Krissta Sandreas

Krissta Sandreas
Kedatangan Tamu Asing



Beberapa jam sebelum makan malam, saat Joy pergi keluar untuk mencari makan, Kriss yang sedang berbaring di atas ranjang pasien mendengar suara pintu yang terbuka. Kriss mengira itu adalah Joy yang masuk namun ternyata bukan. Kriss mendengar suara yang berbeda dan lebih memilih untuk mengamati.


"Semua aman, tidak ada orang yang melihat." Ucap seseorang yang sedang memakai baju perawat laki-laki.


"Baguslah. Dimana suntik Euthanasia yang sudah kita sediakan tadi?" tanya seorang lelaki yang menggunakan jas dokter. Euthanasia adalah suntik mati yang dilakukan dokter untuk melakukan tindakan secara sengaja untuk menghilangkan nyawa seseorang. Biasanya suntik ini dilakukan kepada seorang narapidana atau seorang yang memiliki penyakit yang tidak bisa di sembuhkan.


"Apa? Euthanasia? Mereka berfikir ingin membunuh ku?" tanya Kriss dalam hati yang mendengar ucapan mereka masih berada di depan pintu.


"Kita harus segera menyelesaikan misi membunuh gadis ini? Kenapa dia harus selamat dari rencana A kita?" tanya lelaki yang menyamar menjadi seorang dokter itu.


"Ini suntiknya." Ucap lelaki yang memakai baju perawat.


Lelaki yang memakai baju perawat itu memberikan suntik euthanasia kepada lelaki berbaju dokter. Berjalan mendekati tubuh Kriss dan menyuntikan obat euthanasia di dalam kantong infus. Semetara Kriss sudah mencabut infus yang ada di tangannya.


Dua orang lelaki yang diam-diam menyuntikan obat euthanasia dikantong infus di hentikan sebelum menekan jarum. Kriss memberikan tonjokan pada kedua wajah yang ada di samping tempat tidur. Keduanya pingsan seketika tanpa ada perlawanan sama sekali.


"Apa-apaan mereka? Belum mengeluarkan semua tenaga dan mereka sudah tidak sadarkan diri dalam satu kali serangan?" tanya Kriss dalam hati melihat kedua lelaki yang di tinju olehnya sudah terjatuh di bawah lantai.


"Siapa sebenarnya mereka?" tanya Kriss duduk dan memeriksa saku kantong semua pakaian mereka dan menemukan hanyalah identitas mereka sebagai rakyat di negara ini dan dua buah ponsel.


"Hanya indentitas biasa saja. Aku akan coba periksa dua ponsel ini. Tapi sebelum itu, lebih baik membereskan mereka dulu." Ucap Kriss dengan menggunakan handuk kamar mandi yang di robek menjadi dua bagian untuk mengikat kedua tangan mereka setelah menarik mereka berdua ke dalam kamar mandi. Mulut mereka berdua juga di plaster dan kedua kakinya di ikat dengan tali sepatu mereka berdua.


"Begini saja sudah beres, asal perempuan itu tidak akan masuk kedalam kamar mandi." Jawab Kriss dalam hati.


"Kring......kring......" Suara ponsel salah satu lelaki itu berdering saat Kriss sudah selesai mengikat mereka berdua.


"BOS 25." Nama tulisan pada ponsel yang berdering. Kriss mengangkat panggilan itu dan hanya diam saja.


"Kau dimana? Apakah perempuan itu sudah mati?" tanya seorang yang menelpon itu.


"Maaf bos, aku gagal membunuhnya di wisata alam." Jawab Kriss.


"Bodoh. Jadi apa yang kau lakukan sekarang?" tanya panggilan itu.


"Aku sedang ingin membunuhnya dengan euthanasia bos. Nanti aku akan memberi tahukan hasilnya kepada mu." Jawab Kriss.


"Nomor ini?" tanya Kriss langsung mengingatnya sekali lihat. Lalu mematikan kedua ponsel mereka berdua lalu memasukkan ponsel mereka ke jas masing-masing. Kriss kembali ke atas tempat tidur dan mengambil suntikan yang terjatuh di lantai dan memasang infus sendiri. Setengah jam berlalu, Joy datang dengan membawa makan malam kepada Kriss.


