Krissta Sandreas

Krissta Sandreas
Tinggal di Apartemen Joy



Angin malam begitu sejuk dengan jalanan yang cukup ramai dengan mobil yang berlalu lalang melewati sepeda motor imut milik Joy. Sepeda motor berjenis scooter yang dengan lajunya berjalan membawa dua orang yang menaikinya di jalan raya. Joy yang menyetir dan Kriss yang menjadi penumpang di bangku belakang Joy.


Joy melihat kebelakang dengan menggunakan kaca spion, terlihat jelas kedua tangan Kriss yang sedang menggenggam dua sisi jaket Joy dengan begitu erat. Kriss benar-benar takut dibawa oleh Joy yang sedang menyetir scooter berwarna ungu itu.


Wajah pucat terpancarkan dari raut wajah Kriss yang takut, sedangkan Joy tertawa kecil melihat wajah Kriss dari kaca spion. Dalam hati Joy berfikir bahwa Kriss sepertinya tidak mempercayai dirinya yang membawa sepeda motor. Namun Joy juga berfikir bahwa Kriss memiliki sifat yang dapat di percaya karena dalam ketakutan yang dirasakan olehnnya tidak mengambil kesempatan pada diri Joy. Kriss hanya memegang dengan erat ujung jaket Joy tanpa memeluk pinggang Joy.


Sepanjang jalan sejak dari rumah sakit hingga apartemen mereka hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai. Setelah sampai, Joy memarkirkan sepeda motornya di parkiran bawah gedung apartemen dan masuk ke lift bersama Kriss. Joy menekan angka 10 pada tombol lift yang menunjukkan dari angka 1-12 lantai. Tidak ada orang yang masuk ke dalam lift selama perjalanan mereka di dalam lift menuju ke lantai 10.


"Selamat datang di apartemen ku, masuklah." Jawab Joy yang membuka pintu dan mempersilahkan Kriss untuk masuk.


Kriss melangkah masuk ke dalam apartemen Joy. Apartemen yang cukup bagus untuk di tinggali 1 keluarga dengan 2 anak. Terdapat dua kamar tidur dengan pintu saling berhadapan. Ruang tamu, ruang dapur dan meja makan, ruang olahraga dan ruang rahasia. Joy menjelaskan kepada Kriss setiap pintu itu adalah ruangan apa. Joy juga telah melarang Kriss untuk masuk ke dalam ruang rahasia.


"Kalau itu adalah ruang pribadi ku, jangan masuk ke dalam sana. Dari semua ruangan yang ada di dalam apartemen ini, hanya ruang itu yang tidak boleh kau masuki. Apakah kau mengerti?" tanya Joy kepada Kriss yang menganggukan kepala nya dengan polos dan melihat sekitar.


Apartemen Joy yang cukup rapi dan bersih. Terdapat dinding yang diisi buku begitu tersusun rapi dan bersih. Sekitar ada 2 meter tinggi dinding rak buku yang menjadi pembatas antara meja makan dan ruang tamu sofa tempat bersantai untuk menonton film. Di balkon apartemen juga terdapat banyak jenis bunga yang tumbuh subur dengan indah menjadi view hiasan di balkon rumah.


Joy yang sudah menjelaskan semua hal di dalam apartemennya kepada Kriss berjalan pergi meninggalkan Kriss di kamarnya. Joy pergi untuk membersihkan diri dan beristirahat karena sudah sangat lelah. Tapi tidak dengan Kriss yang baru saja selesai membersihkan diri dan memakai piyama yang sudah di sediakan oleh Joy.


Kriss keluar dari kamarnya untuk mengambil air mineral di dapur dan kemudian berhenti di sebuah susuan buku yang ada di dinding. Kriss mengambil sebuah buku yang menurutnya menarik. Sebuah buku detektif Conan dan Sharlock Holmes. Kriss tersenyum mengambil buku itu dan mulai membaca di balkon apartemen dengan pemandangan malam hingga ia tertidur tanpa sadar.


Saat tengah malam, Joy keluar ingin mencari air mineral di dapur melihat pintu balkon yang terbuka dengan angin yang menghempaskan kain gorden pintu berwarna putih itu. Joy berjalan ke arah pintu balkon dan melihat Kriss yang sedang tertidur dengan begitu pula di kursi.


Joy masuk ke dalam kamar dan tertidur kembali namun lagi-lagi mimpi buruk yang tidak pernah hilang dari keseharian Joy setelah ia terlelap tidur di malam hari. Lagi-lagi Joy mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat menimpa dirinya dan keluarganya. Jeritan Joy yang terdengar sangat kuat sehingga Kriss mendengar hal itu dan berjalan ke arah pintu kamar Joy.


Kriss melihat di jam dinding besar yang berada di ruang tamu apartemen menunjukkan pukul 03.30 Wib, pukul pagi menjelang subuh. Suara jeritan yang diberikan oleh Joy terus menerus tanpa henti membuat Kriss mengetuk pintu Joy terus menerus hingga Joy tersadar dari mimpi sendiri.


Wajah Joy yang berkeringat dengan begitu banyak, wajah yang pucat dengan tangan yang masih gemetaran. Joy membangunkan tubuhnya dari tertidur ke posisi duduk di atas tempat tidur. Joy berjalan untuk turun dari tempat tidur dan membuka pintu.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Kriss dengan wajah yang khawatir dengan pendengarannya yang mendengarkan bahwa ada perempuan yang sedang menjerit di sekitar sini.


"Tentu saja tidak apa-apa, apakah kau tidak melihat bahwa aku baik-baik saja?" tanya Joy yang berpura-pura tidak apa-apa namun Kriss sangat mengerti bahwa Joy sedang menyembunyikan sesuatu.


"Jika kau bermimpi buruk maka berdoalah kepada Tuhan untuk tidak menjadi kenyataan apa yang ada di dalam mimpi mu. Dan jika itu bukan mimpi namun sebuah trauma maka ikhlaskan lah apapun yang terjadi dan kau harus kembali hidup menjadi seorang yang kau mau. Berjalan di atas langkah yang mau inginkan nona." Ucap Kriss yang mengelus kan kepala Joy dengan menggunakan tangannya.


Joy yang terdiam kaku beberapa detik saja dan baru menyadari dirinya yang sedang di tenangkan oleh Kriss membuat telinga dan pipinya merah tersipu malu. Joy mengehentikan prilaku itu dan mencoba untuk memalingkan suasana dengan memerintahkan Kriss untuk kembali tidur dan dirinya ingin tidur kembali. Kriss mengiyakan saja.


Kriss melihat pintu kamar Joy yang tertutup dan membuatnya sudah tidak dapat tertidur lagi, Kriss berinisiatif untuk membuat sarapan pagi dan membersihkan rumah hingga fajar. Joy yang terbangun dari tempat tidur dan langsung bersiap untuk kembali magang.


"Kau yang membuat semua ini?" tanya Joy yang terkejut dengan makanan yang cukup banyak macamnya sudah di atas meja makan. Kriss menjelaskannya dan Joy menikmati makanan yang diberikan olehnya Joy sarapan bersama dengan Kriss dan berpamitan untuk pergi serta diberikan bekal yang dibuatkan oleh Kriss . Joy hanya tertawa kecil dan merasa begitu puas dengan keputusannya membawa Kriss ke apartemennya. Melihat Joy yang sudah pergi menjauh waktunya Kriss beraksi untuk bertindak melakukan hal yang harus dilakukan olehnnya.