
Kami naik tangga menuju lantai dua, terus melewati koridor yang dibatasi pagar dan pintu-pintu tertutup. Wajahku terasa panas saat ingatan tentang kemurkaan bodohku pada Rezvan berkelebat. Oh, semoga memori cowok di depanku tak memutar kejadian memalukan itu.
Rezvan berhenti di pintu yang terletak di ujung selasar. Dia membuka gagang pintu kemudian menghilang di balik ruangan. Sejurus kemudian dia kembali di depan ruangan dan berdiri menungguku. Jarakku masih terpaut sepuluh langkah di belakangnya. Sebelum dia sempat berkomentar, aku mempercepat jalanku hingga tiba di depan pintu.
Mulutku ternganga melihat deretan gaun beraneka bentuk terpajang rapi di lemari kaca. Begitu pula etalase berisi tas beragam bentuk yang kutaksir berharga ratusan juta. Tak lupa sepatu dan sandal dari mulai dari flat shoes hingga high heels setinggi 10 cm.
"Pilih aja yang mana cocok buat lo," ucap Rezvan menyadarkanku dari ketakjuban.
Aku menatapnya tak percaya. "Ini banyak banget! Bagus-bagus banget!" pekikku histeris sampai lupa kalau harus menjaga sikap di depannya.
"Iya, semua punya Mama. Papa nggak ngizinin siapapun masuk ke sini selain lo. Jadi lo harusnya bersyukur!" cetus Rezvan sinis, tapi tetap membuatku tersanjung.
"Ehm … iya, terima kasih," gumamku terharu.
"Lo siap-siap aja dulu. Gue tunggu satu jam lagi. Jangan lama-lama dandannya!" pesan Rezvan diiringi anggukan semangatku. Sekilas kulihat dia mengulum senyum, mungkin terlalu gengsi jika menampakkannya.
Antusiasmeku mendadak muncul saat teringat cita-citaku sebenarnya dulu yaitu menjadi perancang busana. Semua itu kandas saat Ibu bersikukuh menyuruhku melanjutkan studi di bidang keperawatan. Tapi tak apa, aku mulai belajar mencintai apa yang telah menjadi takdirku. Namun tetap saja aku tak bisa menghilangkan gairahku jika melihat pakaian bagus sambil membayangkan aku yang membuat desainnya.
Aku berputar di tengah ruangan, tak tahu harus mulai darimana. Rasanya ingin kucoba satu per satu dan berfoto dengan semua gaun itu. Kapan lagi bisa ke tempat laksana butik gratisan ini?
Sehelai gaun berwarna khaki yang lembut menarik perhatianku. Bahannya terbuat dari perpaduan antara brokat dan tile, dengan dilapisi sutra yang lembut. Bagian bawah lebar, dengan tali pinggang yang membuat pinggang kurusku semakin langsing. Dengan panjang rok selutut dan lengan seperempat membuatku akan leluasa bergerak tanpa harus terlihat terlalu seksi.
Selesai memilih gaun, aku mengambil tas tangan berhias permata dengan warna setingkat lebih cerah dari bajuku. Tak lupa sandal hak tinggi bertali yang mungkin pernah eksis di masanya. Aku mengambil beberapa penjepit rambut berlian dan topi kecil sebagai pemanis penampilan. Merasa puas dengan pilihanku, aku membawa semua barang ke kamarku dan segera mandi.
Aku memulas make-up seadanya yang aku bawa (dan aku punya). Dimulai dari pelembab, foundation ringan, baru kemudian bedak. Kusisir alis dan mulai mengukirnya dengan pensil. Kelopak mataku tak luput dari eyeshadow berwarna cokelat. Tak membawa penjepit bulu mata dan maskara, aku hanya menggoreskan eyeliner di bagian atas mata. Tanpa blush on, aku memulaskan lipstik merah muda sebagai sentuhan terakhir. Oh, iya, aku akhirnya memilih penjepit rambut berlian dan membiarkan rambutku tergerai karena bingung harus menatanya seperti apa.
Ketukan keras di pintu kamarku membuatku terkejut saat sedang mematut penampilanku di cermin. Aku berteriak pada pengetuk untuk menunggu sementara aku memasukkan ponsel dan dompet ke tas tangan. Terburu-buru, aku menyesal telah memilih sepatu bertali yang menyusahkan ini.
“Woi! Lama banget, sih!” teriak seseorang dari luar kamar, yang sudah pasti adalah Rezvan.
“Iya, sebentar!” balasku tak kalah keras. “Bawel!” tambahku pelan.
Setelah beberapa saat berkutat dengan sepatu, aku tergopoh-gopoh berjalan keluar. Kutarik gagang pintu dengan kuat, sementara tangan Rezvan masih saja menggedor. Alhasil, tangannya malah mengetuk batok kepalaku dengan keras. Sakit!
Gagal sudah adegan di film romantis saat si cowok terpesona dengan penampilan sang aktris yang sudah berdandan rapi.