
Ternyata hanya berupa sayatan tipis di sepanjang ruas jari tangan kanannya yang tak henti mengeluarkan darah. "Tolong ditekan seperti ini, ya," perintahku.
Rezvan diam saja. Kuambil rokok yang terjepit di jarinya dan meletakkannya di atas asbak. Setelah itu, kupaksa tangan kirinya menekan kasa di atas tangan kanan yang terluka. Tanpa disangka, dia tak melawan.
Aku berlari mengambil air, baskom, dan sabun antiseptik. Begitu kembali, aku tersenyum sendiri melihat Rezvan masih melakukan apa yang aku suruh tadi seperti patung yang tegang tanpa sedikitpun perubahan posisi. Kubuka kasa yang digunakan untuk menekan luka tadi dan darah yang mengucur sudah berhenti.
Pria di depanku meringis saat aku menuangkan air dan mencuci lukanya. Tak kusangka cowok seangkuh dia ternyata bisa merasakan sakit. Itu membuktikan kalau dia memang manusia biasa dan aku tak perlu takut lagi padanya. Yah, walau selama ini aku bukannya takut, tapi hanya merasa terintimidasi. Oh, sama saja, ya?
Jarak sedekat ini membuatku bisa mengamatinya lebih jauh. Ternyata Rezvan memiliki alis yang sangat tebal dan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung dan terdapat cikal bakal kumis dan jenggot yang baru akan tumbuh di atas dan bawah bibirnya. Guratan otot menyembul di lengannya, padahal aku yakin dia tak pernah bekerja keras. Pasti karena rajin berolahraga. Ah, aku jadi teringat mimpiku semalam. Ya ampun!
“Kenapa senyum-senyum sendiri? Seneng ya lihat gue berdarah?” bentaknya membuatku tersentak. Hah? Memangnya aku tersenyum?
“Siapa yang senyum? Saya lagi konsentrasi bersihin luka!” balasku sengit. Yes! Aku sudah berani melawannya. Counter attack!
Dia mendengus. “Mana ada orang konsentrasi senyum-senyum?”
“Kalau ada terus kenapa?” ketusku sambil mengoleskan salep antibiotik ke atas lukanya, membuatnya sedikit menarik lengan yang sedang kupegang. Aku melotot, membuatnya mengulurkan kembali tangannya padaku sehingga aku bisa melanjutkan pekerjaanku.
Hening sesaat. Rezvan terdiam sementara aku sedang mempersiapkan perban untuk menutup lukanya. Aku jadi merasa bersalah sudah ikut terpancing emosinya.
“Lo nggak tanya kenapa gue pecahin kaca?” tanyanya tiba-tiba saat aku mulai melilitkan perban, membuatku berhenti.
“Yah,” Rezvan mengusap belakang kepalanya dengan tangan kiri, “biasanya cewek kan suka pengen tau urusan orang,” cetusnya.
“Saya nggak akan tanya kecuali orang itu mau cerita sendiri. Kecuali kalau sedang melakukan anamnesis. Itu pun hanya yang terkait dengan kesehatan,” jelasku datar sambil menggunting ujung perban dan mengikatnya. “Sudah selesai.”
Aku membereskan peralatan yang berserakan di meja, sementara Rezvan mengamati tangannya yang kini terbalut perban putih.
“Gue harus bayar berapa?” tanyanya saat aku hendak beranjak.
“Lima ratus juta!” pekikku dalam hati sambil tertawa miris. Tidak. Konyol sekali kalau aku sampai mengatakan itu.
Botol minuman keras dan bungkus rokok yang terletak di dekat asbak memberiku ide. “Bayarnya pakai ini aja. Ini saya sita, mau saya buang,” ujarku seraya mengambil dua benda yang membahayakan kesehatan itu.
“Heh! Apa-apaan, sih!” makinya keras dengan tangan hendak menggapai benda yang kuambil. “Balikin sini!”
“Ini saya sita! Gantinya, kamu makan ini aja!”
Tangan kananku merogoh saku dan mengeluarkan dua batang permen lolipop yang tadi kusimpan dan meletakkannya di atas meja. Aku segera kabur masuk ke rumah. Sekilas aku melirik melalui jendela kaca yang terbuka.
Rezvan melongo.