KAYANA

KAYANA
05



"mba kayana?? Bang hafiz??" ucap akbar bingung sambil melihat kearah aku dan mas rahman (suami ku) bergantian. Jangan bingung, nama suami ku Abdullah Hafiz Dhiaurrahman. Keluarga dan teman dekat memanggilnya Rahman, sedangkan teman-teman sekolahnya dan guru-gurunya memanggilnya Hafiz. aah.. apalah arti sebuah panggilan, ya kan.


"masyaAllah akbar, kaifa haluqa?" tanya mas rahman sambil menjabat dan memeluk mas akbar.


"alhamdulillah, baik bang. Abang juga gimana kabarnya? Sudah berapa lama kita gak ketemu ya?" jawab akbar sembari membalas jabatan tangan dan pelukan suami ku.


"wah sudah lama banget, terakhir itu kita ketemu kalau gak salah itu saat kamu wisudaan bar." jawab mas rahman.


"mas rahman kenal dengan mas akbar??" tanya ku penasaran.


"iya dulu akbar junior mas di kampus, cuma kita beda fakultas tapi satu organisasi. Tapi walau akbar ini junior mas, tapi dia duluan yang lulus kuliahnya daripada mas, hehehe" jelas rahman yang ku jawab dengan ber ooo ria.


"kamu dan akbar juga saling kenal sayang?" tanya mas rahman.


"dulu kay pernah datang ke acara seminar di kampusnya qiana mas, kebetulan mas akbar salah satu pembicaranya. Terus juga mas akbar pernah nolongin kay ditempat kerja, kay udah pernah cerita kan mas?" jelas ku.


"masyaAllah dunia ternyata memang sempit ya." ucap mas rahman.


"oiya, tadi kalo gak salah dengar mas akbar manggil bu maryam ummi ya?" tanya ku.


"aah iya, bu maryam ummi saya." jawab akbar.


"masyaAllah.. Benar ternyata kata orang-orang kalau bumi itu tak selebar daun kelor, Allah mempertemukan kay dengan bu maryam setelah lebih 10 tahun gak bertemu, begitupun dengan kamu dan mas akbar, mas. Siapa sangka ternyata bu maryam itu ibunya mas akbar, kamu suami ku, dan mas akbar pasti dari pihak mempelai pria kan?" ucap kay.


"iya, saya sepupunya alif." jawab akbar.


"wah kalau gitu sekarang kita jadi keluarga ya kan sayang?" tanya mas rahman pada ku, yang ku jawab dengan anggukan.


"bang hafiz sekarang tinggal disini atau masih di Surabaya?" tanya mas akbar.


"kita masih tinggal di Surabaya bar, ini karena qiana menikah makanya kita balik kesini." jawab mas rahman.


"berapa lama disini bang? Mari mampir kerumah sebelum balik ke Surabaya." undang mas akbar.


"ooh mba kay sedang hamil? Sudah berapa bulan mba?" tanya mas akbar pada ku.


"alhamdulillah sudah 8,5 bulan mas." jawab ku. Banyak memang yang tidak menyadari kehamilan ku, padahal usia kandungan ku sudah 8,5 bulan, hanya tinggal menghitung hari hingga tiba waktunya aku melahirkan. Mungkin karna gamis yang besar dan juga jilbab ku yang menutupi hingga seatas dengkul ku, jadi banyak yang tidak menyadari kalau saat ini aku sedang hamil.


"wah sebentar lagi ya.. Semoga Allah melindungi dan melancarkan hingga proses persalinan ya mba kay, bang hafiz." doa mas akbar.


"aamiin ya Allah" jawab ku dan mas rahman bersamaan.


"kalau gitu saya dan ummi pamit dulu ya, sudah mulai sore, takut macet juga." ucap mas akbar.


"ooh kalau gitu saya minta nomor WA kamu bar, insyaAllah nanti saya kabari kalau mau main kerumah kamu." ucap mas rahman.


"ooh boleh bang, ini nomor WA saya." ucap mas akbar sembari menunjukan nomor WA nya untuk disalin mas rahman di kontak teleponnya. Setelah itu mas akbar dan bu maryam pamit kepada kepada kami dan juga kedua mempelai. Namun sebelum pulang bu maryam mencium dan memeluk ku, erat sekali.


*Author POV


"Sudah ummi, ummi jangan nangis lagi. Semua ini udah takdir Allah. Kay bukan jodoh akbar." ucap akbar menenangkan ummi nya. Pasalnya mulai dari mereka meninggalkan rumah kay hingga mereka tiba dirumah, ibunya itu terus saja menangis.


"Tapi ummi maunya kayana yang jadi istri kamu, jadi mantunya ummi hiks.. Hiks.." ucap bu maryam lirih.


"ummi selalu berdoa sama Allah agar kayana bisa berjodoh dengan kamu.. Hiks.. hiks.., ummi sudah bertahun-tahun berdoa meminta supaya Allah menjadikan kayana mantunya ummi.. Hiks.. Hiks.." ucap bu maryam.


Hati akbar begitu teriris melihat air mata ibunya, terlebih apa yang menjadi doa ibunya juga merupakan doa yang selalu ia ucapkan selepas sholat wajib dan sholat malamnya sejak bertahun-tahun lalu, sejak ia bertemu pertama kali dengan kay dirumah sakit ketika kay menolong ibunya yang menjadi korban tabrak lari.


Paras cantik kay mampu memberi desiran di hati akbar kala itu, terlebih ketika ia tau kalau kay selalu datang kerumah sakit sepulang sekolah untuk menjaga dan merawat ibunya semasa ia tak bisa menjaga dan merawat ibunya dirumah sakit karna harus kuliah. ia yakin yang ia rasa sejak saat itu adalah cinta.


"Allah punya rencana yang lebih indah buat kita ummi. Allah tau yang terbaik untuk akbar, untuk ummi, untuk kayana juga." ucap akbar menenangkan hati umminya walau hatinya sendiri juga sudah luluhlantah oleh kekecewaan.


"Allah sedang mempersiapkan calon mantu terbaik untuk ummi, ummi jangan sedih lagi ya, Allah lebih tau mana yang terbaik untuk kita daripada kita sendiri." ucap akbar sembari memeluk umminya.


"akbar siap-siap dulu mau ke mesjid ya ummi, sebentar lagi maghrib, ummi juga jangan nangis terus." ucap akbar sembari berlalu meninggalkan umminya menuju kamarnya.