
Rezvan membawaku masuk ke sebuah toko dengan deretan kaos bergambar abstrak menghiasi manekin yang berjajar di balik kaca tembus pandang. Bunyi lonceng terdengar saat ia mendorong pintu dan memasuki ruangan dengan lampu temaram. Seorang cowok berbadan kurus dengan tinggi yang sama denganku menyambut kami dengan riang.
“Ada yang bisa dibantu, Om?”
Tubuhku berguncang akibat menahan tawa saat pramuniaga itu memanggil Rezvan dengan sebutan ‘Om’. Saat aku melirik, terlihat wajah Rezvan cemberut sambil berdehem dan mengeluarkan suara berat yang terdengar mengintimidasi. “Sean ada?”
“Oh, Bos Sean. Ada. Sebentar saya panggilin,” ujar cowok itu sambil menarik dua buah kursi plastik ke depan kami, “Duduk dulu, Om.”
Secepat kilat, cowok itu menghilang dari balik tirai hitam yang semula kukira gorden jendela. Aku menutup mulut, menahan diri agar tak tergelak. Bagaimanapun, ucapan cowok itu mampu sedikit menghiburku. Rezvan mempersilakanku duduk, kemudian dia sendiri membanting tubuh di atasnya. Semoga dia tak menyadari bahwa dalam hati aku menertawakannya.
Sejurus kemudian seorang pria berbadan tegap dengan otot bisep menyembul di lengan berbalut kaos putih berpadu dengan celana jeans keluar dari balik tirai. Berbanding terbalik dengan penampilan gagahnya, suaranya terdengar kecil dan lembut saat menyapa Rezvan. Kedua lelaki itu saling tegur dan bertukar kabar.
“Jadi ini yang namanya Cintya? Cantik juga, Van!” pekik Sean dengan mata berbinar sambil mengulurkan tangan di depanku. “Kenalin, Sean. Temannya Rezvan waktu SMA.”
Aku terhenyak. Tanganku sudah terlanjur menjabat tangannya. Bingung harus bersikap, aku hanya nyengir sambil melirik Rezvan. Rahang pria itu mengeras, tangannya mengepal seperti hendak meninju. Aroma ketegangan terasa begitu pekat di udara.
“Dia Kintana,” ucapnya serak. “Cintya udah nikah sama sepupu gue.”
Seketika hening. Sean melepaskan tanganku, kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya, kemudian berkata lirih. “So-sorry, Van. Gue nggak tahu.”
“Santai aja, Bro,” Rezvan menepuk bahu temannya, “By the way, ada baju buat Kintana nggak? Dia kehujanan tadi. Buat sementara aja, nanti gue cariin baju cewek kalo dia udah nggak kedinginan.”
“Ehm … nggak usah, Mas,” jawabku kikuk. “Aku … aku bawa baju.”
“Siap, Bos!” ucap cowok itu sambil mengangkat tangannya hormat.
“Biar gue aja yang antar!” tukas Rezvan.
“Ya elah, Van. Si Reza mah kecil-kecil gitu udah kawin,” cetus Sean. Cowok yang dipanggil Reza itu nyengir, memamerkan giginya yang tak rata.
“Nggak apa-apa. Biar gue tenang,” sergah Rezvan sambil menggandeng tanganku. “Cariin bajunya, ya!”
Sambil memberikan senyum permintaan maaf, aku mengekor Rezvan memasuki gang sempit yang temaram. Di ujung gang terdapat sebuah pantri yang tak tersedia alat masak, serta sebuah kamar mandi dengan lebar satu kali dua meter. Rezvan menengadahkan tangannya, mempersilakanku masuk ke ruangan privat itu.
“Berani sendiri, kan?” tanya Rezvan mengernyitkan dahi.
“Iya. Tunggu di depan aja. Aku bisa sendiri.”
“Kalau butuh apa-apa, atau ada masalah, bilang aja. Jangan dipendam sendiri, atau bicara ke orang yang salah. Terutama, jangan pergi tanpa pamit,” pesan Rezvan tegas. Aku mengangguk, walau tak memahami maksud perkataannya. “You make me worry,” desahnya pelan. Suaranya berubah serak dan lembut.
Entah apa yang terjadi, aku merasa tubuh Rezvan semakin mendekat. Napasku tertahan karena pria itu mengusap pipiku dengan tangan halusnya. Tatapannya mengunci mataku, hingga aku tak berani bergerak atau sekadar menghindar. Aku tak dapat menghitung jarak yang tersisa antara aku dan bibirnya karena kini wajahnya berada tepat di hadapanku.
Aku mundur, memberi celah agar gemetar tubuhku tidak bersinggungan dengannya. Tak memberiku kesempatan menjauh, dia melangkah perlahan dan memerangkap tubuhku di sela lengan kekarnya. Seperti terbius, tubuhku hanya berdiri kaku, menikmati kehangatan yang terpancar dari tubuhnya walau kulit kami tak bersentuhan. Entah apa yang ada dipikiranku, aku malah memejamkan mata dan bersiap dengan apa yang selanjutnya terjadi.