Krissta Sandreas

Krissta Sandreas
Kedatangan Pasien UGD Di Tengah Malam Part 2



Joy meminta Vascular Clamp untuk menghentikan luka mengeluarkan darah . Vasculsr Clamp adalah alat klem pembuluh darah. Lalu Joy meminta Deaver. Deaver adalah alat jenis retractor. Melihat dengan jelas luka yang robek di usus, Joy langsung meminta jarum jahit. Perlahan-lahan Joy mulai menjahit luka-luka yang robek akibat botol kaca.


"Apa dokter tidak mau memakai kacamata pembesar?"


"Tidak perlu." Jawab Joy yang mulai menjahit dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketiga suster saling melihat satu sama lain dan melihat dengan jelas bagaimana Joy bekerja dengan rapi. Jahitan yang di buat oleh Joy pada luka juga begitu rapi dan juga sempurna. Para suster juga membantu Joy untuk mengunting benang saat Joy melakukan pemindahan dari satu luka ke luka lainnya untuk di jahit.


"Tuwit, tuwit......" suara layar monitor berbunyi.


Suster menjelaskan kepada Joy bahwa tekanan darah tidak stabil dengan jumlah tekanan darah 75/50 dan terus menurun. Para suster panik dan Joy tetap terlihat tenang. Joy memerintahkan untuk memberikan infus Ringer Lactate dan membantu Joy untuk membuat tekanan darah menjadi normal. Kedua suster itu langsung mengambil infus Ringer Lactate dan juga menyiapkan transfusi darah untuk pasien


Sedangkan Joy masih fokus menjahit luka yang robek. Tetap tenang dan tak terlihat sedikitpun Joy panik. Bahkan Joy langsung memberikan perintah untuk memberikan golongan darah A sebagai transfusi darah, hal ini membuat suster khawatir juga diagnosis Joy salah. Belum sempat membatah, Joy langsung menjelaskan dengan diagnosa yang diberikan olehnya tentang kesimpulan golongan darah pasien adalah A. Para suster memahami hal itu dan melanjutkan perintah Joy.


Beberapa menit mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Joy, tiba-tiba layar monitor memberitahukan tentang penurunan darah dan juga mungkin mengalami serangan jantung. Oleh karena itu Joy memerintahkan mereka untuk menyiapkan defibrillator ( alat pemacu jantung).


Namun tiba-tiba dokter kepala ahli bedah datang dan sudah diberitahukan kepada suster yang berada di luar tentang keadaan yang terjadi di ruang operasi. Kepala pusat ahli bedah langsung mengganti pakaiannya dan mencuci tangan lalu masuk ke dalam ruang operasi. Saat ia masuk ke dalam dan melihat bahwa pasien mengalami serangan jantung.


"Jangan lakukan dengan tangan mu yang kotor itu. Biar aku yang melakukan." Dengan nada marah dan belum mempercayai Joy. Mengambil defibrillator ( alat pemacu jantung ) untuk dilakukan kepada pasien.


"Lakukan transfusi darah sekarang." Ucap Joy yang memerintah suster melakukan transfusi darah.


Di mulai dengan 200 Joule yang di atur pada defibrillator ( alat pemacu jantung) hingga 400 Joule. Melakukan 3 kali sentuhan defibrillator ( alat pemacu jantung) jantung pasien kembali normal. Tindakan yang tepat dilakukan memberikan dampak yang tepat. Semua orang yang sudah tegang sejak tadi menjadi lega karena layar monitor pasien menjadi normal.


"Aku menantikan penjelasan mu nanti. Sekarang beritahu aku tentang kondisi pasien." Ucap kepala pusat yang bernama Charlie.


"......" Joy menjelaskan apa yang terjadi dan membuka kain hijau yang ada di perut pasien.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Charlie.


"Memeriksa apakah dia memiliki luka lain selain luka saat kami mencabut botol kaca dari perutnya." Jawab Joy yang ternyata apa yang dikatakan olehnnya baru beberapa detik ini ternyata benar. Joy menemukan luka lain yang ada di perut. Joy membayangkan apa yang terjadi oleh pasien dan langsung membuka luka itu.


