Krissta Sandreas

Krissta Sandreas
Pyrophobia



Suara ketukan pintu terketuk 3 kali lalu pintu terbuka, Kriss keluar dari pintu yang terketuk dengan wajah tersenyum dan membawa bingkisan. Terdengar suara Kriss memanggil Joy lalu mengatakan membawa makanan untuk Joy. Joy tersenyum dan melihat Kriss yang begitu semangat datang.


"Bagaimana keadaan mu saat ini?" tanya Kriss yang duduk dan mengambil bingkisan makan malam mereka.


"Lebih baik dari beberapa jam yang lalu. Dari mana saja?" tanya Joy yang menerima makanan dari Kriss.


"Makan dulu, baru kita bercerita." Jawab Kriss yang tersenyum dan Joy menjadi diam tanpa berkata. Kriss mengambil tempat makan yang masih di bungkus lalu membukanya dan memberikan kedua sumpit untuk Joy. Kriss menawarkan untuk menyuapi namun di tolak oleh Joy. Kriss kemudian mengambil makanannya juga dan mereka makan bersama.


Setelah mereka yang menikmati makanan dan memberikan obat kepada Joy, dokter datang bersama suster untuk memeriksa keadaan Joy. Dokter yang memeriksa keadaan Joy sudah baik-baik saja menyarankan untuk menginap satu malam dan besok boleh keluar dari rumah sakit. Joy dan Kriss menganggukan kepalanya. Malam ini mereka istirahat di rumah sakit.


Pagi hari, Kriss sudah membereskan sofa dan membangunkan Joy. Joy yang terbangun dan duduk di atas tempat tidur pasien melihat Kriss mengambil sebuah tas yang dibawa olehnya kemarin malam. Kriss memberikan tas yang berisi pakaian kepada Joy untuk mengganti pakaian.


"Pakai ini, aku akan keluar mengurus administrasi. Setelah itu kita keluar dari rumah sakit bersama-sama." Ucap Kriss kepada Joy lalu pergi keluar.


Mereka bedua berjalan bersama keluar dari rumah sakit dan menaiki taksi. Mereka bedua yang berjalan bersama dilihat oleh Veronica dan para suster lainnya bahwa hubungan mereka begitu dekat dan dipastikan bahwa mereka adalah seorang pasangan kekasih.


Joy dan Kriss keluar dari taksi tepat di alamat apartemen Joy yang telah terbakar. Menaiki lift bersama dan keluar dari lift melangkah beberapa langkah menuju apartemen Joy. Joy berhenti di depan pintu dengan garis polisi dan warna hitam menjadi warna yang terlihat habis kebakaran. Joy memundurkan langkahnya dan menabrak Kriss yang menampung di belakang karena hampir terjatuh.


"Kami tidak apa-apa?" tanya Kriss memegang bahu Joy dan membuatnya berdiri tegak.


"Bisa aku pinjam tangan mu?" tanya Joy menoleh ke samping.


Kriss memberikan uluran tangan kepada Joy. Joy menguatkan dirinya untuk bisa masuk dengan menggandeng tangan Kriss saat berjalan masuk. Kriss melihat wajah Joy yang pucat dan tangan yang bergetar. Faham dengan kondisi Joy yang takut, Kriss menggenggam erat tangan Joy dan berjalan lebih dulu dari Joy untuk menuntun masuk ke dalam apartemen.


"Untuk apa kemari? Bukannya aku sudah bilang bahwa semua barang-barang mu sudah aku pindahkan."


"Aku hanya ingin mengecek sesuatu." Jawab Joy yang menunjuk ke arah kamar rahasia yang pintunya sudah terbuka. Joy melepaskan genggamannya karena di dalam kamar rahasia tidak ada bekas terbakar.


Joy menggeser lemari kecil yang di atasnya terdapat guci kecil. Kriss membantu Joy yang mengangkat lemari kecil itu dengan arahan Joy. Setelah lemari kecil di angkat dan di pindahkan ke tempat lain, Joy menggeser kan lantai putih pada posisi lemari kecil tadi seperti sedang membuka sebuah tempat persembunyian.Ternyata di bawah lemari itu ada sebuah berangkas yang di bawah lantai.


