuhku. Tak butuh waktu lama untuk kelopak mataku menutup. Seketika pemandangan berubah menjadi rerumputan hijau terbentang. Aku merebahkan badan di atasnya, menikmati kelembutan sinar mentari yang menghangatkan. Kupalingkan wajah dan senyumnya menyambutku dengan penuh ketenangan. Lengan kekarnya mendekapku, memberikan kenyamanan yang selama ini belum pernah kurasakan. Bisikan lembut keluar dari bibirku menyebut namanya pelan.
Rezvan.