"Dia di tusuk botol kaca dua kali." Jawab Joy yang melihat jelas bahwa hati pasien tergores sedikit karena botol kaca. Dokter Charlie langsung melihat apa yang dikatakan oleh Joy dan ternyata benar. Hati pasien terluka sedikit di ujung dan mengeluarkan darah.


"Apa yang kau lakukan? Apa aku sudah memerintahkan mu?" tanya Charlie yang melihat Joy membuka luka itu dengan alat. Belum lagi siap berbicara, Joy sudah mendapatkan pecahan kaca dari botol kaca yang tersangkut di hati pasien. Charlie terkejut dengan apa yang ditemukan Joy, begitu juga para suster yang lagi-lagi terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Joy.


Charlie diam sebentar dan melanjutkan operasi yang sudah dilakukan oleh Joy untuk menjahit luka gores yang ada di hati dan benar-benar membereskan dengan cepat. Charlie melihat jahitan dan cara kerja Joy pada pasien membuatnya sedikit reda pada emosinya yang sejak tadi sudah kesal dengan keputusan yang di ambil oleh Joy.


Joy menunggu di luar ruangan bersama dengan sopir dari pasien. Joy juga menjelaskan situasi untuk membuat sopir tenang. Sementara sejak tadi ternyata Feng melihat apa yang dilakukan Joy dari mulai melakukan operasi sampai Charlie menyelesaikan operasi nya.


"Gadis itu tidak mengecewakan." Ucap Feng dalam hati dan langsung menelpon Max untuk mengucapkan hal yang sama.


"Kau akan lebih terkejut dengan kemampuan dia yang sebenarnya. Sudahlah aku sedang sibuk." Ucap Max kepada Feng lalu mematikan ponselnya.


"Semuannya kerja bagus." Ucap Charlie yang mengakhiri operasi kepada pasien.


Charlie keluar dari ruang operasi dan memberikan penjelasan kepada supir pasien bahwa pasien sudah selesai melakukan operasi dan keadaan sudah normal tinggal menunggu sadar. Setelah itu Charlie pergi meninggalkan ruang UGD dan ikuti oleh Joy.


"Pergi ganti pakaian mu dan temui aku di kantor." Ucap Charlie.Joy menganggukan kepalannya.


"Direktur?" ucap Charlie melihat Feng masuk ke dalam kantornya.


"Kerja bagus. Aku mampir hanya ingin memberikan masukkan kepada mu. Aku tadi melihat semuanya dan memaklumi apa yang terjadi. Jangan terlalu keras kepadanya, kemampuannya cukup membuat ku terkejut. Hanya itu saja yang ingin aku katakan. Selamat malam." Ucap Feng pergi meninggalkan ruangan Charlie.


Joy masuk ke dalam ruangan Charlie dan berdiri mejanya.


"Apa kau tau apa yang kau lakukan itu salah?" tanya Charlie dan Joy hanya diam saja tanpa menjawab.


"Kau hanyalah residen sebulan yang ingin mendapatkan pengalaman di ruang UGD sebagai tesis kelulusan mu. Bahkan biodata mu itu hanyalah seorang dokter spesialis yang bukan berkaitan dengan manusia hidup. Tapi apa yang kau lakukan tadi itu?" tanya Charlie.


"Saya mengerti saya melakukan keputusan salah, tapi saya tidak akan melakukan sesuatu yang salah jika saya tidak mampu melakukannya. Saya hanya ingin menolong pasien. Dan saya siap untuk menerima hukuman yang dokter putuskan." Jawab Joy dengan membungkukkan kepalannya dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


"Lain kali jangan lakukan hal yang membuat mu nanti akan rugi. Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan tanpa harus melewati batas." Jawab Charlie.


Setelah itu Joy keluar dari ruangan Charlie dan kembali ke ruang UGD untuk melihat pasien yang masih belum sadar lalu kembali melakukan shif malam bersama dengan para suster.