Melihat Joy yang sudah tertidur pulas di atas sofa rumah sakit, Kriss mulai memindahkan kedua lelaki itu untuk mengintrogasi mereka berdua.


"Apakah kalian sudah siuman?" tanya Kriss dan mereka tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Aku akan membuka mulut kalian jika kalian menyetujui negosiasi yang aku katakan." Jawab Kriss dan mereka berdua malah saling pandang.


"Kalian sudah tau rasa tinju ku ini? Hanya sekali saja sudah membuat kalian berdua pingsan. Jadi, bagaimana? Apakah kalian mau mendengarkan negosiasi ku? Lebih tepatnya tawaran yang aku katakan." Jawab Kriss. Mereka berdua menganggukkan kepalannya karena takut dengan aura yang diberikan oleh Kriss dan juga mengingatkan kejadian tadi, rasa tinju yang di berikan oleh Kriss adalah tinju pertama yang tepat sasaran dengan tinju terparah yang pernah mereka rasakan.


"Bagus. Jelaskan siapa yang memerintahkan kalian dan alasan kenapa kalian mau membunuh wanita itu? Jika penjelasan kalian tidak masuk akal, aku akan membunuh salah satu dari kalian dan menjatuhkannya dari jendela kamar ini. Kalian sudah tau bukan, ini adalah lantai 25, lantai kamar pasien yang paling atas." Jawab Kriss.


"Jadi, siapa yang mau menjelaskannya?" tanya Kriss. Mereka berdua saling tunjuk namun Kriss langsung membuka salah satu plaster mulut yang menggunakan jas dokter.


"Kau adalah ketua nya, jadi kau saja yang menjelaskan." Jawab Kriss dengan membuka plester nya.


"Maaf tuan, aku benar-benar tidak mengetahui siapa yang menelpon kami. Kami hanyalah pembunuh bayaran yang diberikan misi tingkat S tanpa mengetahui siapa yang akan kami hadapi. Tapi jika itu menyinggung Anda, kami mohon maaf. Itulah jawaban dari kedua pertanyaan anda. Kami berdua tidak mengetahui hal ini dengan jelas. Jadi aku mohon untuk melepaskan kami." Jawabnya.


"Hmmmmmm, jadi kalian berdua tidak mengetahuinya? Baiklah, jadi itu adalah pilihan kalian untuk tidak memberitahu hal ini?" tanya Kriss dengan menatap tajam mereka berdua sehingga mereka berdua berkeringat ketakutan.


"Kami benar-benar tidak mengetahuinya, jika anda tidak percaya silahkan lihat saja di ponselku. Nama orang itu adalah Bos 25. Aku akan menamai semua client dengan nama yang sama. Tim kami tidak pernah mengetahui alasan mereka meminta kami untuk membunuh seseorang dan kami juga tidak di beritahukan tentang apa yang akan di kerjakan oleh kami." Jawabannya.


"Aku sudah menjawab telepon dari bos 25. Dia mengancam kalian berdua tidak bisa menyelesaikan misi maka kalian akan mengetahui akibatnya? Kalimat itu seperti kalimat yang sudah mengenal mereka lama." Jawab Kriss.


"Aku tidak berbohong, aku mohon lepaskan kami berdua. Kami benar-benar tidak mengetahui tentang client yang telah menggunakan jasa mereka. Aku mohon lepaskan kami, huhuhhu." Jawabnya.


"Wajahnya tidak menandakan kebohongan, jadi kali ini aku akan mempercayai." Jawab Kriss dalam hati.


"Baik, aku akan melepaskan kalian. Tapi kalian harus makan ini." Jawab Kriss yang sedang membuka sebuah kapsul darah yang sudah di revolusi menjadi racun ketergantungan yang diberikan untuk seorang musuh. Kriss memaksa mereka berdua meminumnya dan setelah itu melepaskan mereka berdua.


"Apa yang tuan berikan kepada kami ini?" tanyanya.


"Hanya kapsul yang dapat merenggut nyawa kalian kapan saja dan dimana saja. Aku akan melepaskan kalian berdua kali ini. Tapi jangan pernah muncul lagi di hadapan Joy dan aku. Jika kalian melanggarnya. Aku pastikan kalian akan menjadi seorang mayat sia-sia" Jawaban Kriss.