
KAYANA POV
"assalamualaikum.." ucap ku begitu sampai didepan rumah qiana. Tampak sudah ramai disana, ada mas akbar dan ibunya juga, dan beberapa tamu lain yang tidak aku kenal -mungkin saudaranya alif.
"waalaikumsalam.." jawab mereka berbarengan.
"bidadarinya ibun udah nyampe." ucap qiana yang langsung menggendong aisyah. Sejak aisyah lahir qiana menolak untuk dipanggil aunty atau panggilan sejenis lainnya, dia mau dipanggil ibun -singkatan dari ibunda, begitupun dengan alif yang menolak dipanggil om, maunya dipanggil yanda -biar serasi dengan panggilan qiana mungkin. Kata mereka aisyah juga anak mereka, dan panggilan om dan tante hanya untuk orang luar. seperti halnya kalau anak mereka lahir akan memanggil ku umma sama seperti aisyah memanggil ku.
"salim dulu ibunnya nak." ucap kay pada aisyah.
"bubu bubu..." ucap aisyah girang, lalu memeluk qiana erat. Mungkin dia kangen karena sudah lebih dari dua bulan gak ketemu qiana karena qiana harus bedrest.
"ayo turun, nanti ibunnya capek." ucap kay sembari ngambil aisyah dari gendongan qiana.
"yaya.. Yaya.." ucap aisyah menatap kay.
"ayo sini masuk, yanda ada di dalam lagi ngobrol sama om akbar." ucap qiana.
"yanda, ada yang nyariin nih." ucap qiana setelah masuk kedalam rumah.
"yaya yaya" ucap aisyah sambil jalan menghampiri alif.
"wah anak gadis yanda udah bisa jalan ya.." ucap alif sembari menggendong aisyah.
"udah berapa bulan umurnya aisyah mbak?" tanya akbar pada ku.
"mau 13 bulan mas." jawab ku.
"gemesin banget sih kamu.." ucap akbar sembari mencubit pelan hidung aisyah.
"ayo makan dulu kak, biar aisyah sama alif aja." ucap alif, aku mengangguk lalu mengambil makanan yang udah tersaji di meja prasmanan lalu duduk disebalah bunda yang sedang asik mengobrol dengan ibu-ibu lainnya. Selain bunda, yang aku kenal hanya tante dea (mamanya alif) dan umminya mas akbar.
"nak kay apa kabar?" tanya umminya mas akbar.
"alhamdulillah baik bu. Ibu juga apa kabar? Sehat kan?" tanya ku balik.
"alhamdulillah sehat-sehatnya orang tua. Hehee" jawab umminya mas akbar.
"kok gitu? ibu masih keliatan muda gini kok, masih cantik juga, ya kan bun?" jawab ku meminta persetujuan bunda. Bunda mengangguk dan lainnya tertawa. Basa-basi yang menyenangkan semua orang.
"aisya mana kay?" tanya tante dea.
"sama alif tante. Kayanya aisyah kangen udah lama gak ketemu yandanya, begitu ketemu langsung minta gendong." jawab ku.
"padahal omanya disini juga kangen." jawab tante dea.
.
"gitu tuh kalo udah ketemu ibun sama yandanya, jangan kamu, saya aja gak laku, langsung di cuekin sama aisyah." canda bunda.
"mbak katanya akbar ikut ta'aruf lagi ya? Hasilnya gimana?" tanya salah seorang tamu disana, namanya tante iin, adik kandung dari tante dea.
.
"gagal lagi in." jawab umminya mas akbar.
"loh kenapa mbak? Ini yg keberapa mbak?" tanya tante dea.
"ini yang kedua kalinya setahun ini." jawab umminya mas akbar.
"gak cocoknya dimana mba? duh sayang anak ku lajang semua" tanya tante iin.
"yang pertama ngajukan syarat setelah menikah akbar harus tinggal dengan ibunya si perempuan karena dia anak tunggal, terus ibunya juga sudah tua jadi dia takut gak ada yang jagain ibunya.
"terus?" potong tante iin.
"iya dia maunya tinggal di kampungnya di sulawesi, padahal akbar udah ngasih solusi biar ibunya saja yang dibawa pindah kesini.
"terus?" tanya tante iin lagi.
