
“Kintan! Ada Dokter Henry datang!” panggil Bi Iyem dari depan pintu.
Yes! Kesempatanku untuk melarikan diri dari samping Rezvan yang masih saja tertawa. Tanpa pamit, aku segera beranjak meninggalkan ruangan yang terasa bising hanya karena suaranya saja.
“Woi! Mau kemana? Abisin dulu makan lo!” pekiknya keras.
“Abisin aja sendiri!” balasku sengit, kemudian berlari keluar dapur.
Seketika aku terhenti di depan pintu kamar Pak Harjanto saat menyadari bahwa aku lupa mengecek ponsel. Pasti Dokter Henry sudah berupaya menghubungi sejak tadi. Gawat! Semoga dia tak marah-marah seperti tempo hari.
Aku mengetuk pintu perlahan dan membukanya, kemudian masuk. Tampak Dokter Henry sedang berbincang akrab dengan Pak Harjanto. Dengan langkah berdebar, aku mengambil rekam medis yang tergeletak di meja sudut ruangan.
“Hei, Kintana!” panggil Dokter Henry keras hingga membuatku terpaku seperti kucing yang hendak mencuri ikan. “Gimana kamu? Sehat, kan?”
“Hah?” Aku tak siap dengan sambutan itu. “Iya, Dok. Sehat,” sahutku.
“Kamu itu, kalau nggak bisa naik motor jangan maksain diri! Kalau kamu sakit gimana?” Dokter Henry menasehati. “Sebagai tenaga kesehatan, upayakan keselamatan diri dulu supaya bisa menolong orang lain!”
“Sudah saya kasih tahu, masih ngeyel si Kintana itu,” timpal Pak Harjanto. Ah, aku jadi merasa seperti anak kecil yang baru saja bertingkah nakal.
“Iya, maaf, Dok,” cicitku pelan. Aku menunduk sambil membawa rekam medik dan menyerahkan pada Dokter Henry.
Dokter Henry membaca dokumentasi asuhan keperawatan yang sudah kuberikan. Aku jadi teringat belum melakukan pengukuran tanda-tanda vital pasienku pagi ini. Segera kuambil sfigmomanometer digital dan memasang mansetnya di lengan kanan Pak Harjanto, kemudian menekan tombol on.
“Om Henry!” Suara laki-laki yang sejak tadi pagi bersarang di telingaku kini kembali terdengar. Aku berpura-pura tak acuh dan hanya berfokus pada apa yang kukerjakan.
“Kemarin, Om! Pulang-pulang langsung disuruh jemput bocah nangis di kubangan,” ujar Rezvan jelas-jelas menyindirku. Sial!
“Hah? Siapa?” tanya Dokter Henry terdengar serius.
Aku menahan napas. Kalau sampai dia mengadukan kekacauanku kemarin, aku benar-benar akan membekap mulutnya saat ia sedang tidur nanti.
“Ada deh pokoknya.” Rezvan tak menjawab pertanyaan itu. Syukurlah. “Gimana keadaan Papa, Om? Udah baikan?”
Ingin rasanya aku muntah mendengarnya sok perhatian, padahal kemarin seperti mengharapkan kematian ayahnya. Dasar srigala berbulu domba!
Dokter Henry terdengar menghela napas panjang. “Kemarin hasil PA-nya (baca: Patologi Anatomi) sudah keluar. Kanker darah Papamu bukan hanya udah metastasis jadi kanker nasofaring, tapi juga ke organ lain,” sahutnya lirih.
“Terus kenapa nggak dirawat di rumah sakit aja, Om? Nggak dikemo apa dioperasi gitu?” tanya Rezvan lagi.
“Kita udah coba semuanya, Van. Tapi nggak ada kemajuan,” jawab dokter berkacamata itu. “Lagian, Papa kamu nggak betah katanya di rumah sakit. Mau deket sama ibumu katanya.”
“Ndak enak, tho di rumah sakit. Ora iso ketemu Ningsih aku ning ngisor wit pelem.” Pak Harjanto turut menyahut, sebelum batuk panjang menghentikan suaranya.
Aku merasa tatapan Dokter Henry dan Rezvan tertuju ke arahku, atau sebenarnya Pak Harjanto. Sejurus kemudian Rezvan kembali bersuara.
“Apa ada kemungkinan Papa bisa sembuh, Om?”
Desahan napas Dokter Henry kembali terdengar. “Sulit, Van. Kami udah mengupayakan yang terbaik.” Suara dokter itu berubah pelan, tapi masih bisa masuk ke indera pendengaranku. “Sekarang yang bisa dilakukan hanya perawatan paliatif, supaya Mas Harjanto merasa nyaman di sisa umurnya.”