
"assalamualaikum bu melinda." ucap ku melalui line telepon.
"waalaikumsalam. Iya bener. Ini siapa ya?" tanya bu melinda.
"saya akbar bu. Kita kemarin sama-sama jadi pembicara di seminar pra nikah." jelas ku.
"ooh.. Dik motivator toh rupanya. Saya kirain siapa." jawab bu melinda ramah.
"iya bu, kemarin saya nyari ibu tapi ibu udah keburu pulang. Jadi saya minta nomor ibu sama adik-adik panitia." jelas ku.
"aah iya.. Kemarin saya ada urusan mendesak, jadi acara selesai saya langsung pulang. Hehehe." jelas bu melinda.
"jadi apa nih yang bisa saya bantu buat dik motivator." tanya bu melinda to the point.
"hmm.. Gini bu. Kemarin saya lihat ibu ngobrol dengan kayana diruang panitia."jelas ku
"kayana?" tanya bu melinda bingung.
"iya bu. Ibu kenal dengan kayana adera?" tanya ku hati-hati.
"iya saya kenal. Kayana dulu mahasiswi saya." jawab bu melinda
"Tapi ada apa ya dengan kayana?" tanya bu melinda lagi.
"eh.. Gak ada apa-apa bu. Saya cuma mau nanya, apa ibu ada nomor telpon atau alamat rumah, atau alamat kantornya kayana bu?" tanya ku malu.
"ooh.. Kirain ada apa. Kalau boleh tau memangnya ada perlu apa dik motivator mencari kayana?" tanya bu melinda.
"ahh gini bu, dulu kayana pernah nolong ummi saya sewaktu kecelakaan dan juga kayana sempat mendonirkan darahnya untuk ummi saya, sudah lama juga saya dan ummi nyari info tentang kayana tapi gak pernah dapat. Saya dan ummi hanya ingin berterima kasih pada kayana, karna saat ummi saya keluar dari rumah sakit, kita belum sempat mngucapkan terima kasih pada kayana." jawab ku jujur.
"ooh begitu. Saya ada nomor telpon kayana, tapi saya gak tau masih aktif atau gak. Kalau alamat rumah atau alamat kantor kayana saya gak tau dik." jelas bu melinda
"iya gak apa-apa buk." jawab ku.
"Nanti saya send nomor kayana ke kamu ya." ucap bu melinda.
"alhamdulillah. Terima kasih bu.. Maaf udah merepotkan dan mengganggu waktu ibu." ucap ku.
"gak kok, biasa aja."
"sekali lagi terima kasih ya bu. Assalamualaikum." ucap ku.
"waalaiku salam warohmatullahi wabarokatuh." jawab bu melinda kemudian menutup sambungan line telpon kami. Tak berapa lama masuk chat dari bu melinda. Bu melinda mengirim nomor kontak kayana.
"mi, ini akbar udah dikirimin nomor kayana. Tapi gak tau juga masih aktif atau gak." ucap ku.
"dicoba aja dulu bar. Mana tau masih aktif." kata ummi.
Tuut.. Tuuuut.. Tuuttt...
"nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi."
"gak diangkat mi" ucap ku.
"tapi di telpon nyambung kan?" tanya ummi.
"nyambung mi, tapi gak di jawab. Mungkin dia lagi sibuk" jelas ku.
"iya gak apa-apa yang penting nomornya masih nyambung. Kamu nanti coba hubungi kayana lagi ya bar."
"siaap!! Nanti akbar telpon lagi." jawab ku.
Sudah beberapa kali dalam 2 minggu ini aku mencoba menghubungi kayana, tapi tak ada satu pun telpon ku yang di jawab oleh nya.
"assalamualaikum akbar.. Ini saya dapat alamat tempat kerjanya kayana. Kayana kerja di TK Islam Terpadu Assyifa. Jl. Cempedak raya II no. 18."
"waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Alhamdulillah. Terima kasih banyak bu." balas ku. Sebaiknya aku gak kasih tau ummi dulu, takutnya ummi besok ngotot pergi untuk menemui kay sendiri. Sedangkan aku besok harus berangkat ke luar kota untuk mengisi acara seminar pra nikah lagi selama beberapa hari.
Setelah aku pulang dari luar kota ku memberitahu ummi kalau aku sudah tau alamat kantornya kayana.
"ayo besok kita samperin ke tempat kerjanya bar." ajak ummi bersemangat.
"besok gak bisa ummi, akbar sibuk di kampus, besok udah mulai ujian tengah semester, jadi mulai besok sampai dua minggu kedepan akbar bakalan sibuk. Ntar aja setelah selesai masa ujian biar akbar temani ummi." jawab ku sedikit tegas.
"hmm.. Yaudah deh.." ucap ummi manyun.
***
Hari ini aku berencana untuk ke TK tempat kayana mengajar, mumpung hari ini hanya mengawas ujian pagi.
"ahh.. Pas banget waktu anak-anak pulang sekolah" pikir ku.
"assalamualaiku... Maaf, ibu tau ibu kayana?" tanya ku pada seorang ibu yang sepertinya mau menjemput anaknya pulang sekolah.
"waalaikumsalam. Ooh ibu kayana ngajar di kelas firdaus B mas." jawabnya
"terimakasih bu." ucap ku.
"tunggu aja mas, bentar lagi juga keluar ibu kayananya. Anak saya juga di kelas firdaus B mas." jelas bu ibu tersebut.
"eeh.. Itu bu kayana. Kayanya lagi ditarik-tarik seseorang. Siapa ya." ucap ibu lainnya.
"itu bukannya tunangannya bu kayana ya." ucap ibu yang lainnya.
"iih masa sama tunangannya kok kasar gitu sih. Tolongin yuk bu, kasian bu kayana."
"gak berani bu, liat aja muka tunangannya bu kayana, serem banget begitu."
"iya bener, saya aja liatnya takut."
Tanpa sadar tubuh ku bergerak sendiri. " maaf akhi, jangan kasar dengan perempuan!" ntah kenapa ada rasa marah dalam diri ketika melihat kayana dipeelakukan dengan kasar seperti itu.
"jangan ikut campur! Ini bukan urusan lo! Ini urusan gue sama calon istri gue!" mendengarnya aku semakin marah.
"maaf akhi sekali lagi jangan kasar, apalagi sama calon istri sendiri." ucap ku emosi. Wajah pria itu berubah memerah, tak berapa lama sebuah pukulan mendarat di wajah ku.
"astaghfirullah.. Ya allah jangan sampai kau jodohkan kayana dengan laki-laki kasar seperti ini." ucap ku dalam hati.
"akhi baik-baik saja? Maaf akhi karna saya akhi jadi terlibat per.... Mas akbaar!" ucapnya kaget melihat akulah yang menolongnya tadi.
"aah dia tersenyum"
"aauuu!! Lepas di!" teriaknya.
"ardi!! Lepaskan tangan anak saya!!"
"ahh itu ayahnya kayana, syukurlah ayahnya kayana datang. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menyapanya. Setidaknya aku sudah tau status kayana saat ini."
"mas akbar, terimakasih sudah mau menolong saya tadi. Darahnya di lap dulu." ucapnya sambil memberikan tisu.
"ahh.. Ini gak apa-apa kok. Kalau gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum." ucap ku.
"waalaikumsalam".