Living with Him

Living with Him
Serpihan 31



Aku mengangkat kepala, membalas tatapan ceria pria yang duduk di sebelahku. Tubuhnya lebih ramping dari Rezvan dan ia mengenakan kacamata yang tadi tak kusadari. Kulitnya putih bersih dengan hidung bangir yang menghiasi wajah perseginya. Senyumnya merekah seiring tangannya yang terjulur untuk mengajakku bersalaman.


“Kintana,” sahutku mencoba tersenyum dan menyambut uluran tangannya.


“Papa sering sebut nama kamu. Saya sudah duga kamu pasti cantik. Tapi ternyata aslinya benar-benar cantik,” pujinya membuat pipiku merona. Aku mengalihkan pandangan sambil menahan senyum. Walau kesal karena Om Cahyo berarti membicarakanku di belakang, tapi siapa yang tak tersanjung mendengar pujian dari cowok setampan Naren.


“Ehm … makasih,” gumamku asal. Lidahku kehilangan kata-kata.


“Saya temannya Evan dari kecil sampai SMP,” jelasnya tanpa diminta. “Kami sudah kayak saudara kandung. Kemana-mana main bareng. Tapi sayang, waktu SMA, Evan dan keluarganya pindah ke Jakarta. Kami pisah, deh. Evan juga nerusin S1 di sana, kalau saya masih di sini-sini aja.”


Senyumku kembali terkembang. Aku bahkan baru tahu kalau sebelumnya keluarga Pak Harjanto pernah tinggal di ibukota. Benar saja, aku hanya orang baru yang masuk ke rumah itu hanya sebagai pekerja, bukan siapa-siapa.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku membuatnya melanjutkan. “Rezvan itu pinter banget. Dari SD dia selalu jadi saingan terberat saya untuk jadi rangking satu. Tapi sayang, saya nggak bisa ngalahin dia. Waktu dia ke Jakarta, baru deh saya bisa jadi juara,” ucapnya dengan mata menerawang. Tiba-tiba perhatiannya kembali padaku. “Maaf saya jadi banyak cerita. Kalau kamu gimana?”


“Nggak apa-apa,” sahutku. Aku malah berharap dia menceritakan semuanya, biar aku jadi pendengar setia saja. “Saya nggak gimana-gimana.”


Naren tertawa, memperlihatkan gigi putihnya yang bersih. “Maksud saya, coba ceritain tentang kamu.”


Aku mengulum senyum. Bingung harus mulai dari mana. Sepertinya Naren menangkap kekikukanku dengan melanjutkan pertanyaan. “Kamu kuliah di mana?”


“Jakarta,” sahutku singkat.


Tawa renyah kembali terdengar dari mulut Naren. Aku mengernyitkan dahi. Apa jawabanku salah?


“Maksudnya kampus apa? Salah, ya, pertanyaan saya?”


Aku nyengir. “Ehm, nggak salah, sih. Cuma kurang tepat,” jawabku mulai berani bersuara. “Saya kuliah di UI.”


“Ilmu Keperawatan,” ujarku terdiam sesaat. Aku ragu, apakah harus menanyakan jurusan Rezvan? Malu, tapi penasaran.


“Wah, kalau Evan di Ekonomi.” Naren menjawab pertanyaanku tanpa diminta. Beruntung aku tak jadi bertanya. “Kamu masuk tahun berapa?”


“2008. Kalau …,” Ah, aku lagi-lagi bingung untuk mengucapkan kata sapaan, “Rezvan?”


“2004. Beda tiga tahun berarti, ya. Pas kami lulus, kamu baru masuk!” simpulnya. Sesaat kemudian nada suaranya berubah. “Ehm, kalau saya nggak ditanya, nih?”


Kali ini aku yang tertawa. Baiklah, karena ini percakapan dengannya, tak ada salahnya aku menuruti permintaannya. “Kalau Kak Naren, kuliah di mana?”


“Panggil Mas aja boleh, ndak?” tanyanya sambil memiringkan kepala. “Kalau ndak mau juga nggak apa-apa, sih. Tapi pertanyaannya nggak dijawab.”


“Loh? Tadi siapa yang minta ditanya?” Aku mengernyit bingung.


“Hmm … iya juga, ya,” ujarnya dengan jari telunjuk dan jempol menggaruk dagu.


Tanpa sadar aku kembali tergelak, menikmati percakapan absurd ini. Entah berapa lama aku tak puas tertawa seperti ini. Pipiku sampai terasa sakit.


Aku berdehem sebelum mengulangi pertanyaan. “Kalau Mas Naren kuliah di mana?”


“Nah, begitu, kan, enak. Mak nyes gitu,” jawabnya riang dengan logat medok. “Di UGM, Dek Kinta. Jurusan Hukum.”


Desir halus menggerayangi tubuhku demi mendengar jawabannya. Begitu manis, seperti kue yang sedari tadi tak kusentuh. Biarlah, makanan ini bisa menunggu. Saat ini, bibir dan mulutku sedang sibuk mengeluarkan tawa, aktivitas yang sulit sekali kudapatkan akhir-akhir ini.