KAYANA

KAYANA
08



Satu minggu kemudian aku mengundang Ardi dan keluarganya untuk makan malam dirumah. Ku lihat bunda di teras rumah sedang menyiram bunga-bunga kesayangannya. Ku datangi bunda lalu aku duduk di bangku yang ada di teras yang memang sengaja di sediakan ayah untuk tamu atau untuk kami sekedar duduk santai.


"bun.. Kay ngundang Ardi dan keluarganya untuk makan malam dirumah nanti malam" kata ku mengagetkan bunda.


"loh Kay kok mendadak banget sih, ini udah sore, bunda tidak sempat masak." jawab bunda panik.


"bunda tidak usah masak, tadi kay udah order makanan untuk nanti malam kok bun." kataku meredakan kepanikan bunda ku, sungguh lucu ekspresi panik bundaku saat ini.


Deg... Jantungku seakan berontak karena rasa sakit yang muncul saat mengingat dalam beberapa jam lagi wajah lucu bunda ku akan berubah menjadi, ahh.. Aku tidak sanggup membayangkannya. Ahh.. Muka ku mulai memanas lagi, mata ku mulai berembun. Aku langsung kabur ke kamar mandi untuk menenangkan diri, aku tidak mau bunda melihatku menangis.


"Kay, kamu kenapa nak? Kok tiba-tiba kabur?" Tanya bunda setengah berteriak.


"mules bun." bohongku.


Malam pun tiba, jam 7 lewat beberapa menit Ardi datang bersama papa, mama dan ayah tirinya. Sikap ardi berbeda 180° dibanding saat terakhir kali kami bertemu. Malam ini dia begitu pendiam bahkan dia tidak berani untuk menatap ku. Dan sikap tidak bersahabat mamanya Ardi masih terpancar jelas diwajah mamanya Ardi.. Ahh.. Biarlah sebentar lagi juga ini semua akan berakhir.


Selesai makan malam kami semua pun ngobrol santai di ruang tamu. Selesai membereskan meja makan aku masuk kekamar dan mengambil sebuah box berwarna biru yang aku letak diatas meja rias ku. Ku tatap lekat-lekat box itu, miris, jantung ku terasa ditusuk-tusuk, sakit namun tanpa luka dan darah.


Ku dengar pintu kamar ku di buka, ternyata Qiana yang masuk. Melihat ku menangis Qiana langsung memeluk dan menenangkan ku.


"kakak pasti bisa, kakak pasti kuat. Ini jawaban Allah untuk semua istikhoroh kakak." bisik Qiana.


"ayo kak, kita selesaikan ini semua." lanjutnya sambil menarik lembut tanganku.


"kakak rasa tidak kuat ngebayangin gimana sedihnya ayah sama bunda nanti dek" jawab ku lirih.


Qiana memang galak dan berani. Ahh... Terkadang aku iri dengan sifat pemberaninya Qiana. Akhirnya ku seka air mata ku yang sempat jatuh dengan tisu lalu berbalik badan menuju pintu kamar ku. "bismillahirrohmaanirrohim. Inallaha ma'ana" gumamku sambil membuka pintu kamarku.


ku lihat ayah sedang ngobrol santai membahas rencana pernikahan yang kurang dari 2 bulan lagi dengan papanya Ardi.


"jadi gimana nih mas, udah sampai dimana persiapannya? gak sampai 2 bulan lagi loh mas." tanya papanya Ardi pada ayah ku.


"saya juga kurang tau Sur, semua kay yang urus, kita disuruh santai saja , hehehe.."jawab ayah ku.


"nah itu kay, kita tanya saja" kata ayah ku.


Aku berjalan menunduk kearah orang tua ku sambil membawa box biru di tangan ku. Aku ambil posisi duduk diantara kedua orang tua ku, mencari perlindungan.


"Om.. Tante.. Ayah.. Bunda.. Sebelumnya maaf jika ini mendadak, ada hal yang sangat penting yang ingin kay sampaikan."ucapku getir.


Ku lihat betapa bingungnya mereka semua, tanpa menunggu jawaban mereka ku lanjutkan kata-kata ku. Sebelum ku lanjutkan terlebih dahulu ku serahkan box biru itu ke Ardi, sejalan dengan dibukanya tutup box itu ku lanjutkan ucapan ku yang tertunda tadi.


"Kay, ingin membatalkan rencana pernikahan ini!" ucap ku setegar mungkin.


"APAAA!!" kata mereka kompak.


*********