
Joy membaringkan tubuhnya dan berpikir hal banyak hingga ia ketiduran dengan cepat. Kriss yang melihat Joy sudah tertidur merapikan selimutnya dan kembali ke sofa. Kriss juga ikut tidur siang setelah semua yang terjadi.
Tiba-tiba jam tangannya berbunyi sekali sehingga Kriss pergi keluar lalu menerima panggilan itu. Pengawal Kriss sudah memberikan kabar bahwa mereka sudah menemukan dua orang pembunuh yang telah melakukan aksinya untuk membakar apartemen Joy. Kriss memerintahkan mereka untuk menunggu kedatangannya. Pengawal itu juga mengatakan bahwa mereka sudah berada di bawah gedung rumah sakit menunggu kedatangan Kriss. Kriss tidak ingin membuat onar dan memerintahkan mereka untuk menjemputnya satu orang saja.
Disini lain, Charlie mendengar bahwa Joy masuk rumah sakit. Charlie memberitahu kepada rekan-rekan yang lain tentang kondisi Joy yang baru mengalami musibah kebakaran di apartemennya. Mereka semua yang mendengarkan itu langsung memutuskan untuk pergi menjenguk Joy. Mereka yang sudah siap menikmati makan siang, bergegas pergi ke lantai atas.
Veronica yang baru saja bergabung dengan mereka mendengar keputusan mereka yang ingin menjenguk Joy. Veronica mengajukan diri untuk ikut bersama mereka melihat Joy. Veronica juga bersikap baik yang menawarkan diri untuk pergi membeli beberapa buah dan makanan lainnya untuk Joy. Rekan-rekan mereka juga menganggap kebaikan Veronica.
Yang ikut pergi hanya Charlie, beberapa suster yang senggang waktunya dan beberapa dokter koas lainnya yang sedang memiliki waktu senggang. Mereka jalan lebih dulu sedangkan Veronica di bantu oleh salah dokter pria yang pergi membeli beberapa makanan di supermarket lantai bawah rumah sakit.
Kriss masuk ke dalam dan akan bersiap-siap untuk pergi namun ia melihat Joy yang sedang bangun dari tempat tidur dan bergegas turun dari tempat tidur. Kriss langsung membangunnya dan bertanya apa yang sedang dilakukan oleh Joy. Joy ingin ke toilet sehingga ia harus turun dari tempat tidur. Kriss memapah Joy dan membantu mendorong botol infus yang sedang menyatu melalui selang putih bening di tangan Joy.
Kriss menunggu di depan toilet dan setelah Joy selesai, Kriss membantu Joy kembali ke tempat tidur. Saat Kriss membantu Joy naik ke atas tempat tidur, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dan pintu terbuka sehingga membuat Joy dan Kriss terkejut melihat banyak orang datang.
"Dokter Joy, apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang suster yang begitu ramah dan baik ke semua orang namun suka sekali dengan gosip.
Charlie, Veronica dan lainnya masuk ke dalam membawa bingkisan untuk Joy. Mata Kriss langsung tertuju kepada Veronica yang membawa bingkisan buah. Kriss menyelesaikan bantuannya kepada Joy dengan meletakkan beberapa bantal di belakang Joy untuk bersandar dan meluruskan kaki Joy di tempat tidur.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Joy yang melihat mereka dengan semangat menjenguknya. Kriss menerima bingkisan-bingkisan itu dan melawati Charlie dengan tersenyum tipis sambil membungkukkan tubuhnya. Kriss meletakkan bingkisan itu di depan meja sofa.
"Nikmati bersama dengan mereka, aku akan keluar." Kriss berjalan ke arah Joy dan membisikkannya.
"Aku akan keluar sebentar. Mohon bantuan semuanya untuk menjaga Joy ya." Kriss membalikkan tubuhnya setelah menjauhi Joy. Kriss mengedipkan matanya kepada Joy dan pergi meninggalkan Joy di situ.
"Siapa dia Joy?"
"Wah tampannya?"
"Apa dia itu artis?"
"Masih tampan aku kemana-mana."
