Living with Him

Living with Him
Serpihan 14



Aku tercekat melihat tanganku yang kosong. Oh, bodoh! Kenapa aku tidak membawa senjata untuk membunuhnya? Apa karena merenggut nyawa manusia bertentangan dengan hati nuraniku sebagai perawat yang seharusnya menyelamatkan nyawa? Seharusnya kuambil pisau dapur tadi, atau minimal membawa vas bunga.


Tangisanku kembali meledak. Aku menendang kursi yang ada untuk melampiaskan amarahku. “Lo manusia paling jahat yang pernah ada! Lo udah ngerebut keperawanan gue! Lo udah ngerampas hidup gue!”


Rezvan berdiri, hendak berjalan mendekat. “Lo kenapa, sih?”


“Stop! Jangan pernah lo sentuh gue lagi! Gue nggak akan segan-segan lagi buat ngebunuh lo waktu lo masih tidur!”


Kuraih benda apapun yang berada dekat denganku dan melemparnya ke arah laki-laki biadab itu. Buku-buku, lampu meja, bahkan action figure superhero tak luput dari jangkauan tanganku. Bunyi benda pecah menggema di udara pagi, menutupi suara Rezvan yang masih pura-pura tak mengerti. Ia berkelit menghindari serangan bertubi-tubi.


“Kintan! Kamu kenapa?” Suara Bi Iyem menghentikan aksiku. Ia berdiri ternganga di depan pintu sambil menenteng kantong plastik hitam dengan sayuran hijau tersembul di atasnya.


“Bibi!” jeritku menghampirinya. Aku menangis di bahunya yang empuk. “Bibi kenapa ngebiarin orang itu ngelakuin itu sama aku, Bi?”


“Ngelakuin? Ngelakuin apa?” tanya Bi Iyem menyipitkan mata.


“Semalam … semalam waktu pulang … dia …,” aku terdiam, mencoba menemukan kata yang pantas, “dia … dia udah … aku … gara-gara dia ….”


“Apaan, sih? Udah gila nih, cewek!” pekik Rezvan bertolak pinggang.


Fokusku kembali padanya. “Heh! Semua ini gara-gara lo! Lo udah merkosa gue! Masih untung gue nggak bunuh lo tadi! Lo harus dipenjara!” bentakku sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya. Bukannya merasa bersalah malah dia mengataiku gila. Benar-benar menyebalkan.


Rezvan terbelalak. “Hah? Merkosa? Siapa juga yang mau merkosa cewek gila kayak lo?”


Aku meradang mendengar kata-katanya. Kuambil ponsel yang tergeletak di meja dan siap dilayangkan ke wajah memuakkannya.


“Kintan … Kintan … istighfar, Neng. Ya Allah … Astaghfirullah!” tahan Bi Iyem seraya menghentikan tanganku. Aku menoleh padanya. Istighfar? Entah kapan terakhir aku mengucapkannya. Mungkinkah itu yang membuatku menjadi buas seperti saat ini?


“Mas Evan nggak ngapa-ngapain kamu, Tan. Dia semalam yang nolongin kamu. Dia bopong kamu dari mobil pas kamu ketiduran, bawa kamu ke kamar. Kamu kayaknya capek banget sampe nggak bangun pas Bibi bangunin,” jelas wanita tua di hadapanku sambil mengelus-elus pundakku. “Abis naro kamu di tempat tidur, Mas Evan langsung balik ke kamarnya, kok.”


Mata dan mulutku membulat. Benarkah yang dikatakan Bi Iyem? Atau jangan-jangan Rezvan telah bersekongkol dengannya? Namun, wajah polos wanita tua itu membuatku membantah sendiri praduga yang berkelebat.


Aku melirik cowok yang sejak tadi kumaki. Ia hanya melipat tangan di depan dada. Sudut bibir kanannya terangkat, matanya seolah berkata: Nah-gue-bilang-juga-apa!


Argh! Sial! Kurasakan seluruh aliran darahku seolah terpompa ke wajah, membuat pipiku terasa panas. Aku kembali beralih pada Bi Iyem yang menatapku lembut. “Terus kenapa aku bangun telanjang?” tuntutku masih tak puas dengan pernyataannya tadi.


“Bibi yang buka, Tan. Baju kamu basah semua. Bibi takut kamu masuk angin. Maaf ya, Bibi nggak izin kamu dulu. Abis kamu pules banget, kayak orang pingsan,” jelas Bi Iyem perlahan.


Penuturan yang rasional sebenarnya, tapi aku terlalu takut menghadapi fakta itu. Apalagi aku yang sudah tertangkap basah marah-marah dan berteriak seperti orang gila. Ingin rasanya aku lompat dari balkon lantai dua dan menenggelamkan diri di kolam renang belakang rumah.


“Makanya, jadi cewek kalo mau marah-marah pikir dulu pake otak!” sindir suara berat yang membuat tubuhku seketika meremang. “Dan jangan lupa pake baju!”


Aku menunduk dan kakiku terasa lemas melihat selimut yang menjuntai asal dari dadaku. Sepertinya otakku benar-benar sudah tidak waras. Apa mungkin efek terlalu banyak membaca novel adult romance, sehingga membuatku bertindak impulsif seperti ini? Entahlah. Tak ada yang patut disalahkan, kecuali aku.


Suara tawa berat cowok yang sudah mendapat suguhan kebuasanku menggema di seantero ruangan, mengiringi tangisanku. Aku segera berlari, meninggalkan tempat di mana aku telah bertindak seperti singa yang mengamuk dan mempermalukan diriku sendiri. Rasanya lebih sakit dibanding saat terjatuh dari motor beberapa kali.


Iya, aku bodoh! Amat sangat bodoh! Puas?