"iya dia tetap ngotot maunya akbar yang ikut pindah ke sulawesi, katanya dia gak masalah kalau saya ikut dengan mereka juga. Tapi akbar gak mau, karena akbar juga kan ngajar disini, belum lagi akbar sering ngisi seminar atau pembicara di radio. Menurut akbar, dia sudah ngasih solusi terbaik tapi perempuannya manolak, jadi akbar milih mundur." jelas umminya mas akbar.
"kalau yang kedua?" tanya tante iin lagi.
"perempuan yang kedua ini janda sudah punya anak 1, anaknya umur 4 tahun." jawab ummi mas akbar.
"karna janda makanya akbar nolak ya mbak?" tanya tante iin lagi
"bukan, akbar gak mempermasalahkan gadis atau jandanya, bagi akbar calon istrinya itu harus sholeha dan mau terus belajar untuk jadi lebih baik." jelas umminya mas akbar.
"jadi kenapa mbak?"
"perempuan itu belum sah bercerai sacara hukum. Tapi memang dia sudah di talak sama suaminya. Makanya akbar mundur. Yah mungkin belum jodoh." jelas umminya mas akbar.
"gimana kalau di jodohkan dengan kay aja mba." canda tante dea.
"wah kay mau aku malah senang banget dek hehehe." jawab umminya mas akbar.
"gimana nih mbak?" tanya tante dea pada bunda.
"saya mah terserah kaynya aja." jawab bunda menatap ku. Sudah beberapa kali ayah dan bunda menyarankan aku untuk nikah lagi, kata mereka aisyah butuh sosok seorang ayah. Tapi aku belum siap memulai hubungan baru dengan masih mengingat hubungan lama. Belum lagi omongan orang kalau aku menikah lagi, padahal belum juga setahun suami ku meninggal.
"gimana kay? Mau gak, hehehe.." tanya tante dea. Aku tau ini hanya sekedar candaan tapi jantung ku kenapa jadi dag dig dug.
"kay gantiin popok aisyah dulu ya tante-tante." ucap ku. Untung qiana datang di waktu yang tepat. Hehehehe.
"gantiin di kamar qian aja kak." ucap qiana. Aku mengikuti qiana kedalam kamarnya. Akhirnya bisa leluasa ngobrol dengan qiana.
"kakak katanya pingin bikin sekolah ya?" tanya qiana.
"iya pingin bikin TK gitu, pinginnya kakak mirip kaya taman tahfiz yang di surabaya. Tapi terdaftar dan terstruktur, punya sistem pembelajaran, dilindungi oleh badan hukum." jawab ku.
"kakak tau gak persyaratan bikin sekolah itu seribet apa? Belum lagi soal dana yang lumayan besar, terus harus ada yayasannya juga, lokasinya dimana, guru-gurunya siapa aja, banyak lagi kak." jelas qiana.
"nah karena itu kakak mau minta tolong kamu untuk bantu, soalnya kakak sama sekali gak ngerti. Lagian percuma dong ada kamu yang pengacara hebat, pasti paham lah masalah beginian." ucap ku.
"soal guru-guru kakak udah nanya teman-teman pengajian kakak dulu yang memang udah ada pengalaman jadi guru TK atau SD, kalau kurang kita kan bisa pasang iklan lowongan kerja." sambung ku.
"oke, satu masalah selesai. Terus untuk tempat kakak udah ada?" tanya qiana lagi. Aku menggeleng.
"kakak udah ada lihat beberapa tempat di sekitaran rumah, ada rumah yang di jual, tempatnya bagus, halamannya juga lumayan luas tapi dalam rumahnya kurang cocok kalau di jadikan TK. Kalau beli tanah terus bikin bangunan TK nya lagi, modalnya juga jadi lebih besar belum lagi jadi memakan waktu." ucap ku. Qiana tampak berfikir.
"hmm... mas akbar punya tanah lumayan luas tapi di perkampungan belakang sini, gak terlalu jauh juga sebenarnya dari jalan raya. Coba kakak tanya-tanya mana tau mas akbar mau beramal terus dijual murah, hehehe." ucap qiana.
"atau mungkin kakak bisa sewa tanah, nanti kita tinggal bangun TK nya. Kan lumayan jadi lebih hemat." lanjut qiana.
"segan kakak nanya ke mas akbar." jawab ku.
"nanti qiana sama mas alif temani." jawab qiana.
