KAYANA

KAYANA
29



"bagaimana para saksi? Sah?"


"saah"


"Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii Khair. Aamiin."


Kay tak mampu menahan tangis ketika mendengar namanya disebut dalam ijab kabul dan disambut dengan kata "sah" oleh para saksi dan semua orang yang menyaksikan. kini ia sudah tak janda lagi, kini ia sudah menjadi seorang istri lagi. Qiana yang sedari tadi menemaninya didalam kamar juga ikut menangis, ia bahagia melihat kakaknya kini tak sendiri lagi. Ia selalu berdoa untuk kebahagiaan kakaknya dan juga keponakan tersayangnya, aisyah. Qiana memeluk kay dengan penuh haru.


"selamat ya kak. Semoga Allah meridhoi pernikahan kakak. Semoga kakak bahagia dunia akhirat." ucap qiana sambil menangis sesenggukan.


"aamiin allahumma aamiin." jawab kay.


Setelah itu qiana membawa kay keluar dari kamar menuju ruang akad nikah dan diminta untuk duduk di sebelah akbar. semua mata tertuju pada kay, kay tampak anggun dengan gamis berwarna biru muda dan hijab yang menutup hingga keperut bawahnya.


Akbar tersenyum melihat kay yang tampak lebih cantik dari biasanya dan kini wanita cantik itu telah sah menjadi istrinya. Setelah kay duduk disebelah akbar, akbar langsung memegang ubun-ubun kay sembari berdoa.


“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.” (ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)


Dan kay mengamini setiap doa yang diucapkan oleh suaminya. Lalu akbar memberikan mahar yang berupa kalung emas pada kay. Kay tampak malu ketika disuruh untuk mencium tangan akbar, begitu pun dengan akbar, mereka berhasil membuat para saudara mereka gemes dengan sikap malu-malu kucing mereka.


Setelah itu suasana kembali menjadi haru ketika kay dan akbar sungkem dan meminta restu kepada orang tua mereka. Ditambah aisyah yang ikut menangis karena melihat ummanya menangis.


"ayah titip kay dan aisyah sama kamu, ayah percaya kamu mampu mendidik, menjaga dan melindungi kay maupun aisyah. Tolong jangan buat kay bersedih, sudah banyak kesedihan yang di laluinya. Ayah percaya sama kamu." ucap ayahnya kay pada akbar, kay semakin terisak mendengar ayahnya berkata seperti itu, dadanya terasa sakit, ia merasa bersalah karena selalu membuat orangtuanya bersedih.


"insyaAllah yah, akbar akan selalu berusaha untuk mendidik, menjaga dan melindungi kay maupun aisyah." jawab akbar. begitu giliran kay, ia langsung memeluk ayah dan bundanya bersamaan lalu menangis sesenggukan dalam pelukan mereka.


"ayah, bunda, maafin kay karena selalu membuat ayah dan bunda sedih dan khawatir sama kay. Maafin kay karena belum bisa ngebahagiain dan menjadi kebanggaan untuk ayah maupun bunda. Ayah, bunda.. Terima kasih karena selalu ada untuk kay dalam segala kondisi yang tidak menyenangkan dalam hidup kay, terima kasih karena selalu menjadi tempat ternyaman kay untuk bersandar, terima kasih karena sudah menjadi orang tua terbaik untuk kay dan qiana, terima kasih karena sudah menjadi kakek dan nenek terbaik buat aisyah." ucap kay sesenggukan.


Ayah dan bunda kay tak mampu menjawab satupun ucapan kay, mereka hanya mampu mengangguk-anggukan kepala mereka tanda paham dengan apa yang diucapkan kay. Hati mereka begitu sakit ketika mengingat segala cobaan yang pernah dihadapi kay tanpa mampu untuk membantu memikulnya. tapi saat ini ada perasaam lega, karena kay dan aisyah sudah ada yang menjaga selain mereka.


Begitu pun dengan saudara dan sahabat-sahabat kay, mereka juga tak mampu menahan tangis mereka, karena mereka semua tau seberat apa ujian demi ujian yang telah kay lalui. Mulai dari gagal nikah, keguguran, hingga berujung pada kematian suaminya dulu. Mereka hanya berharap dan berdoa agar kay bisa lebih bahagia dipernikahannya yang kedua ini.


***


Malam semakin larut, para tamu juga sudah pulang satu persatu, begitu pun dengan alif dan qiana yang juga ikut pulang kerumahnya karena besok masih harus bekerja. sedangkan Akbar masih tampak asik mengobrol dengan ayah mertuanya, sedangkan kay masih memangku aisyah yang tengah tertidur.


