Living with Him

Living with Him
Serpihan 52



Seolah baru mendapat mangsa, aku melahap gumpalan daging berpadu dengan tepung itu tanpa bersisa. Perutku seolah menggelar pesta kembang api, menandakan musim paceklik telah berakhir. Hingga suapan kuah terakhir, baru aku menyadari ada dua orang yang mengamati kebuasanku mencabik makanan berbentuk bulat itu seperti karnivora.


“Baksonya enak,” gumamku seperti bicara pada diri sendiri. Sean tertawa dan menimpali, sementara Rezvan hanya tersenyum simpul yang disembunyikan dengan punggung tangannya.


Selesai makan, kami berpamitan. Aku menyalami Reza dengan cepat sementara kedua sahabat itu saling mengucapkan selamat tinggal. Rezvan mengisyaratkanku untuk mengikutinya yang telah keluar terlebih dulu. Aku mengangguk dan menyempatkan diri berpamitan dengan Sean yang menyerahkan sebuah sweater bertudung, yang tentu saja tanpa telinga kelinci di atasnya.


“Terima kasih banyak, ya, Mas Sean. Buat baju sama celananya, juga udah ditraktir bakso. Sekarang dapat jaket juga," ucapku seraya menjabat tangan pria di depanku.


“Sama-sama, Kintana. Saya juga terima kasih karena kamu ada buat Rezvan. Saya tahu banget, Rezvan orang yang paling setia, bukan hanya sama pasangan, tapi juga sama teman. Nggak mungkin rasanya dia bisa move on secepat ini dari Cintya kalau bukan karena kamu. Tolong, jaga Rezvan, ya. Berkat dia juga, distro ini bisa berdiri. Dia sahabat saya yang terbaik. ”


Mendengar untaian kalimat perpisahan dari Sean membuat pipiku merona, padahal terang saja bukan aku yang mendapat pujian. Aku baru tahu sisi humanisme pria yang selama ini kuanggap tak berperasaan itu, terlebih kini aku merasa jarak di antara kami telah banyak terpangkas. Jika memang benar kata Sean, aku menjadi perempuan paling beruntung di muka bumi ini karena telah berhasil selangkah lebih dekat dengannya.


Tubuhku berjingkat saat kurasakan dua telapak tangan besar mendarat di pundak. Suara berat tertahan yang berasal dari belakang, sontak membuat bulu kudukku meremang.


“Udah, pamitannya?”


Wajah Sean berubah pias. Cowok bertubuh kekar itu langsung menyambar, “Udah, kok. Gue cuma kasih jaket ke Kintana.”


“Oke. Gue balik, ya. Makasih buat semuanya,” pamit Rezvan seraya melingkarkan lengan besarnya di bahuku. Dengan sedikit paksaan, dia membimbingku berjalan menuju mobil jeep yang terparkir di tepi jalan. Sesungguhnya aku tak nyaman dengan posisi ini, terlebih Sean dan Reza masih menatap kami. Namun, untuk sekadar menginterupsi, aku tak berani.


Rezvan membukakan pintu mobil dan aku pun duduk dengan tegang. Dia membanting tubuhnya dibalik kemudi dan tanpa basa-basi langsung menyalakan mesinnya. Setelah melambaikan tangan sekilas pada dua orang yang telah membantu, mobil melaju membelah jalanan ibukota yang hanya diterangi lampu temaram.


Lama kami terdiam, seolah ada dinding kasat mata di antara kami. Aku pun takut membuka suara, khawatir dia membahas kejadian menggairahkan tadi. Hingga mobil berhenti di lampu merah, baru terdengar deheman dari pria di sebelahku ini.


Aku mengerutkan dahi, menangkap adanya aura dingin yang menyentuh tengkuk keluar bersama suaranya. Bukankah tadi dia yang memberikan harapan bagi hatiku akan sikapnya yang penuh perhatian? Bahkan, dengan tidak sopannya dia yang lebih dulu mencuri ciuman pertamaku.


“Dia bilang suruh jagain kamu. Biar kamu nggak depresi gara-gara ditinggal Cintya!” sahutku malas.


Seketika mobil berhenti mendadak, membuat kepalaku nyaris beradu dengan dashboard. Bunyi klakson kendaraan di belakang seakan mengusir kami agar segera menyingkir. Aku melotot sekilas pada Rezvan, sebelum membuang muka pada kaca samping yang memperlihatkan pemandangan gedung pencakar langit. Kudengar dia mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya mengemudikan kembali mobil.


“Sudah saya bilang jangan sebut nama itu lagi!” ucapnya datar, tetapi penuh penekanan.


"Loh, tadi siapa yang tanya?" balasku geram.


Rezvan mendesah. Suaranya menggantung di udara saat berkata, "Saya nggak suka kamu salaman lama-lama sama Sean."


Aku tersentak, menepuk dahiku keras. "Ya ampun! Dia kan teman kamu! Kamu juga yang kenalin saya ke dia," dengusku tak dapat menahan lagi kekesalan dalam dada. "Lagian, apa masalahnya kalau saya dekat sama dia?"


Hening. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut cowok itu, membuatku geram. Dia hanya menatap lurus pada jalan raya yang sudah mulai lengang. Entah apa yang membuat sifat menyebalkannya muncul kembali. Panas setahun dihapus hujan sehari. Semua kebaikannya tadi seketika menghilang dari otakku yang kembali dilanda kegusaran padanya.


Aku menyibukkan diri dengan memandangi trotoar berhias lampu warna-warni. Jantungku seketika nyaris melompat keluar saat mendengar dia berkata datar.


“Udah malam. Kita mau tidur di mana?”