KAYANA

KAYANA
17.



Siska POV


Udah 3 minggu sejak aku dan ardi kepergok ijal, dan sekarang ardi sama sekali gak ada kabar. Telpon ku selalu di reject dan chat ku juga udah seperti koran yang hanya dibaca dan tak pernah dibalas.


"maaf di lo yang ngilang gitu aja, gue bakal bikin lo balik dan bertanggung jawab sama anak dalam kandungan gue." ucap ku dalam hati. Ku ambil hp lalu aku mulai mencari kontak kay dan mulai menghubunginya.


"kay, gue hamil anak ardi." ucap ku. Aku yakin kay benar-benar terpukul dengan kabar kehamilan ku ini, apalagi faktanya yang menghamili ku adalah ardi -calon suaminya.


"kalau lo gak percaya, ayo kita ke dokter. Bahkan gue berani buat test DNA. Karna gue cuma pernah melakukannya dengan ardi." ucap ku.


Setelahnya hanya ada suara isak tangis kay yang ku dengar. "maaf kay, gue tau ini nyakitin lo. Tapi ardi memang gak pantes buat lo, lo terlalu sempurna buat ardi. Lo terlalu sempurna buat nerima kenakalan ardi." ucap ku dalam hati.


Beberapa hari setelahnya kay menelpon ku, tapi yang berbicara Qiana (adiknya kay). Qiana mengajak bertemu untuk mengecek kehamilan ku dan juga untuk mendengar cerita kenapa semua ini bisa sampai terjadi.


Setelah selesai periksa dan USG kandungan, kami duduk di taman mini di lantai teratas rumah sakit ini, dan disana lah aku mulai menceritakan awal mula bencana ini hingga terakhir saat aku menjebak ardi. Gak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Qiana mendengarkan ku dalam diam namun matanya menatap tajam kearah ku. Membuat ku merinding, membuat ku sama sekali tidak bisa berbohong. Sedangkan kay hanya menunduk dan menggenggam erat tangannya, sesekali badannya terlihat bergetar karena menahan tangis.


"semuanya harus tau, ardi harus bertanggung jawab dengan perbuatannya, ardi harus bertanggung jawab dengan bayi yang ada dalam kandungan kamu, sis." ucap kay tersenyum mematap ku. Terlihat jelas gurat luka di wajahnya tapi ia sama sekali gak menghakimi ku, bahkan ia masih bisa tersenyum melihat ku..


Aahhh.. Sekarang aku tau kenapa ardi sama sekali gak tertarik dengan ku. Kenapa ardi sampai sebegitu takut dan parnonya kehilangan kay.


"lo bodoh di, lo bodoh banget. Lo nyia-nyiain kay dengan ngikuti pergaulan teman sekantor lo! Lo bodoh banget di." umpat ku dalam hati. Sakit banget rasanya melihat ketegaran kay. Tangis ku pecah seketika. Aku malu sama kay.


"astaghfirullah siska, kamu jangan seperti ini. Aku memang kecewa, aku marah, tapi aku gak benci sama kamu ataupun ardi, semua udah terjadi. Disesali seperti apapun juga gak merubah kenyataan bahwa kamu dan ardi sudah pernah berhubungan layaknya suami istri dan sekarang kamu mengamdung anaknya ardi. Mungkin ini jawaban dari Allah untuk semua doa-doa ku, sis. Mungkin ardi memang bukan jodoh ku." ucap kay.


"ayo duduk sini, kasian dede bayinya." ucap kay sambil membantu ku kembali duduk di depannya.


"aku punya ide." qiana buka suara. Iya pun menceritakan idenya kepada kami. Aku dan kay setuju. dengan idenya qiana. Kay mulai menghubungi ardi dan keluarganya, mengundang mereka untuk makan malam bersama dirumahnya malam ini. Ajakan makan malam kay di sambut baik oleh ardi dan keluarganya.


***


Selama makan malam berlangsung, aku bersembunyi di kamar qian. Kay dan qiana begitu baik, bahkan sebelum waktunya makan malam mereka sudah menyuguhkan ku dengan berbagai makanan.


"makan yang banyak. Anak lo juga butuh energi buat ngelewati ini semua." ucap qiana datar. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Awalnya aku sama sekali gak lapar, sama sekali gak niat untuk makan sedikit pun tapi begitu mencium aroma masakan yang ada di hadapan ku perut ku mulai keroncongan. Ah.. Mungkin bawaan bayi.


Tak lama setelah selesai makan malam, terdengar suara kegaduhan dari luar kamar ini. Suara teriakan, makian, juga isakan tangisan dari luar sana terdengar jelas oleh ku. Nyali ku mendadak menciut. Rasa takut dan bersalah tiba-tiba menyelimuti ku.


Ckleek... Pintu kamar di buka oleh qiana.


"sekarang giliran lo buat ngejelasin ini semua. Setelah semua ini selesai, ardi milik lo jadi jangan sampai lo ngebiarin dia ganggu kakak gue lagi." ucap qiana lalu kembali berjalan keluar, aku mengikutinya dari belakang.


Ku lihat wajah ardi yang begitu kagetnya melihat ku yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Begitu pun dengan papa mama dan yang lainnya. Aku gak tau akan sesakit ini melihat orang tua ku menangis seperti ini. Mereka memang bukan orang tua kandung ku tapi mereka tulus menyayangi ku begitu pun sebaliknya dengan ku. Bahkan aku terkadang lupa kalau aku hanya anak angkat papa dan anak tiri mama.