
Tenagaku yang meronta tak sedikit pun dapat mengendurkan lilitan lengannya di leherku. Dengan kasar, pria besar itu memaksa kakiku yang terasa setengah melayang untuk melangkah. Aku hanya bisa mengeluarkan suara tertahan dan air mata yang sama sekali tak membuatnya iba. Terlebih, sela yang membekap di antara jarinya tak membiarkan lebih banyak udara masuk ke hidungku, membuatku lemas.
Kabut pekat menyerbu kulitku saat pria tadi menyeretku keluar. Suara pukulan terdengar di telingaku, diiringi teriakan dalam bahasa asing yang tak kumengerti. Di tengah halaman luas, terlihat Rezvan sedang mengarahkan tendangan pada perut satu pria berjas sedangkan tangannya meninju dagu pria lainnya. Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihatnya bercucuran keringat walau tetap melawan dengan sisa tenaganya.
“Stopp!” teriak pria di belakangku lantang. Sontak ketiga laki-laki yang sedang bertarung menoleh ke arah kami. Kulihat Rezvan terkesiap mendapati kondisiku yang tak berdaya ini, sedangkan aku sendiri merasa tak berguna dan pasti akan menyusahkannya saja.
Sebuah benda dingin dan tajam menggesek pipiku hingga terasa perih. Aku tak berani bergerak walau pria penyekapku mulai mengendurkan tangan yang membekap mulutku. Kudengar Rezvan membalas teriakannya dan mereka saling adu suara. Hingga pria itu menekankan pisaunya di depan tenggorokanku, akhirnya Rezvan menurunkan kedua tangannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, dua pria asing yang menjadi lawannya dengan cepat memuntir bahu cowok itu hingga tangannya terlipat ke belakang. Tanpa rasa iba, mereka menendangnya hingga jatuh berlutut.
“Rezvan!”
Suaraku menggema di udara, seiring tangisanku yang bertambah deras. Aku sungguh tak tega melihat mereka memperlakukan calon suamiku seperti binatang buas.
“Kintana, kamu nggak apa-apa, kan?” pekiknya mengkhawatirkanku, padahal ia sendiri yang sudah babak belur.
“Rezvan, ada apa ini?” jeritku terisak. “Siapa mereka?”
“Kintana, aku harus pergi. Aku akan selesaikan semua masalah ini. Aku nggak mau kamu terluka,” ucapnya menenangkanku.
Jantungku seolah dicabut dari tempatnya, sesak dan sakit. “Jangan pergi, Rezvan! Jangan tinggalin aku. Bapak nggak ada! Bi Iyem … Pak Pardi …,” mulutku tercekat, tak sanggup mengatakannya, “kalau kamu pergi, aku sama siapa?”
Rezvan menunduk dan melemaskan tubuhnya. Ia berbicara kepada dua pria di belakangnya, yang langsung menatapku—atau orang di balik tubuhku. Sejurus kemudian, mereka melepaskan puntiran pada bahu cowok yang menatapku lembut.
“Maaf, Kintana. Semua ini salahku. Aku janji bakal balik kalau semuanya sudah beres. Aku ingin saat kita menikah nanti, nggak ada masalah yang akan membebani kehidupan kamu.”
Aku meraung, menangis, dan berteriak, berharap bisa mencegahnya meninggalkanku. Tanpa menggubris upayaku, mereka menggelandang Rezvan yang sebelumnya hendak berjalan ke arahku, berbalik ke arah mobil. Seorang pria memborgol tangannya dan menyurukkan badannya hingga duduk di kursi belakang, kemudian seorang lagi mengawalnya. Dia menatapku melalui jendela yang terbuka. Wajahnya datar dan dari pantulan cahaya senter pria di belakangku, kulihat matanya berkaca-kaca.
Desah napas terasa di samping telingaku, seiring longgarnya dekapan tangan pria yang begitu ingin kuludahi wajahnya. Dia mengecup pipiku, membuatku muak. Namun begitu, aku bergidik saat suara beratnya terdengar seperti Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator 2: Judgement Day.
“Hasta la vista, Baby!”