Krissta Sandreas

Krissta Sandreas
Kriss dan Joy Saling Menyatakan Perasaannya



Kriss tersenyum dan mengelus kepala Joy untuk tenang saja dan menyerahkan semua ini kepadanya. Joya hanya mengangguk kepalannya dan berfikir bahwa dirinya harus mencari tau sendiri siapa dalang di balik ini.


"Sepertinya aku harus kembali ke asrama saja." Ucap Joy yang berpamitan.


"Tunggu," ucap Kriss yang menahan Joy di taman saat mereka bedua duduk di kursi di bawah pohon rindang.


"Mungkin ini terlihat terburu-buru, tapi tidak tau harus bagaimana untuk mengungkapkannya. Yang jelas aku harus mengatakan hal ini kepada mu dan kau bisa memikirkannya. Maukah kau menikah dengan ku?" tanya Kriss dengan tiba-tiba.


Joy yang terkejut mendengarkan pertanyaan dari Kriss dengan wajah yang memandang Kriss yang sedang memasang Joy. Mata mereka bertemu satu sama lain, angin menerbangkan beberapa helai daun yang gugur dari pohon menjatuhi mereka berdua. Seketika wkatu berhenti dan mereka hanya sedang saling memandang.


Kriss menundukkan kepalanya dan memberikan alasan mengapa dirinya bertanya seperti itu sebelum Joy bertanya alasan mengapa Kriss mengajaknya menikah. Kriss memberikan dua penjelasan untuk alasan mengapa mengajak Joy menikah. Pertama, karena Kriss merasa bahwa ini adalah pertama kalinya dia merasa hal yang tidak pernah di alami seperti dengan perempuan lainnya.


Perasaan yang tidak pernah di rasakan selama ini. Perasaan peduli yang tidak bisa di jelaskan dengan jelas. Jantung yang berdebar saat dekat dengan Joy dan memikirkannya. Pikiran yang tidak bisa di atur dengan semaunya seperti biasa, seperti hati dan pikiran bersatu untuk tetap Joy ada di dalamnya. Merasa sesak di dada saat melihat Joy mengalami hal yang buruk. Kriss menjelaskan bagaimana perasaannya yang begitu khawatir saat melihat Joy sedih atau seperti tadi malam. Kriss benar-benar kehilangan akal dan menyimpulkan bawah Kriss mencintai Joy.


"Kau yakin itu cinta? Mungkin saja jika karena aku sudah di selamatkan oleh mu 3 kali, dan kita tinggal bersama selama hampir sebulan. Mungkin saja itu adalah perasaan nyaman saja." Jawab Joy yang ingin menyangkalnya.


Kriss menggelengkan kepalanya dan menjalankan bahwa dia sering melihat banyak hal yang lebih dari apa yang dia lihat dari Joy. Pertemuan antara dirinya dengan perempuan lain atau dirinya yang sering bertemu dengan perempuan dengan jangka waktu panjang atau bahkan tinggal bersama. Joy dengan wajah bertanya apa yang dimaksud oleh Kriss. Kriss menjawab bahwa dirinya pernah menjadi seorang anak asrama sekolah atau asrama kerja.


"Alasan kedua karena kedua orangtua ku. Mereka mengatakan bawah, jika aku menemukan seseorang yang tepat jangan di lepaskan. Dan mereka melarang untuk berpacaran, Jika memang benar-benar tepat maka nikahi perempuan itu dan bersama dengannya selamanya." Jawab Kriss dengan wajah serius kepada Joy untuk menceritakan bagaimana dia harus bertindak saat memastikan bahwa dirinya sudah mencintai Joy dan tidak ingin melepaskan Joy. Apalagi Kriss sudah banyak mengetahui Joy yang terjadi tadi malam. Joy terdiam dan ingin mendapatkan jawaban. Kriss menjelaskan bahwa dirinya pertama kali memeluk, mencium dan melihat Joy yang berada di bathtub.


Wajah yang memerah pada Kriss membuatnya malu untuk menjelaskan namun tetap di jelaskan. Joy melihat Kriss yang begitu jujur dan juga mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan olehnya.


