
Naren mengurus administrasi setelah aku menandatangani informed consent. Jantungku berdebar kuat seiring lamanya waktu yang terbuang saat pengurusan pembayaran. Kuhabiskan waktu dengan membersihkan diri seadanya.
Dokter Henry sempat menemuiku di IGD sebelum berangkat ke pemakaman. Dia memarahiku karena memaksa tak mau dirawat, tetapi setelah kujelaskan, ia akhirnya mau menerima alasanku. Dia juga mengatakan bahwa Bi Iyem dirawat di ruang ICU karena koma dan sempat gagal napas. Jenazah Pak Pardi masih dilakukan autopsi, sementara Pak Harjanto sudah dibawa pulang Bu Yatmi dan keluarga.
Setelah diperbolehkan pulang, aku meminta Naren menemaniku melihat kondisi Bi Iyem di ruang ICU. Laki-laki itu menolak awalnya, tetapi ia bersedia setelah kubujuk. Kami bertemu dengan anak perempuan Bi Iyem yang sepertinya lebih tua dariku. Wanita berjilbab itu menangis pilu. Aku semakin merasa bersalah padanya, juga pada keluarganya. Walau hanya dapat melihat dari pintu, aku berharap Bi Iyem lekas sembuh dan sehat seperti sedia kala.
Kami berjalan dalam diam ke parkiran mobil. Tak seperti biasanya yang selalu berceloteh, Naren mengunci mulutnya rapat. Ia hanya tersenyum saat aku mencuri pandang padanya. Tangannya terasa amat dingin saat menggenggamku.
Perjalanan juga dilalui tanpa perbincangan. Kami terlarut dalam pikiran masing-masing. Hingga pertama kalinya aku membuka mulut saat Naren berhenti di sebuah rumah bergaya Jawa tanpa persetujuanku.
"Ini di mana? Bukannya tadi kita mau langsung ke pemakaman?" tanyaku curiga.
Naren tersenyum. "Mampir ke rumahku dulu, ya. Ada yang mau kuambil. Kamu juga bisa mandi dan istirahat dulu sebentar," ucapnya dengan nada tegas yang tersirat. Ia mengusap puncak kepalaku, kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
Aku bergeming. Jantungku mulai berdebar kuat. "Maaf, a-aku tunggu di sini aja," cicitku gemetar.
Menghela napas panjang, aku memberanikan diri turun dan melangkah di belakang Naren. Patung semar menyapaku begitu memasuki teras. Ukiran jati di pintu dan kusen menghiasi bagian depan rumah dengan perpaduan cat cokelat dan putih. Begitu pintu dibuka, aku melompat mundur saat melihat patung harimau yang seperti asli, mungkin diawetkan, seolah mengaum padaku.
Naren tertawa dan menenangkanku. Aku semakin gemetar melihat banyaknya hewan liar yang dengan tubuh membeku di setiap sudut ruangan. Lukisan wanita berkebaya hijau menempel di dinding ruang tengah, matanya seperti mengikuti gerakanku. Tanpa sadar aku memegangi bagian belakang jas Naren sementara bulu kudukku tak henti meremang.
Kami berhenti di satu-satunya kamar yang kulihat bergaya modern. Naren menyalakan pendingin ruangan, kemudian mengambil handuk dan sikat gigi dari dalam lemari. Aku hanya berdiri terpaku di depan pintu, ragu apakah harus terus masuk atau menunggu.
"Ini kamar saya. Kamu mandi dulu aja, ya. Nanti saya siapin baju ganti, punya Mama yang ketinggalan dulu. Kalau mau istirahat, tidur aja di kasur," pesan Naren sambil menyerahkan handuk dan sikat gigi. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Ia menundukkan kepala dan memegang bahuku. "Kamu tenang aja. Saya jamin kamu aman di sini."
Aku mengangguk, sekadar menghormatinya. Ia tersenyum dan berlalu meninggalkanku sendiri.
"Mas Naren!" panggilku sebelum ia menutup pintu, "Terima kasih."
Entah perasaanku saja atau memang sebenarnya terjadi, kulihat sekilas kilatan di mata hitamnya. Ah, mungkin efek nuansa etnik yang kental hingga aku terbawa suasana. Aku menggeleng pelan, kemudian menghela napas panjang. Hatiku terus berupaya meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.