
"Malam dok," ucap suster yang sedang bertugas dan memberikan salam kepada Joy yang sedang mendapat shif malam hari. Joy langsung masuk kedalam kantor dan mulai memeriksa jadwal yang harus dilakukan olehnnya.
Sepasang mata tajam yang begitu mencurigakan sedang mengintai ke arah seorang wanita yang baru saja keluar dari perusahaan ia bekerja. Wanita itu berdiri untuk menunggu supir menjemput dirinya. Satpam yang tersenyum kepadanya saat keluar dan wanita itu berdiri dengan jarak 5 meter dari satpam.
Suara botol kaca di pecahkan seorang lelaki memakai masker, topi dan jaket berwarna hitam yang sedang mengintai wanita itu. Mata tajam penuh dengan dendam tertuju ke arah wanita itu. Suara langkah kaki yang cepat menghampiri wanita itu dan langsung menusukkan dengan sebuah botol kaca yang sudah di pecahkan olehnnya. Dua kali tusukan mengenai perempuan itu.
"Mati saja kau wanita ja****" ucap lelaki itu saat menusuk pertama. Dan satpam itu spontan langsung berjalan ke arah lelaki itu dan memukulnya dengan tongkat pemukul yang ada di samping pinggangnya. Setelah menusukkan dua tusuk ke perut wanita itu, lelaki itu tidak sadarkan diri karena terkena di pukul oleh satpam.
"Ada apa dengan nona?" tanya supir yang baru saja tiba di depan perusahaan.
Satpam berteriak kepada wanita yang sedang memegang perutnya dengan menggunakan kedua tangan.Satpam menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi kepada supir. Tanpa berfikir panjang lebar sang supir bersama dengan satpam mengangkat tubuh wanita itu ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Sementara Satpam itu langsung menelpon polisi untuk segera datang.
Satpam mengikat kedua tangan dan kaki lelaki penyerang yang sedang tidak sadarkan diri. Sedangkan sopir dengan kecepatan laju membawa wanita yang sudah di tusuk 3 kali.
"Nyoya bersabarlah, kita akan segera tiba di rumah sakit." Ucap supir dengan khawatir memberikan semangat untuk bosnya yang sedang menahan sakit. Kedua tangan menahan luka tusuk dan darah segar yang terus mengalir dari luka tersebut.
Jarak perusahaan dengan rumah sakit lumayan dekat sehingga hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Mesin mobil di hentikan dan sopir langsung membuka pintu dan menggendong bosnya untuk masuk ke dalam rumah sakit.
"Tolong suster, tolong bos saya tertusuk potong." Teriak supir berkali-kali hingga suster yang berjaga di UGD langsung mengambil tempat tidur dorong. Wanita itu di baringkan di atas tempat tidur dorong dan mereka mendorongnya masuk ke ruang UGD.
"Mohon tunggu di luar." Ucap Suster yang menutup pintu ruang UGD.
"Bagaimana ini? Dokter sudah pulang hanya ada dokter magang yang berjaga hari ini."
"Panggil dokter itu sekarang dan hubungan kepala pusat bidang kita."
"Baik."
Dengan panik para suster harus bertindak seperti apa? Melihat pasien dengan baju yang sudah basah karena darah dan juga masih ada botol pecah yang menancap di atas perutnya. Mereka tidak tau harus bertindak seperti apa karena tidak ada dokter yang siaga di tengah malam. Hanya ada dokter magang yang akan menjaga ketika malam.
Salah seorang suster berlari lalu mengetuk pintu ruangan Joy. Joy membuka pintu dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh suster. Dengan cepat mereka berdua berlari ke arah pasien yang terkena luka tusuk botol.
"Apa kalian sudah menghubungi kepala pusat?" tanya Joy dan suster mengiyakan. Kepala pusat yang harus saja sampai di rumah kembali lagi ke rumah sakit setelah mendapatkan panggilan darurat.
"Jangan tarik itu, jika kau menariknya itu akan membuatnya langsung mati." Ucap Joy yang baru saja tiba melihat kondisi pasien dan salah satu suster ingin mencabut botol yang ada di perut pasien.
"Berapa lama kepala pusat akan tiba di sini?" Tanya Joy.
"Itu terlalu lama, dia tidak akan bisa bertahan selama itu." Ucap Joy.
"Bagaimana ini dok? Darahnya terus mengalir setidaknya kita harus menghentikannya tapi masih ada botol kaca yang menancap di perutnya?"
"Ambil semua peralatan. Kita lakukan sebisa mungkin sebelum kepala pusat datang." Ucap Joy dengan cepat menaikan baju wanita itu dan mengguntingnya untuk melihat luka yang ada di perutnya.
"Tapi dok....."
"Tidak apa-apa, aku akan bertanggung jawab untuk segala konsekuensinya nanti." Jawab Joy.
"Apa yang akan kita lakukan dok?"
"Operasi kecil, laparotami. Jadi bawakan semuanya yang diperlukan sekarang juga."Jawab Joy.
"Apa ini tidak apa-apa?"
"Ini adalah ruptor aorta, jika kita tidak melakukan apa-apa dia akan mati." Jawab Joy dengan tegas.
"Dok, pasiennya sudah tidak sadarkan diri 5 menit yang lalu."
"Lakukan sekarang juga." Jawab Joy.
"Baik." Dengan cepat mereka mengambil semua peralatan seperti monitor pasien, alat anetesi, obat-obatan dan di saat itu juga Joy sedang mengamati pasien.
Joy memulainya setelah semua peralatan datang dan pasien sudah di selimuti dengan kain operasi. Hanya perutnya yang tidak di tutupi oleh kain berwarna hijau itu. Joy memulainya operasi kecilnya di bantu dengan 3 orang suster yang ada di dekatnya sudah memakai baju operasi juga.
Pisau bedah yang di pegang Joy sudah mulai menyayat perut pasien setelah diberikan obat bius. Sekitar luka juga sudah di bersihkan. Dimulai menyayat pada bagian kulit perut dimana botol itu tertancap. Bovie adalah alat pembedahan elektrosugis yang membantu proses pembedahan setelah melakukan sayatan menggunakan pisau bedah yang dilakukan Joy.
"Lakukan setelah hitungan ketiga." Ucap Joy kepada suster untuk menarik botol yang tertancap di perut pasien. Suster itu menganggukan kepalannya. Joy langsung menghitung dan botol di tarik keluar, darah segar juga keluar dari perut. Suster yang lain membersihkannya dan tangan Joy mulai masuk ke dalam perut pasien dalam melakukan pemeriksaan.
Self retaining retractor adalah alat yang digunakan untuk menahan sayatan luka terbuka. Alat ini letakkan oleh Joy setelah melakukan pembedahan dan penarikan botol kaca. Joy melanjutkan operasinya dengan melihat luka yang terkena oleh botol kaca.
3 orang suster yang melihatnya benar-benar sangat terkejut dengan cara kerja Joy yang begitu tepat dan juga tidak ada nampak wajah tenang dan juga seperti seorang yang sudah berpengalaman. Bahkan 3 suster yang sudah lama bekerja dan memiliki banyak pengalaman namun masih saja terasa menegangkan ketika melihat proses pembedahan.
Mereka terus menggunakan kain kasa untuk menyerap darah yang sudah mengalir keluar dari luka dan suster menyiapkan transfusi darah untuk berjaga-jaga. Suster lainnya juga melihat kondisi pasien di monitor untuk tetap melihat grafik pasien normal dalam proses operasi. Dan segera melaporkan dengan cepat jika grafik berubah dari layar monitor.