
Jeritanku mampu membuat pria berjaket biru tua itu tersadar. Matanya yang semula terbelalak seketika berkedip. Dengan satu gerakan kilat, ia berbalik dan membanting pintu.
Tanganku melingkar di depan dada dan memeluk tubuhku rapat. Seketika aku berjongkok, memeras raut wajah menjadi kerutan. Jantungku berlompatan, degupnya seolah menembus tulang rusukku. Oh, apa yang terjadi? Semua begitu cepat sehingga aku berharap kejadian memalukan tadi hanyalah mimpi yang tak nyata.
Ya Tuhan, aku malu!
Setitik air turun dari sudut mataku. Baru kali ini aku merasa seperti ditelanjangi oleh pria tak dikenal. Bulu kudukku bergidik, menyadari kalau ini pertama kalinya seorang cowok melihat sebagian besar tubuhku. Padahal, tak pernah sekalipun aku memakai baju yang terbuka dan terlihat. Aku hanya ingin mempersembahkannya pada suamiku. Bukan pada laki-laki tak tahu malu yang sembarangan masuk ke kamar seorang gadis.
Dering ponsel kembali mengagetkanku. Sepertinya penting, karena sang penelepon tetap gigih menghubungi walau sempat tak kuacuhkan. Seluruh persendian tubuhku terasa kaku saat aku mencoba berdiri, seolah sudah seminggu aku berjongkok. Seperti mengawang, aku berjalan menuju rak tempat ponselku berada.
"Halo. Ada apa, Bu!" sapaku saat sudah meraih benda persegi panjang itu.
"Kintan! Tan!" teriak wanita di ujung sana.
"Ibu? Ada apa, Bu?"
"Kintan!" Suara tangisan menelusup gendang telingaku. "Tan, Pak Dobleh datang lagi!"
Aku menelan ludah. Bukankah baru seminggu yang lalu?
"Memang Ibu belum bayar? Kan udah Kintan kirim uangnya," sahutku menjaga nada suara setenang mungkin.
"Ibu … Ibu baru bayar setengahnya, Tan," ujarnya terbata, membuatku curiga.
"Sisanya?"
Hening sejenak. Hanya desahan napasku yang memburu seolah terpantul dari dalam telepon.
"Kamu pikir Ibu habis-habisin uang kamu? Kamu kan tau, Ibu harus bayar uang sekolah Satria sama Tara. Belum lagi uang makan, uang jajan adikmu. Ibu juga harus bayar arisan, seragam pengajian. Kalau nggak ikut kumpul kan Ibu nggak enak. Kamu mau Ibu jadi buruh tani lagi, padahal anaknya sudah jadi perawat di kota?"
Perawat di kota? Hah? Tempat ini lebih terpencil dibanding kampungku dulu.
"Bukan begitu, Bu …." sangkalku yang langsung berhenti begitu Ibu menyambar.
Sesendok air jeruk nipis seolah dituangkan ke rongga luka di hatiku. Perih.
Mengusir sesak yang mengganjal tenggorokan, aku berdehem sebelum menjawab kata-kata tajam ibuku. "Memang sekarang utangnya sisa berapa? Kita kan sudah bayar dari Kintan mulai kerja."
"Masih lima ratus juta, Tan. Uang yang kamu bayar nggak seberapa sama utang dan bunganya!" pekik Ibu. "Tadi Pak Dobleh datang ke sini, ancam Ibu! Katanya kalau tiga bulan nggak lunas, rumah kita disita! Kita mau tinggal di mana?"
Lima ratus juta? Rumah disita? Oh, apa aku boleh pingsan sekarang?
"Tan? Kamu masih ada uang, kan?" Suara Ibu melunak, membuatku tak sampai hati mengungkapkan amarahku. Bukan pada Ibu semata, tapi pada hidup yang seakan memusuhiku.
"Uang Kintan udah ditransfer semua ke Ibu," jawabku lirih, menahan isak. Aku tak ingin Ibu khawatir, walau rasanya hanya sepersekian persen kemungkinan ia peduli padaku.
"Apa Ibu pinjam sama Juragan Wahyu, ya? Paling nggak untuk bayar bulan--"
"Jangan!" potongku cepat. Sudah cukup perkara utang di Pak Dobleh, jangan lagi menggali lubang di tempat lain. Terlebih Pak Wahyu. Meminjam uang padanya sama dengan menjual diri. Apa Ibu belum jera pernah digosipkan satu kampung memiliki skandal dengannya?
"Terus gimana?" tuntut Ibu, "besok Pak Dobleh datang lagi."
Aku mendesah. Walau tak yakin pada kata-kataku sendiri, aku akhirnya berucap, "Kintan coba cari uangnya. Ibu jangan pinjam uang Pak Wahyu, jangan berhubungan lagi sama dia."
"Ibu nggak ada apa-apa sama dia!"
"Bu! Kintan bukan anak kecil lagi. Kintan udah ngerti mana yang baik dan nggak. Pak Wahyu udah punya istri dua, jangan sampai Ibu dianggap macam-macam sama tetangga!"
Ibu terdiam. Sesungguhnya aku menyesal telah mengucapkan ini, tapi aku tak bisa lagi membiarkan Ibu menjadi target nyinyiran warga sekampung. Sudah cukup Bapak yang dicap tukang judi, jangan sampai Ibu juga diberi label pelakor.
"Ya sudah. Ibu tunggu uangnya besok ya! Kamu jaga diri di sana," tutup Ibu sebelum mematikan ponsel.
Aku kembali terisak, memuntahkan sesak yang sejak tadi kutahan. Terlahir dengan utang di tangan, memiliki orang tua yang tak lebih dewasa dariku, serta menanggung beban hidup dua adik yang sedang berupaya menggapai cita. Beruntungnya aku masih punya otak hingga bisa menyelesaikan kuliah dengan biaya minimal karena mendapat beasiswa. Kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah menjadi wanita simpanan lelaki kaya.
Ah, mungkin ada benarnya kata-kata Bu Yatmi tadi. Mengapa aku tak memanfaatkan situasiku ini? Menjadi istri siri pria tua dengan penyakit terminal membuatku bisa saja mewariskan harta kekayaannya. Dan uang? Hah, aku hanya tinggal menghamburkannya.