
Semua terdiam. Hanya suara perekat velcro dari manset yang dibuka terdengar memecah keheningan. Saat aku melirik sekilas ke arah dua laki-laki yang sedang berdiri di depan tempat tidur, aku terhenyak melihat salah satu sudut bibir Rezvan terangkat. Aku yakin, dalam hati Rezvan sedang bersorak karena keinginannya akan segera terkabulkan. Ayahnya sudah tak dapat diselamatkan.
“Berapa tensinya, Tan?”
"Eh?" responku terkejut. Semoga mereka tak menyadari aku sedang mencuri dengar sedari tadi. "Ehm, 138/91, Dok."
"Hm, oke. Kalau TTV-nya mulai nggak normal, pasang bedside monitor, ya. Terus lapor sama saya setiap jam," perintah Dokter Henry.
"Baik, Dok," jawabku diiringi anggukan.
Aku mencabut manset dan sfigmomanometer, kemudian berjalan canggung ke rak penyimpanan. Dokter Henry menyerahkan rekam medik yang sudah ditulisi, kemudian aku mencatat hasil pengukuranku berlama-lama supaya terlihat sibuk. Dalam hati aku menimbang apakah perlu kuceritakan kelakuan Rezvan yang kemarin nyaris saja membuat ayahnya sesak napas.
Suara Rezvan terdengar lantang membelah kesunyian. “Om, saya terima telepon dulu, ya!”
Terdengar suara pintu terbuka dan menutup. Aku berbalik dan mendesah lega saat mendapati Rezvan sudah tak berada di ruangan yang sama denganku. Dokter Henry sedang mengoperasikan ponselnya, membuatku teringat dengan milikku yang entah teronggok di mana. Setelah urusannya selesai, ia menghampiriku dan berdiskusi tentang tindak lanjut perawatan pasien. Tak lupa ia menyerahkan obat-obatan yang sudah dibeli dari kota serta menjelaskan dosis dan waktu pemberiannya. Dokter bedah itu kemudian mengobrol dengan Pak Harjanto dalam bahasa Jawa yang kental. Setelah ponselnya terus menerus berdering, ia pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Aku mengantar Dokter Henry sampai keluar rumah sambil mendengarkan pesannya. Ia segera masuk ke mobil SUV yang terparkir, kemudian membunyikan klakson dan mengangkat tangan ke arahku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Setelah mobil hitam itu menghilang dari pandangan, aku masuk kembali tanpa menutup pintu.
Jantungku nyaris saja melompat keluar saat bahuku terasa berat. Sebuah lengan besar tersampir di sana, membuatku menoleh ke arah sebaliknya. Perut buncit seperti wanita hamil sembilan bulan menyambutku, ditopang oleh tubuh tambun yang terlihat begitu berat. Senyumnya terkembang seperti seringai serigala yang mendapat mangsa.
“Mau kemana, Manis?”
“Selamat pagi, Pak,” sapaku basa-basi. Sebelumnya, sekitar dua kali aku pernah bertemu dengannya dan tingkahnya masih sama saja menyebalkan. Dia adalah pengacara Pak Harjanto yang cukup sering dipanggil untuk mengurus keperluan.
“Duh, duh. Kok Pak lagi, sih? Kan udah sepakat panggilnya Om aja,” godanya dengan mulut mengerucut. "Makin cantik aja kamu. Bikin kangen tau."
Tak ada sedikitpun rasa bangga di hatiku mendengar pujian itu. Perutku malah merasa mual, terlebih mata mesumnya semakin membuatku jengah. Namun, demi menghormati tamu Pak Harjanto, aku memberikan senyum terpahit yang bisa kukeluarkan.
“Silakan, Pak, kalau mau ketemu Bapak,” ucapku mengalihkan pembicaraan dengan tangan mempersilakan. Dia malah menarik tanganku, kemudian menariknya kasar.
“Pak lagi, Pak lagi. Cubit, nih!”
Tanpa memperkirakan serangan yang begitu cepat, hidungku sempat terjepit di antara jempol dan telunjuk besar yang berbau rokok. Aku mencoba mengelak, tetapi dia malah semakin erat menggenggam tanganku. Aku melotot, merasa dilecehkan oleh orang yang kurang ajar seperti ini. Sebelumnya, dia hanya berani menggodaku dengan ucapan nakal yang menjijikan. Tapi kali ini, beraninya dia menyentuhku! Aku tak bisa tinggal diam!
Jemariku mengepal, membentuk tinju yang siap menghantam hidung besarnya. Namun, terdengar suara lantang mengalihkan perhatiannya.
“Om Cahyo!”
,