Kriss menjawab bahwa dirinya tidak pernah menyatakan cinta kepada seorang wanita sehingga ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan bahkan sebenarnya dirinya sudah banyak menyaksikan orang-orang menyatakan cintanya namun ternyata tidak semudah yang dilihatnya. Kriss menjelaskan bahwa dia mengetahui bahwa ini mendadak tapi hal ini harus di pikirkan dengan jelas oleh Joy. Kriss menjelaskan bahwa Joy tidak perlu terburu-buru menjawabnya.


"Aku juga menyukai mu tapi untuk hal menikah, aku sama sekali belum siap bahkan aku belum pernah memikirkan. Pernikahan itu bukan hanya sebuah pernikahan untuk dua insan yang mencintai tapi lebih besar dan mendalam dari hanya sekedar mencintai." Jawab Joy dengan wajah serius menjawab pertanyaan Kriss.


Dengan tersenyum Kriss menjawab apa yang dikhawatirkan oleh Joy. Kriss bersedia menunggu sampai Joy benar-benar yakin kepadanya. Kriss menjelaskan tentang bagaimana visi dan misi untuk membangun rumah tangga bersama dengan Joy. Jawaban-jawaban yang di berikan oleh Kriss saat itu benar-benar membuat Joy terpukau dan juga merasa bahwa semua jawaban Kriss membuatnya tenang, nyaman dan juga sangat-sangat terharu.


"Kenapa kita pacaran saja lebih dulu?" tanya Joy.


"Tidak, itu tidak akan di izinkan oleh kedua orangtua ku dan juga aku tidak menyukainya hal-hal yang membuang waktu. Jika sudah sama-sama ingin mencintai, berjuang bersama dan saling belajar mengapa harus melalui proses pacaran? Dan yang akan dirugikan jika pacaran namun tidak jadi menikah adalah wanita bukan lelaki, itulah yang menjadi alasan kuat kedua orangtua ku melarang hal itu. Mereka berpesan bahwa hanya istri ku yang berhak untuk aku lindungi, cintai, di bimbing selamanya, terutama mengabdi kepada satu wanita saja seumur hidup sebagai seorang suami yaitu seorang istri terlepas dari perempuan yang di sebut sebagai ibu atau saudara." Jawab Kriss membuat Joy terdiam seketika.


"Kenapa lelaki ini dan keluarganya memiliki prinsip yang begitu mengagumkan? Bahkan aku sulit untuk menolak, bukan hanya karena memang aku sudah mencintainya dan juga karena mendengar penjelasan tapi juga karena aku sudah melihat semua apa yang dilakukan dia selama ini bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri." Jawab Joy dalam hati.


"Aku mengetahui, aku akan memberikan jawabannya kepada mu setelah aku selesai magang di tempat ini. Bagaimana?" tanya Joy. Kriss tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya siap untuk menunggu Joy kapan pun Joy siap menjawabnya.


Setelah panjang lebar menyatakan perasaan masing-masing, Kriss berjalan bersama dengan Joy dari taman ke asrama rumah sakit F. Kriss mengantarkannya Joy ke Asrama kemudian mereka berpisah di sana.


Kriss melihat Joy yang masuk ke dalam asrama dan naik ke atas gedung, setelah tidak terlihat Kriss berjalan meninggalkan gerbang asrama. Joy berjalan masuk ke asrama dengan wajah yang berseri-seri sangat senang dan bertingkah aneh. Tapi tidak dengan Kriss yang bersikap seperti biasanya hanya yang berbeda adalah senyum dan wajah leganya untuk menyatakan semua yang ingin dia katakan.


Joy yang menutup pintu dan menyandarkan dirinya di balik pintu dengan wajah yang bahagia tiba-tiba menjadi bingung apa yang harus dilakukan. Joy menepuk kedua pipinya dengan tangan untuk menyadarkan dirinya agar tidak terlibat dengan hal ini. Joy harus fokus dengan tujuan utamanya selama ini dan harus melupakan apa yang terjadi hari ini. Keputusan yang harus di ambil Joy adalah menolak tawaran Kriss walaupun hatinya belum benar-benar yakin untuk menolak.