***
2 minggu kemudian aku ada janji temu dengan mas akbar tentunya di temani qiana dan alif juga. Kami janji ketemu di mall gak jauh dari rumah ku. Aisyah bermain di playground bersama ayah dan bunda.
Tanpa ku duga, pembicaraan kami berjalan sangat lancar. Dan lagi mas akbar juga tertarik untuk membantu, akhirnya kita sepakat untuk membentuk yayasan kita sendiri dan kepala yayasan sekaligus kepala sekolah nya adalah mas akbar dan aku sebagai wakilnya, untuk surat-suratnya mas akbar dan alif yang akan mengurusnya.
Aku gak tau lagi harus bersyukur seperti apa, Allah memudahkan segala keinginan ku. Aku hanya bisa berharap semoga sekolah yang akan kami bangun ini bisa menjadi ladang amal jariah untuk kami semua, termasuk untuk mas rahman juga. Aamiin.
"ke playground yuk, main sama aisyah" ucap qiana.
"nanti kamu capek dek. Aisyah itu udah aktif banget loh." ucap ku.
"kalau qiana capek kan bisa kasi pawangnya yang lain" ucap qiana sambil mencolek suaminya. Alif mengangguk membenarkan. Ahh.. Aku bersyukur walau tanpa ayah, banyak yang sayang dengan aisyah, insyaAllah aisyah gak kekurangan kasih sayang.
"mas akbar ikut aja, biar nambah 1 lagi pawangnya aisyah." ucap qiana.
"he-eh. Benar tu mas, hari libur ini kan." timpal alif. Akbar tampak berfikir sejenak lalu melihat kearah ku, mungkin dia minta persetujuan ku. Aku tersenyum lalu mengangguk.
"hmm.. Boleh deh." jawab mas akbar.
Seperti yang ku duga, begitu aisyah melihat qiana dan alif ia langsung menghambur pada mereka untuk di gendong.
"bubu.. Bubu.." ucap aisyah sambil merentangkan tangannya ke atas, minta di gendong oleh qiana.
"di gendong sama yanda dulu ya sayang, ibun masih engap abis jalan." Ucap qiana sembari memeluk aisyah.
"sini sini yanda gendong." ucap alif.
"ya.. Ya.. Ya.." ucap aisyah.
"capek ya bun jagain aisyah." ucap ku pada bunda.
"gak juga, untung ada ayah mu jadi bisa gantian bawa aisyah main." jawab bunda.
"ayah kemana?" tanya ku lagi.
"ke toilet. Nah itu ayah mu. Eeh, bareng sama nak akbar." ucap bunda sambil melihat kearah datangmya ayah.
"eeh iya, ketemu di toilet mungkin bun, tadi katanya mas akbar mau ke toilet dulu." jawab ku.
"kamu emang gak mau ya dijodohkan sama akbar?" ucap bunda.
"eeh.." ucap ku kaget.
"yang kemarin dibilang sama mamanya alif itu loh." ucap bunda. Ternyata bunda menganggap serius sedangkan menurut ku kemarin itu hanya sekedar candaan mereka aja.
"tantw dea kan cuma bercanda bun." jawab ku. Ku lihat kearah mas akbar, ia langsung menghampiri aisyah yang di gendong alif. Aisyah langsung minta gendong akbar, sesuatu yang jarang terjadi, aisyah minta di gendong dengan orang yang tidak dekat dengannya.
"ini namanya om akbar sayang" ucap alif memperkenal kan.
"baiiiii." ucap aisyah yang lebih terdengar seperti kata bayi.
"tumben aisyah langsung mau gitu." ucap bunda.
"kay juga kaget bun." jawab ku.
"gimana kalau mereka serius." ucap bunda sambil melihat ku. Aku diam, bingung harus jawab apa.
"kay gak pantas untuk mas akbar bun, mas akbar bisa dapat yang lebih baik dari kay. Apa yang bisa di harapkan dari janda seperti kay." ucap ku spesimis lalu tersenyum pada bunda.
"jangan minder sama dirimu karna status kamu kay, anak bunda semuanya baik. Kamu juga layak dapat yang terbaik seperti dulu, sekarang kamu juga pantas mendapat yang terbaik, seperti nak akbar." ucap bunda. Aku senang dengan jawaban bunda, tapi aku juga takut disaat yang bersamaan. Aku hanya gak ingin ada harapan semu dalam hati ku.
"bi bi bi." ucap aisyah.
"eeh!" ucap ku kaget.