Living with Him

Living with Him
Serpihan 69



Cahaya silau menyambut pupilku saat kelopak mata dengan berat berhasil terbuka. Udara dingin menerobos pori-pori hingga membangunkan rambut halus di sekitar kulitku. Nyeri berdenyut terasa di punggung tangan saat aku membuka mata, seiring dengan aliran lembut cairan ke pembuluh darah. Bau karbol yang familiar terhidu indera penciumanku, menelisik di sela selang napas yang tersangkut di hidungku.


Memori otakku memutar kejadian sebelum semuanya menjadi gelap. Aku berada di kantor polisi, bersama Rezvan. Oh, bukan. Bukan Rezvan. Naren. Dia menerima telepon dan … mengabarkan kalau Pak Harjanto meninggal.


Seolah ada sembilu yang menusuk jantungku hingga terasa begitu sakit. Bagaimana bisa aku membiarkan pasien yang selama ini kurawat meregang nyawa sedangkan aku tidak berada disisinya? Oh, betapa aku sangat menyesal telah pergi hanya untuk menemui orang yang tak pernah menganggapku ada. Terlebih, aku telah meninggalkan mereka yang tak ada hubungan darah, tetapi terasa lebih dari sekadar saudara. Dan aku membiarkan mereka meregang nyawa tanpa aku berada di sana.


Aku tak dapat lagi menahan sesak yang mendesak di dada. Tangisku tumpah, diiringi isakan yang kuharap dapat membuang sesak. Aku menahan suaraku agar tak terdengar, tetapi ternyata malah membuat luka semakin menancap. Aku menjambak rambutku dengan kuat diiringi gigi yang bergemeletuk, berharap dapat mengurangi beban yang menimpa. Sungguh, aku tak tahan lagi dengan semua penyiksaan batin ini. Kenapa aku tak sekalian saja ikut mati?


Terdengar suara gesekan gorden hijau toska yang mengitari bilik tempatku berada. Seorang laki-laki muncul sambil berkata pada pria berjas hitam yang tak lain adalah Naren. Segera kuseka air mataku dengan lengan baju, berharap mereka tak melihat aku menangis.


"Hasil lab-nya sudah keluar, ya. Pasien ini dehidrasi sedang. Sebaiknya dirawat untuk mengembalikan cairan dan elektrolit tubuhnya," ujar dokter bertubuh tinggi itu. "Nanti saya buatkan surat rawat i--"


"Saya nggak mau dirawat!" tukasku sebelum dokter itu menyelesaikan ucapannya.


Kedua laki-laki itu tercekat. Naren langsung menghampiriku dan membantuku mengangkat tubuh hingga duduk.


Mataku membulat. "Kalau gitu, saya mau datang ke pemakaman Pak Harjanto, Mas Naren. Saya mau lihat beliau untuk terakhir kali. Saya benar-benar ngerasa bersalah karena udah ninggalin dia," cicitku diiringi isakan. Tak dapat dibendung, air mataku kembali tumpah.


"Bukan salah kamu, Tan. Semua memang sudah takdir Om Jan meninggal. Sekarang kamu tenang dulu, ya. Istirahat di rumah sakit dulu sampai sehat," bujuk Naren lembut.


Aku menggeleng, bersikukuh dengan pendirianku. "Dokter, saya nggak mau dirawat. Tolong buat surat pulang paksa aja."


Dokter dan Naren saling bertatapan. Setelah beberapa saat berdebat, akhirnya dengan terpaksa kedua laki-laki itu menuruti permintaanku.


"Kamu tanda tangan informed consent, ya. Kami nggak bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu setelah kamu keluar dari rumah sakit," pesan dokter tegas.


Aku menyetujuinya. Aku yakin, aku masih kuat untuk datang ke pemakaman. Itu satu-satunya cara bagiku memberikan penghormatan bagi pria yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Walau aku tahu, seharusnya aku tak boleh memiliki perasaan lebih pada pasien.