"aisyah biar tidur sama bunda aja malam ini." ucap bunda. Kay tersenyum kemudian mengangguk. Kay kembali kekamarnya setelah memindahkan aisyah kekamar bundanya. setibanya dikamarnya, Ia segera mandi dan membersihkan diri. Badannya terasa lengket.


Drrt.. Drrt.. Ada pesan yang masuk ke ponselnya, ternyata dari suaminya.


Akbar: kamu dimana?


Kay: dikamar mas.


Akbar: dimana?


Kay merasa bingung, perasaan ia sudah memneritahu dimana dirinya tapi suaminya masih bertanya dimana dirinya.


Kay: dikamar mas.


Akbar: maksud mas, kamarnya dimana?.


Kay tertawa membaca balasan dari suaminya itu, ia lupa kalau suaminya belum ia ajak tur keliling rumah jadi wajar kalau suaminya gak tau dimana kamar mereka.


Kay: di lantai atas, sebelah kanan dari tangga.


Tak ada balasan dari akbar lagi.


Drrrt.. Drrt.. Balasan dari akbar.


Akbar: mas didepan pintu.


Kay turun dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya lalu mempersilahkan suaminya untuk masuk.


"mas mandi dulu aja, biar kay pindahkan pakaian mas ke lemari."


"besok aja pindahin pakaiannya. Sudah malam." jawab akbar.


"besok kita masih harus ke sekolah." ucap akbar lagi. Kay mengangguk.


"mas mau teh?" tanya kay.


Sekembalinya kay kekamar, ternyata suaminya sudah selesai mandi dan sedang duduk diatas ranjang. Kay menyerahkan teh yang ia buat tadi pada suaminya. Akbar mengambil teh tersebut lalu menyeruputnya sedikit lalu meletakannya diatas nakas.


Akbar menggenggam tangan kay lembut, kay nampak kaget namun tidak menolaknya.


"kamu ingat tidak kapan pertama kali kita bertemu?" tanya akbar pada kay. Kay tampak berfikir.


"hmm.. Waktu seminar di kampusnya qiana." jawab kay. Akbar menggeleng.


"jadi?" tanya kay penasaran, karena seingatnya hari itulah pertama kalinya ia bertemu dengan akbar.


"dirumah sakit, waktu kamu nolong ummi." jawab akbar. Kay coba mengingat kembali kejadian belasan tahun yang lalu.


"aah.. Iya kay ingat. Iya benar kita pertama kali ketemu di igd rumah sakit. Hehehe" jawab kay. Akbar tersenyum. Hati kay kembali berdesir, senyuman yang pernah membuatnya terpesona.


"mas sama ummi terus nyari info tentang kamu tapi gak pernah dapat, waktu mas mulai nyerah mencari kamu kita malah dipertemukan kembali diacara seminar. Saat selesai acara mas cari kamu tapi kamu nya sudah pulang. Begitu mas tau kamu membatalkan rencana pernikahan, saat itu juga mas berencana untuk melamar kamu, tapi mas telat, kamu udah keburu pindah ke surabaya.


"Sewaktu mas tau kamu calon kakak iparnya alif, mas merasa gak pernah sesenang hari itu. Mas kembali berniat untuk melamar kamu bahkan mas sampai menghayal kita menikah dan punya anak hehehe. mas terlalu sombong sampai lupa siapa pemilik jodoh sampai akhirnya mas tau kalau ternyata kamu sudah menikah.


"Setelah masa iddah kamu selesai juga sebenarnya mas ingin langsung melamar kamu, tapi kamu terlalu insecure, kamu terlalu tidak percaya dirinya untuk kembali berumah tangga. Mas jadi kembali takut untuk melangkah, takut menjadi beban kamu apalagi kita setiap hari bertemu di sekolah. sampai akhirnya mas dalam mimpi kamu, mas istikhoroh selama berbulan-bulan hingga mas yakin dengan keputusan mas untuk melamar kamu dan aisyah.


"alhamdulillah kamu sekarang sudah jadi istri mas, dan aisyah sudah jadi anak mas." ucap akbar.


Kay begitu gak percaya bahwa laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya ini ternyata sudah begitu lama menyukainya. Ia menangis karena rasa haru yang menyelimuti hatinya. Akbar menarik kay untuk duduk di sebelahnya, akbar menghapus air mata diwajah istrinya. Untuk pertama kalinya ia menatap mata seorang wanita selain ibunya, dan itu cukup membuat hatinya berdesir.


