
Kuncup bunga mawar yang tersimpan di hatiku perlahan mekar berkat ucapannya. Warna merahnya mengisi kulit pipiku hingga merona. Menutupi debaran jantung yang semakin meningkat, aku berdehem dan menyuruhnya duduk.
"Ehm … Mas Naren, aku … aku mau tanya tentang …,"
Aku terdiam. Bingung, bagaimana harus mengatakan. Bagaimanapun, Naren adalah orang yang baru semalam masuk ke kehidupanku. Apa pantas menyulitkannya untuk masalah yang sangat sensitif ini?
"Kenapa, Dek Kinta? Mau tanya tentang saya sudah punya pacar atau belum?" tanyanya, membuatku terbelalak. "Tenang saja. Saya masih single bin jomblo, kok."
Bicara dengan Naren selalu membuatku tertawa. Dia seolah tak kehabisan kata-kata untuk mencairkan suasana.
"Bukan," sergahku menggelengkan kepala. Telunjukku saling beradu dan mengitari satu sama lain, memberikan jeda untuk berpikir. "Saya mau tanya tentang … ehm, pinjaman uang. Saya butuh uang."
Naren tampak terkesiap. "Loh, kenapa? Gaji kamu kurang di sini?"
"Nggak … bukan begitu," ralatku tak ingin ada kesalahpahaman. "Saya butuh uang banyak dan cepat."
"Kamu lagi ada masalah?" tanyanya seraya mencondongkan tubuh ke depan.
Aku mengangguk sambil menunduk. Meneguhkan hati, aku mejaga kelenjar lakrimal agar tidak mengeluarkan air mata. Tidak untuk saat ini.
"Ada masalah apa, Dek Kinta. Coba cerita sama Mas," pancingnya lembut, membelai hatiku. Dia meraih tanganku yang terlipat di atas meja, kemudian mengusapnya. "Mungkin saya bisa bantu, atau mencari cara untuk bantu kamu."
Membuka hati, aku mulai menceritakan tentang kondisiku. Bagaimana hidup begitu membenciku, terlilit utang yang uangnya tak pernah kunikmati. Habis tak tersisa di meja judi. Belum lagi teror dari penagih utang yang terus menghantui. Hingga berita terbaru, tenggat penyitaan rumah kami dimajukan tinggal seminggu lagi. Mulutku terus bergerak sendiri, berbicara tentang keberadaan ayahku yang menghilang bagai ditelan bumi.
Tangis mulai tumpah ruah membanjiri pipiku. Sesak di dada yang sebelumnya terkumpul kini pecah, berubah menjadi isak yang tak tertahan. Aku tak dapat menguasai diri yang kini sepenuhnya dikendalikan emosi. Kepalaku tertunduk dan bertumpu di atas lipatan tangan di atas meja, supaya aku bisa mengeluarkan seluruh air mata dan rasa sakit yang tak kasat mata.
Belaian lembut di rambut membuatku tersadar. Aku segera mengangkat wajah yang pasti kini tampak menyedihkan. Kuseka air mata dengan lengan baju, mengembalikan topeng di wajah yang sebelumnya sempat terlepas.
"Maaf, saya nangis," lirihku seraya tersenyum kaku. Aku mencoba tertawa, menertawai nasib sialku. Namun yang keluar malah gelak palsu.
"Kamu nggak usah minta maaf untuk menangis, Kintana," ucap Naren. "Nggak peduli kamu perawat, atau profesi apapun, tak ada yang bisa menyangkal kalau kamu tetap manusia. Kamu bebas untuk nangis, nggak ada orang yang bisa melarang."
Bibirku menyunggingkan senyum. "Ehm … makasih," desisku nyaris tak terdengar.
"Saya akan coba bantu kamu, Kintana. Saya bisa pinjamkan setengah dari utang kamu, sisanya kita bisa ajukan pinjaman bank. Tentang …."
"Jangan!" tukasku membuat Naren tersentak. "Maksudku, makasih Mas Naren mau pinjemin uang. Tapi semuanya ajukan ke bank aja. Saya nggak mau ngerepotin lebih banyak lagi."
"Setelah ini, kamu mau bayarnya gimana, Kintana? Kamu nggak mungkin selamanya kerja di sini, kan? Kalau kamu pakai uang saya, kamu bebas mau kembalikan kapan aja," jelasnya rasional.