Living with Him

Living with Him
Serpihan 19



Rezvan datang dari arah dapur dan langsung menghampiri pria gendut di sebelahku. Lengannya terentang dengan tawa lebar, kemudian memeluk dan menggenggam tangan besar yang sebelumnya menarik tanganku. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menghindar. Syukurlah Rezvan datang di saat yang tepat. Kalau dibandingkan, ternyata tingkah galak dan menyebalkannya masih lebih baik daripada godaan mesum yang menjijikan. Tapi tetap saja aku tak akan mengucapkan terima kasih.


 


 


“Rezvan … Rezvan. Makin besar saja kamu!” Dua tangan Om Cahyo menepuk-nepuk bahu Rezvan dan meremasnya. “Ganteng ya kamu sekarang. Gimana cewek-cewek di Jerman? Seksi-seksi, kah? Sudah habis berapa kamu?”


 


 


Aku mundur perlahan, sebisa mungkin tanpa suara. Cepat-cepat aku menuju kamar, supaya tak terjebak lagi. Namun begitu, telingaku masih mendengar percakapan dari dua orang mesum di belakangku.


 


 


“Hah? Habis, Om? Emang Evan kanibal?” sahut Rezvan menimpali candaan yang sama sekali tidak lucu.


 


 


“Wah, sayang banget kamu, Van. Masih muda, masih kuat, nikmati dululah,” pesan Om Cahyo mengompori. “Om saja ini, masih kuat semalaman penuh!”


 


 


Niatku untuk segera kabur terhalang oleh derit pintu yang berbunyi nyaring. Dari belakang, kudengar Om Cahyo berteriak memanggil namaku.


 


 


“Hei, Kintana! Mau kemana, Manis? Temani Om dululah sini …!”


 


 


Aku berbalik sekadar hendak menutup pintu. Om Cahyo melambaikan tangan memanggilku, seolah aku adalah wanita murahan yang bisa dibayar untuk memperoleh kesenangan.


 


 


“Udahlah, Om! Biarin aja. Urusan kita lebih penting dan genting, nih! Ayo cepat ketemu Papa!” ajak Rezvan menggandeng lengan besar Om Cahyo menuju kamar sebelah.


 


 


Kututup pintu dengan keras bersamaan dengan kalimat terakhir dari Rezvan yang kudengar. Aku bersandar di balik pintu, terus merosot hingga jatuh terduduk dengan kaki tertekuk. Kugunakan lutut untuk menopang lengan yang menutupi mata. Rasa kesal bertumpuk di dadaku, membuat bulir air mata mengalir deras. Aku tak mau dianggap wanita simpanan dan dilecehkan. Aku benci posisiku yang tak berani melawan karena tak ingin kehilangan pekerjaan. Aku mau pulang.


 


 


Tidak. Sama saja. Keadaan di rumahku sendiri tak akan lebih baik. Aku hanyalah anak tukang judi, apa yang bisa diharapkan selain utang yang menggunung? Yang ada hanya akan menjadi bulan-bulanan penagih utang yang tak kenal belas kasihan.


 


 


Tunggu dulu. Penagih utang?


 


 


 


 


Deretan notifikasi masuk memenuhi layar. Aku langsung membuka pesan yang dikirimkan Ibu. Isinya hanya tulisan perintah untukku mengangkat telepon. Tanpa pikir panjang, aku menelepon Ibu dan tak butuh waktu lama hingga aku mendengar suaranya.


 


 


“Kamu kemana aja, sih? Dari pagi teleponnya mati?” semprot Ibu tanpa sapaan sopan khas telepon.


 


 


Aku menghela napas, menjaga nada suara agar tak balik membentaknya. “Kintan abis jatuh dari motor, Bu, semalam.”


 


 


“Kamu udah ada uangnya?”


 


 


Bibirku tersenyum kecut. Tak ada apapun yang lebih penting di otak Ibu selain uang. Bahkan keselamatanku tak pernah masuk perhitungannya.


 


 


“Belum,” jawabku lirih menahan tangis.


 


 


“Gimana, sih? Kemarin kan kamu udah janji?” tuding Ibu membuatku sesak. “Ya udah, Ibu pinjam Pak Wahyu aja!”


 


 


“Terserah!” sahutku muak. Aku tak peduli lagi mau dikata apa Ibu oleh warga sekitar.


 


 


“Kok kamu ngomongnya gitu sama Ibu?”


 


 


Karena Ibu nggak peduli aku! Ibu cuma peduli uang aku!


 


 


Aku tak sanggup mengatakan apa yang ada di pikiranku. Hanya isakan yang keluar mengiringi tangis tak terbendung. Mungkin inilah yang dirasakan Spiderman saat venom hendak menjalari tubuhnya. Terlalu muak untuk menjadi orang baik.