Living with Him

Living with Him
Serpihan 48



"Bapak! Jangan pergi lagi!" jeritku di sela isakan. "Kintana nggak bakal berhenti teriak sampai Bapak mau tanggung jawab!"


Aku mendorong sekuriti yang menggenggam tanganku keras, melampiaskan kemarahanku. "Bapak nggak tau apa-apa, kan? Jangan ikut campur! Lepasin saya! Saya mau ketemu bapak saya!" makiku. Pria muda berseragam itu bergeming. Cengkramannya semakin kuat.


“Jangan mentang-mentang Bapak sudah kaya, jadi lupa sama keluarganya di desa! Kintana nggak butuh Bapak balik ke Ibu! Kintana cuma mau Bapak bayar utang-utang Bapak!”


Semakin banyak kerumunan yang menonton tak membuatku gentar. Sudah sejauh ini, percuma kalau aku tak mendapat apapun dari pria tua itu. Aku lelah menjadi sapi perah yang harus membayar semua utangnya, sementara dia hidup mewah bergelimang harta. Aku tak peduli walau harus menahan malu, juga sakit akibat cengkeraman satpam yang seolah hendak melemparku ke jalan raya. Semua tenaga yang tadi terkuras kini kembali, membuatku bisa bertahan juga memekikkan sumpah serapah yang selama ini terpendam.


Setelah suaraku hampir hilang karena berteriak, Bapak akhirnya keluar. Tangannya terkepal, seolah ingin meninjuku. Namun, melihat banyaknya orang yang melihat, dia hanya memerintahkan petugas keamanan untuk melepasku.


“Beraninya kamu mempermalukan saya di sini!” hardik Bapak.


Aku tak mengacuhkan umpatannya. "Bapak, udah inget, kan, sama utang Bapak?" ucapku serak, dengan sisa suara yang masih ada. “Kintana nggak minta Bapak untuk balik sama Ibu. Tapi tolong, bantu Kintana lunasin utang Bapak.”


"Utang … utang! Terus saja utang yang ada di otak kamu! Kamu dengar, ya! Saya nggak ada sangkut pautnya sama utang keluargamu! Tanya sama ibu kamu, siapa yang suka judi sampai nimbun utang segitu banyaknya?" geram Bapak sambil menunjuk-nunjuk wajahku.


"Jadi itu yang dibilang Ibu kamu? Kurang ajar!” umpat Bapak seraya bertolak pinggang. “Heh, asal kamu tahu, ya! Dia itu yang berjudi dan berzina! Waktu saya pulang dari pelayaran, saya pergoki dia sama selingkuhannya, si penjudi kakap di desa! Karena laki-laki jahanam itu keburu mati karena dibunuh, saya terpaksa ngakuin kamu jadi anak saya. Tapi siapa yang tahan kalau ditagih utang yang nggak pernah saya nikmati terus menerus? Lebih baik saya pergi tinggalin wanita yang nggak pernah tahu diuntung. Sudah saya nikahi dan akui anak yang bukan darah daging saya, malah masih minta dibayarin utang sama saya!"


Petir seolah menggeletar tepat di atas ubun-ubunku, bersamaan dengan kata-kata yang menampar hatiku. Belum cukuplah semua penderitaanku selama ini, hingga harus menghadapi kenyataan sedemikian pahit ini?


"Jadi ... Bapak bukan ayah kandung saya?" ujarku lirih.


"Bukan! Jangan pernah percaya sama apa yang wanita itu bilang! Sekarang saya mohon, kamu pergi dari sini!” pekiknya seraya menarik dompet dari saku belakang celananya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dengan kasar, ia menarik tangan kananku dan meletakkan tumpukan kertas itu. “Ambil ini! Dan jangan datang di kehidupan saya lagi!”


Pria itu memutar tumit, berbalik membelakangiku. Terus berjalan hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Aku berdiri membisu, pandanganku buram tertutup curahan hujan yang turun melalui celah bulu mata. Tetesan air menghantarkan hawa dingin yang membungkus tubuhku dalam selubung beku yang membuatku kaku. Desakan yang bergemuruh di dada seketika pecah, tumpah ruah menjadi tangisan yang tak mampu lagi diredam kalbu.


Berjalan lunglai, aku mengangkat kakiku dengan segenap tenaga yang tersisa. Tenggorokanku tak henti mengeluarkan isakan, bersamaan dengan cairan panas meluncur dari mata melewati pipi. Tanganku mendekap segenggam uang kertas yang kini terasa lunak. Tak peduli pada beberapa pasang mata yang melintas dan menatapku penuh tanda tanya, langkahku terhenti di tengah trotoar jalan raya. Tangisanku semakin tak tertahan, menggerakkan tanganku menutup wajah demi menumpahkan perih yang menyayat setiap sudut hati dan pikiran.


Sejenak kurasakan aliran air dari awan berhenti menyerbu tubuhku, tetapi suara rintiknya masih memenuhi indera pendengaranku. Dengan berat, aku menyingkirkan tangan dari wajah demi melihat apa yang terjadi. Dari balik mata yang berkabut, kulihat sesosok wajah bercahaya bak malaikat memayungiku.