
Kulihat wajah Rezvan terkesiap sesaat, sebelum akhirnya menutupi dengan senyum terkulum. Mengusir kecanggungan, kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Sesekali Rezvan terhuyung dan wajahnya meringis menahan sakit. Aku memeganginya dengan segenap tenaga yang kupunya karena aku curiga kakinya mungkin terkilir saat terjepit tadi.
"Maaf, ya. Kintana. Aku … nggak bisa jagain kamu. Sekarang malah seperti orang lemah yang jalan aja harus dibantu sama kamu," ucapnya lirih saat kami berjalan di antara dereta pohon singkong yang menjulang tinggi.
Aku melotot padanya. "Hei, jangan gitu. Kamu juga manusia, bisa ngerasain sakit!" ucapku tegas. "Ditolong orang lain nggak bikin kamu jadi lemah, kok."
Dia menunduk, murung. Walau berusaha ditutupi, aku dapat menangkap ringisan di wajahnya saat kaki kirinya menapak di tanah. Melalui empati yang selalu kuasah selama merawat pasien, aku dapat merasakan kekecewaannya. Egonya yang tinggi selalu ingin membuatnya terlihat kuat dan hebat.
"Dulu, waktu aku masih kuliah praktik di rumah sakit, aku dan temanku disuruh sama senior untuk antar pasien ke ruang fisioterapi," ujarku memulai cerita untuk mencairkan suasana. "Pas kami masuk ke kamarnya, ternyata pasiennya adalah seorang bapak dengan rambut gondrong dan badan besar berotot plus bertato."
Aku menelan ludah sebelum melanjutkan. Kulihat kepalanya menunduk dan mendengarkanku dengan seksama.
"Awalnya si Bapak nggak masalah, tapi pas ngelihat badan kami yang kecil ngos-ngosan dan nggak stabil dorong dia lewatin turunan --karena nggak ada lift di rumah sakit itu, dia kayaknya trauma. Waktu mau balik dari ruang fisioterapi, dia bilang mau jalan aja. Tentu aja nggak boleh, apalagi dia punya gangguan tulang belakang. Akhirnya dia pasrah waktu kami suruh berbaring lagi. Pas lewat tanjakan ke lantai dua, aku sama temenku nggak kuat dorong. Tempat tidurnya mundur lagi."
"Hah? Terus gimana?" tanyanya terdengar panik.
"Untung ada Pak Satpam yang langsung sigap bantu kami dorong sampai atas. Jadi semua aman, deh," tutupku sambil tertawa. "Intinya, aku cuma mau ngingetin satu hal: Nggak peduli sebesar apapun badan orang atau sekuat apapun dia, kalau memang sakit, nggak usah malu untuk minta tolong. Dan juga jangan gengsi nerima bantuan dari orang lain," sindirku halus.
Rezvan terdiam. Kuduga batinnya sedang berkonflik, antara mau menerima kebenaran ucapanku atau memaksakan egonya. Aku membiarkannya berkutat pada pemikirannya sendiri hingga tanpa terasa kami tiba di pinggir jalan raya yang gelap dan sepi.
Aku membanting tubuh di atas balai bambu yang tersedia di teras. Rasa lelah mulai menggerogoti betis dan telapak kaki, mengingatkanku sudah berapa lama tak melakukan peregangan diri. Bersandar pada tembok, aku mengamati tetesan cairan gelap yang tercecer di atas lantai semen. Kuikuti arah jejak itu hingga terlihat tetesan yang berasal dari kulit di balik celana jeans biru Rezvan yang sudah berwarna hitam kemerahan.
"Rezvan! Kaki kamu berdarah!"
Cowok itu mengamati kakinya sebentar, kemudian berkata datar, "Cuma lecet sedikit aja." Ia pun meneruskan mengetuk pintu dan menantikan respon dari pemilik rumah.
Aku menghampirinya, kemudian berlutut dan memaksanya menaikkan bagian bawah celana jeansnya. Tampak luka goresan memanjang dari mata kaki hingga hampir mencapai lutut.
"Ya ampun! Kaki kamu kena apaan?" pekikku histeris. "Jangan-jangan pas kejepit tadi?"
Pintu dibuka sebelum Rezvan sempat menjawab pertanyaanku. Seorang wanita tua yang sedang menggelung rambut separuh putihnya tercekat.
"Evan! Ana apa sing kliwat wengi tekan kene?" teriaknya dengan bahasa Jawa ngapak, memandang Rezvan dan aku bergantian.
"Tono ada, Mbok?" sahut cowok di sebelahku seraya bersalaman dan mencium tangan wanita tua itu. "Evan mau ambil motor."
"Tono nginep ing omahe kancane," ujarnya yang kini mengernyitkan dahi padaku yang juga salim. Dia mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Njupuk motor ing wengi, kowe nglakoni opo to?"