KAYANA

KAYANA
05



Akhirnya sesi pertama selesai, lalu dilanjut dengan sholat berjamaah yang diimami oleh akbar dan setelah itu lanjut makan siang bersama. Sekarang masuk pada sesi kedua, tanya jawab dan diskusi. Satu persatu mulai bertanya tentang materi yg disampaikan, sudah 1 jam sejak sesi kedua dibuka tapi tidak ada satupun dari isi materi dan pertanyaan dari audience yang menyangkut dengan masalah ku sedangkan aku begitu sungkan untuk bertanya dan menceritakan masalah ku didepan banyak orang. Tiba-tiba ada seorang wanita yang bertanya pada Akbar tentang kalimat penutupnya.


"ternyata ada juga yang penasaran dengan kalimat tersebut selain aku" pikir ku.


"Assalamualaikum mas Akbar, nama saya Naura, usia saya 20 tahun, sudah menikah dan sudah memiliki satu orang anak. Pada kalimat penutup tadi, mas akbar mengatakan bahwa pernikahan bukanlah muara dari cinta melainkan hulu dari cinta, dan itu sangat membingungkan buat saya. Bukankah tujuan muda mudi yang saling mencintai adalah pernikahan, jadi bagaimana mungkin pernikahan bukan muara untuk cinta." tanyanya, pertanyaannya hampir sama dengan apa yang ada dalam benak ku.


"Waalaikumsalam wr. wb. Mbak Naura. Begini mbak Naura, bukankah muara dari sungai adalah laut?" tanya Akbar.


"benar mas." jawabnya.


"terus apakah air yang dari sungai hanya diam?" tanya Akbar lagi.


"tidak dia bergerak, mengalir ke laut." jawabnya.


"ketika sudah sampai laut apakah air itu hanya diam (terpisah) atau bercampur dengan air yang lainnya?" tanya Akbar lagi.


"bercampur" jawabnya cepat.


"apakah setelah bercampur mereka hanya diam ditempat?" tanya Akbar lagi.


"maksudnya mas?" jawabnya bingung.


"maaf saya ubah pertanyaan saya. Mbak naura tau seberapa luas lautan di bumi ini?" Tanya Akbar lagi.


"berarti mbak tidaklk tau persis berapa luas lautan di bumi ini. Jadi kita tidak tau air yang dari hulu A terus bermuara di laut A akan bercampur dengan air yang ada dilautan hingga seberapa jauh. Bisa jadikan molekul air dari hulu A itu ternyata sudah bercampur hingga ke lautan di Eropa sana. Yang berarti air tersebut tidak diam melainkan bergerak, tidak statis melainkan dinamis. Begitu juga dengan pernikahan, pernikahan itu tidak statis (diam) melainkan dinamis (bergerak).


"Mari kita anggap saja pernikahan itu sebuah lautan dan cinta itu ada dihulu dipangkal sungai. Contoh pertama perjalanan cinta sepasang muda mudi seperti yang mbak Naura bilang tadi. Air yang mengalir dari hulu ke muara kita anggap perjalanan cinta kita yang sering disebut sebagai pacaran. Yang namanya perjalanan pasti membutuhkan bekal, baik bekal jasmani maupun rohani. Nah ternyata jalan dari hulu kemuara itu tidak sebentar dan butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai kemuara. Selama perjalanan panjang tersebut pasti kita butuh bekal selama kita diperjalanan, kalau tidak ada bekal mungkin kita bisa kelaparan dan kehausan.


"Saat awal memulai perjalanan bersama (pacaran) mungkin mereka berfikir untuk mencari perbekalan bersama, tapi mereka lupa, orang yang sedang kasmaran biasanya selalu lupa akan dunia disekitarnya, dunia hanya milik mereka berdua. tidak sadar selapar dan sehaus apa mereka, hanya ada rasa kenyang akan cinta diperut mereka, hingga tiba-tiba mereka sadar sudah hampir sampai pada muara (pernikahan) akhirnya mereka sadar kalau mereka tidak punya bekal apapun. Akhirnya mereka berusaha utk mengumpulkan bekal, tapi sebanyak apa bekal yang dapat mereka kumpulkan jika garis finish sudah didepan mata, sedangkan mereka lupa bahwa lautan itu begitu luas untuk diarungi, sedangkan bekal mereka sangat sedikit untuk diri sendiri apalagi untuk dibagi berdua. Ketika mereka memulai mengarungi lautan rumah tangga ternyata bekal mereka telah habis. Lalu Apa jadinya dengan pernikahan mereka yang terombang ambing di gelombang lautan? Mbak naura pasti bisa membayangkannya kan?


"Mari kita bandingkan dengan contoh kedua ini yaitu orang-orang yang menganggap pernikahan adalah hulu (awal) dari cinta, yaitu orang-orang yang menikah tanpa melewati fase pacaran. mereka sama-sama memulai perjalanan menuju muara dari hulu yang berbeda, tidak pernah bertemu atau bersama sekalipun. selama perjalanan menemukan muara mereka fokus mengumpulkan bekal untuk diri mereka sendiri dan sesekali mengumpulkan bekal untuk calon kekasihnya di muara nanti. Tanpa terduga mereka bertemu didepan muara, dan memutuskan untuk menuju muara yang sama.


"Dengan perbekalan yang banyak mereka pasti lebih siap mengarungi luasnya lautan rumah tangga. Ketika badai datang, mereka sudah tau layar mana yang harus dikembang, tanpa menunggu lapuk sudah tau bagian kapal mana yang harus di tambal.


"Yang saya maksudkan bekal sedari tadi adalah ilmu, ilmu untuk mengarungi lautan rumah tangga. Orang yang pacaran biasanya asik sendiri dengan dunianya tanpa mau melihat realita disekitarnya hingga lupa menyiapkan bekal untuk kedepannya (pernikahan), setelah menikah mereka baru sadar seharusnya mereka jangan melakukan ini dan itu. sedangkan nasi telah menjadi bubur, hingga akhirnya perceraian menjadi obat yang paling manjur untuk hati yang keburu hancur. Sekian dari saya, Maaf jika pernyataan saya terlalu panjang. Hehhee.. Apakah masih ada yang belum jelas mbak naura?"


"tidak ada, saya sudah paham maksud mas akbar" jawabnya, ntah kenapa ada rasa kesal didalam hatiku, aku merasa kerdil karna hanya berani menunggu orang lain untuk bertanya pertanyaan yang aku fikirkan.


"Baiklah ada yg mau bertanya lagi??" tanya moderator, sekilas ku lihat Qiana melirik dan mengedipkan mata kearah ku.


Penjelasannya tadi sedikit mengguncang nalar ku. Aku merasa kerdil dan tersudutkan dengan penjelasan akbar tadi. Sejak awal aku beranggapan bahwa semua akan baik-baik saja dan akan berjalan lancar hanya karna aku mengenal ardy sejak aku kecil.


Untuk beberapa detik aku sempat merasa bahwa pandangan aku dan Akbar bertemu dan dia tersenyum padaku. Ahh.. Mungkin hanya perasaan ku saja.


Sesi tanya jawab tinggal setengah jam lagi, cepat sekali waktu berlalu, masih banyak pertanyaan dalam benak ku, dan aku masih mau mendengarkan penjelasan dari Akbar. Aku seakan haus akan penjelasan-penjelasan darinya, aku ingin mendengar pendapatnya tentang situasi yang sedang aku alami saat ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.