
"Bapak nggak apa-apa. Masih sama Pak Cahyo, Tan!" seru Bi Iyem membuatku yang sedang menjulurkan tangan untuk memutar gagang pintu berhenti. "Tolongin Mas Evan dulu! Darahnya banyak banget!"
Aku bergidik mendengarnya. "Emang kenapa, sih, Bi? Kenapa tangannya berdarah?"
"Dia nonjok kaca sampe pecah begini!" isak wanita tua itu, membuatku iba. "Bibi nggak tau kenapa, tapi Bibi takut tangannya sakit soalnya berdarah. Nggak biasanya Mas Evan kayak gitu."
Kakiku terasa begitu berat untuk melangkah. Seharusnya aku sigap memberikan bantuan pada orang yang terluka. Tetapi entah kenapa, bertemu lagi dengan Rezvan membuatku enggan. Terlebih setelah dia melihat Om Cahyo memperlakukanku seperti tadi. Aku tak ingin dia menganggapku wanita yang mudah bersentuhan dengan laki-laki.
Mengutamakan dorongan nurani daripada rasa benci, aku akhirnya bergerak untuk mengambil alat pertolongan pertama di kotak P3K. Sebenarnya tak terlalu lengkap, lebih banyak di kamar Pak Harjanto. Tapi aku tak mau masuk ke sana selama Om Cahyo masih ada. Kali ini tak ada Rezvan yang akan menyelamatkan situasiku.
Tunggu dulu. Sebelumnya Rezvan telah banyak menolongku. Mulai dari kecelakaan di hutan, hingga secara tidak langsung membantuku kabur dari pria mesum tadi. Lantas, mengapa aku masih ragu untuk menolongnya?
Kubulatkan tekad demi asas kemanusiaan. Dengan mantap aku melangkah mengikuti jejak darah yang berceceran di lantai seperti detektif yang sedang mencari petunjuk. Ternyata tetesan darah itu menuju ke balkon di lantai dua.
Tampak Rezvan duduk berlatar awan kelabu di atas kursi beratap payung besar. Ia menenggak cairan dari sebuah botol hijau yang tampak seperti wadah saus di warung kaki lima, kemudian meletakkan benda itu kasar di atas meja kayu di depannya. Di tangan satunya terjepit sebatang rokok yang masih mengeluarkan asap mengepul dengan cepat berpindah ke bibirnya.
Aku berdehem, seperti di film yang kutonton, untuk membuatnya tahu bahwa aku ada. Tak ada tanda-tanda ia mendengar suaraku, hingga kuulang beberapa kali dengan volume lebih kuat. Menyerah, kuhampiri dia sambil menghentakkan kaki.
Rezvan melotot, kemudian menghardikku keras. “Ngapain lo ke sini?”
“Disuruh Bi Iyem obatin tangan kamu,” sahutku datar tanpa emosi. Aku tak boleh terpancing.
“Nggak usah. Sana pergi!” usirnya tanpa sopan santun.
Kalau dalam kondisi biasa aku pasti akan dengan senang hati beranjak dari sisi cowok angkuh ini. Tetapi entah mengapa aku tetap bergeming.
“Bi Iyem panik banget lihat tangan kamu berdarah. Dia nangis ketakutan. Saya cuma mau nolong Bi Iyem dengan ngobatin kamu, biar dia nggak sedih lagi."
Rezvan tampak terkesiap. Ternyata menjual nama Bi Iyem cukup membuahkan hasil. Paling tidak, aku bisa sedikit menarik perhatiannya. Tanpa seizinnya, aku menarik kursi di sebelahnya dan duduk. Kuletakkan perlengkapan P3K di atas meja. Bau yang tak familiar menyerang indera penciumanku.
"Gue nggak butuh dikasihani!" dengusnya membuang muka. Suaranya bergetar, sekilas aku menangkap raut wajah sendu yang tersirat.
Keberanianku mendadak muncul. Kugamit tangannya yang kini penuh berlumuran darah. Aku mengira dia akan menariknya paksa, tapi dia hanya menahannya sekejap, kemudian melemaskan ototnya hingga aku bisa melaksanakan tugasku.
"Kalau nggak diobatin, nanti bisa infeksi," gumamku seraya mengambil kasa dan membersihkan luka supaya aku bisa melihat kedalamannya.