"Apa itu?" tanya Kriss.


"Jangan bertanya apa-apa. Bantu aku untuk membawanya keluar dan bantu aku mengambil pakaian ku yang masih selamat." Jawab Joy.


"Tidak ada pakaian yang selamat. Hanya ada senjata saja. Lebih tepatnya hanya barang-barang yang ada di kamar rahasia ini yang selamat. Pemadam kebakaran datang ketika api hampir saja akan membakar kamar ini. Aku juga baru tau bahwa kamar ini terhubung dengan kamar mu." Jawab Kriss yang mengatakan tentang barang-barang yang bisa di selamatkan dari apartemen.


"Apa?" tanya Joy terkejut. Kriss menarik Joy berjalan ke arah kamarnya dan memperlihatkan kamar Joy yang gosong. Semua sudah menjadi warna hitam. Dan saat itu juga tiba-tiba Joy terduduk di lantai dengan menutup kedua telinganya dan menjerit. Tubuh Joy yang gemetaran dan keringat dingin terlihat jelas di wajahnya.


Kriss terkejut dan langsung memeluk Joy untuk menenangkan, Kriss benar-benar bingung harus melakukan hal apa. Yang terpikirkan hanya memeluk Joy dan langsung mengangkat Joy keluar dari apartemen. Kriss menggendong Joy yang masih ketakutan dan seperti orang yang tidak sadarkan diri. Mereka berada di lorong jalan apartemen menuju ke lift. Kriss terus memanggil Joy dengan lembut bahkan sampai meninggikan suara. Joy mendengar sekilas dan membuat Kriss untuk bertanya tentang keadaannya dan memanggil namanya lagi. Joy menatap Kriss beberapa detik dan tubuhnya lemas namun terlihat bahwa Joy sudah hampir normal kembali.


"Aku.......aku...........Pyrophobia," Jawab Joy dengan terbata-bata memeluk Kriss. Pyrophobia adalah ketakutan yang ekstrem terhadap api.


"Oke aku mengerti. Tenang, tidak ada api di depan mu Joy. Lihat.......lihat wajah ku, lihat wajah ku saja." Ucap Kriss dengan memegang kedua tangan Joy dan meletakkan ke kedua pipi wajahnya. Seolah-olah Joy di perintahkan Kriss untuk melihat wajah Kriss saat ini.


Joy terdiam saat melihat wajah Kriss. Kedua pasang bola mata saling menatap satu sama lain. Tatapan yang seperti sedang berkomunikasi satu sama lain. Joy perlahan-lahan tenang. Kriss yang sudah melihat Joy tenang dan menyuruh Joy diam jangan kemana-mana. Kriss masuk kembali ke apartemen untuk mengambil berangkas itu.


Kriss membantu Joy untuk berdiri dan berjalan bersama. Mereka pergi dari apartemen menuju ke sebuah restoran yang tidak jauh dari apartemen untuk sarapan. Joy sejak tadi hanya diam saja sampai di restoran dan duduk di sebuah meja pada posisi di sudut Utara restoran, tepat di depan kebun bunga yang terlihat dari kaca jendela tempat duduk mereka berdua.


Waiters datang membawa daftar menu kepada Kriss dan Joy. Kriss bertanya kepada Joy untuk memesan apa, tapi Joy hanya diam saja dengan wajah murung. Kriss yang langsung memesan saja tanpa bertanya lagi. Waiters pergi membawa catatan pesanan mereka.


"Jika kau tidak ingin bercerita aku tidak akan bertanya apa-apa. Tapi kalau ingin bercerita aku akan sangat senang untuk mendengarkannya. Aku tau, aku hanya orang asing yang baru kau temui belum sampai sebulan. Jadi tidak perlu memaksakannya." Jawab Kriss yang melihat Joy dengan serius.