Living with Him

Living with Him
Serpihan 37



Aku menggeram. Dengan hentakan kuat, kakiku melangkah menjauhinya. Mungkin otak cowok itu masih konslet akibat minuman keras yang memabukkannya semalam. Bodo amat!


Seketika langkahku terhenti begitu tiba di ambang pintu. Tunggu dulu. Walau menyebalkan, mungkin orang ini bisa berguna. Bukankah Naren bilang Rezvan adalah sahabatnya? Ya, itu dia! Rezvan pasti tahu nomor ponsel Naren!


Menurunkan ego, aku berbalik dan berdiri di belakang kursi meja makan. Dia sedang menghirup kopi yang entah dibuat sejak kapan. Sejenak aku terpana akan penampilan kasualnya, dengan kaos hitam lengan panjang berleher tinggi yang menutupi sebagian besar ototnya. Bulu halus kehitaman yang belum dicukur tumbuh di sepanjang rahang bawahnya, kontras dengan bibir tipis yang ranum. Tidak! Aku tak boleh terpana!


"Punya nomor HP Mas Naren, nggak?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling.


Dia masih berkutat dengan ponsel tanpa menghiraukanku, seolah telinganya disumbat kapas. Apa suaraku kurang keras?


"Rezvan! Punya nomor HP Mas Naren, nggak?" teriakku menggelegar.


Pria itu meletakkan cangkir kopi sebelum mengangkat wajah. "Oh, ngomong sama gue?" ujarnya balik bertanya, seraya mengangkat alisnya sebelah. Ekspresi yang paling kubenci.


"Iyalah. Siapa lagi?" jawabku sengit. Ya ampun, kenapa aku tambah terbawa emosi?


"Kalo nanya sama orang, yang sopan, dong! Manners maketh man," sahutnya mengutip kata-kata Harry Hart dari film Kingsman.


Aku menyadari kalau dia sepenuhnya benar. Terlebih caranya mengucapkan sungguh membuatku tertohok. Sekarang dia pasti merasa di atas angin. Aku tak suka itu!


"Ya udah kalau nggak mau kasih tau," ucapku melengos pergi. Percuma. Seharusnya aku sadar, tanpa perlu menurunkan ego, dia tak akan pernah membantuku.


"Nggak usah berhubungan sama Naren!"


"Kenapa?" ketusku dengan mata melotot.


"Dia bukan orang baik," sahutnya datar sambil mengoles selai kacang di atas roti.


Aku mengumpat dalam hati, belum cukup berani untuk menyuarakannya. "Mas Naren baik, kok! Dia ramah, perhatian. Nggak kayak kamu yang ninggalin orang di depan rumah nggak pamit. Udah gitu, pulang-pulang mabuk!" cerocosku mengeluarkan sesak yang sedari tadi terpendam.


Senyum sinis tersirat dari bibir Rezvan. "Gue kan antar lo pulang. Kalo gue jahat, gue tinggalin lo di tengah hutan!"


"Biarin aja. Pasti Mas Naren yang antar saya," tukasku tak mau kalah. "Kalau nggak mau kasih tahu, minimal jangan jelekin orang lain!"


Dadaku bergetar hebat, diiringi napas yang memburu. Entah berapa banyak energi yang habis setelah aku melampiaskan kekesalanku. Aku memutar tubuh di atas tumit, kemudian berjalan menuju pintu. Satu hal yang belum kuucapkan, yang kuyakin bisa membalas sakit hatiku.


"Pantas aja Cintya ninggalin kamu dan nikah sama sepupu kamu. Dia pasti stres punya pacar jahat kayak kamu!"


Aku bersungut-sungut meninggalkan dapur. Walau puas meluapkan semua kekesalanku, tetapi rasanya masih ada yang mengganjal. Ya, aku tahu masalahnya. Aku tak pernah berkata kasar pada orang lain. Ini kali pertama, dan kuharap, terakhir.


Seketika tubuhku merapat ke tembok luar dapur saat tangan besar Rezvan menekan bahuku. Begitu cepatnya gerakan pria itu hingga aku tak menyadari bahwa dia membuntutiku. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun dengan napas memburu. Ia menundukkan kepala hingga wajahnya kini hanya berjarak satu kepalan tangan denganku. Gigi putihnya tersibak saat seringainya mengiringi suara dingin yang keluar bersama geraman.


“Jangan sebut nama itu lagi!”