"Oh aku baru ingat, bukannya dia adalah orang yang di rumorkan itu?"
"Iya aku baru ingat. Ternyata lebih tampan saat melihat langsung daripada melihat fotonya dari samping."
Mereka semua penasaran dengan Kriss yang berada di dalam kamar Joy. Semuannya menebak-nebak apa status Joy dan Kriss. Joy hanya diam dan tersenyum karena dia bingung harus menjelaskan apa.
"Biarkan aja yang mereka pikirkan, lagi pula terlalu ribet untuk menjelaskan kebenarannya." Jawab Joy dalam hati.
Charlie menatap Joy dan bertanya keadaannya. Joy mengatakan apa yang dikatakan dokter yang telah memeriksanya. Mereka semua juga bertanya tentang kronologi kejadian kebakaran yang menimpa Joy. Tim penyelidik juga sedang mencari tau penyembah nya. Namun saat ini yang diterima Joy hanyalah kebocoran gas yang menjadi utama.
"Baguslah dia tidak mengetahui apa yang sudah aku lakukan kepadanya." Ucap Veronica di dalam hati saat mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Joy, Veronica tersenyum jahat karena apa yang dilakukan sudah berhasil.
"Jika memang tidak ada tempat tinggal. Untuk sementara ini lebih baik tinggal di asrama rumah sakit sampai menemukan tempat yang baru. Aku akan mengurusnya untuk itu." Ucap Charlie.
"Tidak perlu pak, lagi pula seminggu lagi saya sudah tidak disini. Saya juga akan menemukan tempat tinggal yang baru secepatnya."
Para suster mendukung Joy untuk menerima tawaran dari Charlie sampai dia menemukan tempat yang baru. Jangan menolaknya, oleh karena itu Joy mengiyakan. Namun hanya beberapa hari saja. Mereka yang mendoakan kesehatan Joy dan Joy berterima kasih kepada mereka yang menjenguknya. Mereka hanya setengah jam saja berada di dalam setelah itu berpamitan pergi meninggalkan Joy karena sibuk dengan tanggung jawab mereka.
"Paman, aku harap jangan beritahu Abang Feng aku berada di sini." Ucap Kriss dari belakang Charlie yang sedang keluar dari ruangan Joy. Di saat semua orang sudah pergi dan Charlie ke arah yang berbeda.
Charlie menghentikan langkahnya yang berjalan dan melanjutkan langkahnya lagi. Sementara Kriss pergi juga. Saat itu, Kriss tetap berjaga di luar pintu Joy sampai semua orang keluar. Kriss tidak ingin keluar pergi meninggalkan Joy begitu saja.
Kriss pergi berjalan mengikuti Veronica yang masuk ke dalam lift sendiri karena ketinggalan dengan yang lain dimana liftnya sudah penuh. Di dalam lift itu hanya mereka berdua. Kriss yang tersenyum ramah dan masuk dengan wajah Veronica yang tetap jutek.
"Jika kau menyentuh dia sekali lagi, kau akan menanggung akibatnya." Jawab Kriss dengan pelan dari belakang Veronica. Veronica menoleh ke belakang tapi Kriss tidak seperti sedang berbicara. Pintu lift terbuka dan Veronica keluar dari pintu lift
"Apa tadi itu suara dia yang sedang mengancam aku? Tapi tidak seperti itu?" tanya Veronica dalam hati menghentikan langkah kakinya melihat ke pintu lift yang tertutup. Veronica melihat Kriss yang sedang menutup matannya dan menyandarkan dirinya di dinding lift.
Pintu lift yang tertutup dan Kriss membuka matanya. Mengeluarkan aura yang mengerikan dan menahan emosi yang ada di dalam pikirannya. Kriss pergi ke lantai bawah parkiran untuk bertemu dengan pengawal yang sudah menunggunya di bawah sejak dari tadi. Kriss berjalan dan melihat jajaran mobil yang terparkir. Sebuah mobil menyala dan berjalan ke depan Kriss. Pengawal itu turun dan membuka pintu untuk Kriss.