"mas gak bisa menjanjikan rumah tangga kita akan selalu bahagia, karena cobaan selalu datang dalam berbagai bentuk dan waktu yang tak pasti. Mas cuma mau kita sama-sama belajar membangun rumah tangga kita menjadi lebih baik setiap harinya, membangun rumah tangga yang di ridhoi oleh Allah." ucap akbar. Kay mengangguk. Akbar mencium ubun-ubun kay lama. akbar merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, ini baru pertama kali ia merasa seperti itu tapi anehnya ia menyukainya.


"mas boleh buka jilbab kamu?" kay kembali mengangguk. Akbar membuka jilbab kay dan meletakannya disamping kay. Ia menatap istrinya. jantung berdegup lebih cepat lagi.


"masih sama cantiknya seperti saat pertama kita bertemu dulu." ucap akbar. Pipi kay memerah seketika, ia merasa malu dengan pujian suaminya. melihat sikap malu-malu kay membuat akbar merasa gemas sendiri.


Akbar kembali mencium kening kay sedikit lama, lalu mencium kedua mata dan kedua pipi kay, lalu mencium hidung kay. Akbar berhenti sejenak, ia menatap kembali wajah istrinya.


Tangan kirinya mengelus rambut panjang kay, sedang tangan kanannya mengelus lembut pipi kay. Akbar kembali mendekatkan wajahnya pada kay, tanpa izin terlebih dahulu akbar mulai mencium lembut bibir kay dan kay sendiri tidak menolaknya. Tangan kanan akbar yang semula berada di pipi kay kini sudah berada tepat di kancing piyama kay.


"boleh mas ambil hak mas malam ini?" izin akbar. Ia tidak ingin memaksa istrinya jika istrinya merasa lelah.


"ambil hak kamu, maka akan aku tunaikan kewajiban ku." jawab kay. Akbar tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia menatap istrinya sebelum ia kembali mencium wajah istrinya. Tangannya mulai membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan kay, hanya tinggal satu kancing yang tersisa.


Tok... Tok.. Tok...


Ummaaaaa... Ummaaaa.... Teriak aisyah..


Uuummmmaaaa..... Buka pintu..... Ummaaa..


Akbar menghentikan aktifitasnya. Kay hanya menggigit bibirnya.


"sepertinya aisyah belum mau punya adek secepatnya." ucap akbar, kay hanya tertawa mendengar candaan suaminya. Kay kembali mengancingkan kancing bajunya, sementara akbar membuka pintu kamar.


"aaabiii." teriak aisyah yang lalu loncat kepelukan akbar.


"maaf jadi ganggu ya bar, ini aisyah tiba-tiba bangun terus nangis nyariin ummanya." ucap bundanya kay merasa gak enak hati.


"gak apa-apa kok bunda. Makasih ya bunda." Ucap akbar. Bundanya kay lalu kembali turun menuju kamarnya. Akbar juga kembali menutup pintu kamar.


"abi bobok sini?" tanya aisyah. Akbar megangguk.


"abi mau bobok sama ais boleh gak?" tanya akbar pada aisyah.


"boleh dong." jawab aisyah, lalu ia melihat kearah kay dan tampak berfikir sejenak.


"umma, abi bobok sini boleh?" tanya aisyah pada kay. Kay mengangguk.


"boleh sayang. Ayo sini bobok lagi. Besok kan sekolah." ucap kay. Kay kembali menidurkan aisyah. Aisyah tidur di sudut dekat tembok, sedangkan kay di tengah dan akbar di pinggir. Setelah aisyah tidur pulas, kay memberanikan diri membalikan tubuhnya menghadap suaminya. Ternyata suaminya juga sudah tertidur lelap, ia menatap suaminya.


Akbar tak setampan rahman, tapi ada keteduhan diwajahnya yang membuat dirinya betah berlama-lama menatap wajah suaminya. Ia merasa bersyukur, lagi-lagi Allah mengganti segala luka yang ia rasakan dengan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya yaitu suami yang sholeh seperti akbar. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur untuk nikmat yang tak terhingga yang Allah berikan untuk hidupnya. Ia hanya mampu bertakbir untuk menunjukkan kesukacitaan dalam hatinya hingga akhirnya ia ikut tertidur.


~T A M A T~