Living with Him

Living with Him
Serpihan 47



Pria berkemeja biru itu tak berbalik. Ia malah mempercepat langkah menuju kafe. Aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Dengan sisa tenaga, aku mengejar dan menghadangnya.


"Bapak Darma!" jeritku diiringi aliran air mata yang terasa panas di pipiku yang basah. "Bapak! Ini Kintana, Pak! Bapak ingat, kan?"


Sesaat, aku menangkap wajah pria itu menegang. Mata bulatnya terbelalak dan terlihat tubuh tegapnya tersentak. Namun tak sampai beberapa detik, raut mukanya kembali datar.


"Maaf, saya tidak kenal," ujarnya tak acuh. Dia melintas di samping tubuhku.


Bagai tertusuk sembilu yang berkarat, hatiku mengejang. Tidak! Aku yakin, Bapak bukan tidak kenal, mungkin hanya lupa.


Aku kembali berdiri di depannya, yang hanya berjarak dua meter dengan wanita tadi. Suaraku seperti terjepit saat menunjukkan foto yang basah tak karuan. "Bapak! Aku Kintana, anak Bapak! Bapak ingat, kan, foto ini? Ini aku sama Bapak dan Ibu!"


"Siapa dia?" Suara sinis tujuh oktaf terdengar dari samping telingaku. Aku menoleh dan wanita paruh baya itu melotot.


"Bukan siapa-siapa, cuma orang minta sumbangan," ujar Bapak tak menggubris kata-kataku. Ia merangkul wanita itu berjalan ke kafe. "Ayo, masuk aja, nanti kehujanan," sambungnya lembut, tetapi menusuk telingaku.


“Jangan bilang dia simpanan kamu!” sungut wanita itu dengan bibir mengerucut. “Kamu jahat!”


“Bukan, bukan! Honey dengar dulu. Dia cuma cewek lewat minta sumbangan. Ini mau aku kasih biar dia pergi,” tukas Bapak panik.


Wanita itu menjejak-jejakkan kaki di atas genangan, seperti anak kecil yang ngambek karena permintaannya tak dituruti. “Ngapain cewek minta sumbangan diperhatiin gitu? Karena dia cantik? Muda? Aku udah tua? Keriput? Udah nggak cantik lagi?”


Mual melihat tingkah dua orang di depanku, aku berteriak. “Saya bukan minta sumbangan, Bu! Saya anaknya!”


Petir menyambar, membuat sepasang suami istri itu tersentak. Bapak melotot, kemudian mendorong tubuhku hingga jatuh. Belum sempat bangkit, laki-laki itu menarik rambutku kasar hingga aku terbangun. “Jangan ngarang kamu! Kamu mau bikin pernikahan saya hancur, hah?”


Aku menjerit, merasakan sakit yang mengoyak kulit kepalaku. Dari balik bayangan air mata, kulihat pengunjung kafe melihat adegan bak sinetron yang kami lakukan dari balik jendela. Aku tak peduli, yang penting adalah Bapak mau mengakui bahwa aku anaknya.


Bapak melepas jambakannya di rambutku, kemudian mengusap-usap bahu wanita di sebelahnya. “Honey, kamu tenang dulu. Dia ini bukan anak saya. Jangan percaya sama dia.”


“Bohong!” teriakku keras. “Ini buktinya!”


Kuacungkan foto masa kecilku yang langsung direbut wanita bergaun navy itu. Dahinya mengernyit saat memandang foto yang sudah buram. “Benar, ini kamu?”


Kulihat bahu Bapak turun. Laki-laki tua itu terdiam seraya menunduk. “Iya, ini waktu saya masih di pelayaran dulu. Saya sudah pernah cerita, kan? Dia mantan istri saya.”


“Kenapa kamu nggak ngakuin dia anak kamu?” tuding wanita itu. Entah mengapa aku merasa sedikit mendapat pembelaan.


“Nanti saya cerita dengan lengkap, ya, Honey. Sekarang saya mau usir anak haram ini dulu supaya nggak ganggu kehidupan kita. Kamu masuk dulu, oke?”


Wanita itu menatapku sinis, kemudian meludah di hadapanku. Luka menganga di hatiku yang semakin terkoyak membuatku seperti kesetanan dan mendorongnya hingga wanita itu terhuyung.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku terdiam tak percaya. Mata laki-laki di depanku merah dengan rahang mengeras. “Kurang ajar kamu! Saya nggak sudi berhadapan sama cewek barbar yang ngaku anak saya. Kelakuan kamu sama rendahnya dengan orang tuamu!”


Bapak menggandeng istrinya ke arah kafe, yang juga sedang memaki-makiku dengan ganas. Masih belum menyerah, aku berlari menarik kemeja laki-laki yang seharusnya menjadi tulang punggung keluargaku itu saat mereka sudah berada di depan kafe.


"Bapak tega banget sama Kintana! Sama Ibu, sama Satria, sama Tara! Sama utang Bapak yang segunung di juragannya Pak Dobleh!"


Bapak menepis tanganku, kemudian memberikan kode pada seorang petugas keamanan yang langsung menarikku keluar. Aku meronta sekuat tenaga, membebaskan diri agar bisa meminta pertanggungjawaban orang yang membuatku ada di dunia.