
"assalakualaikum om, tante, anis." ucap kay dan suaminya hampir berbarengan.
"waalaikumsalam warahmatullah" ucap mereka serempak.
"sudah lama nyampe sininya om?" tanya kay.
"hampir satu jam lah, tadi jalan lumayan lancar, jadi cepat nyampenya. Lah kalian yang berangkatnya duluan kok ya baru nyampenya sekarang?" tanya om nya kay.
"iya om, tadi dijalan kay ngeliat siomay jadi kepingin, yaudah kita melipir dulu makan siomay. Untung driver ojolnya baik." kay jadi tersenyum malu mendengar penjelasan suaminya itu.
"oalah, pantesan." ucap anis.
"ada yang dibungkus gak mbak buat anis." sambungnya lagi.
"habis dek, tadi mbak makan di mobil. Hehehe" jawab kay nyengir.
"mbak tega iih.. Terngiang-ngiang deh itu siomay. Siomay ooh siomay." ucap anis mendramatisir.
"oiya nis, tadi driver ojolnya katanya kenal sama kamu loh!" ucap kay mengalihkan pembicaraan.
"siapa mbak?" tanya anis penasaran. Pasalnya memang ada beberapa orang teman dan seniornya di organisasi yang part time menjadi driver ojek online.
"banyu nugroho kalo gak salah tadi namanya, ya kan mas?" jelas kay pada anis lalu beralih meminta persetujuan pada suaminya yang dijawab anggukan oleh suaminya itu.
"oh, mas banyu. Iya dia senior anis di organisasi. Mas banyu itu hebat loh mbak, dia itu Fakultas keguruan jurusan matematika, semester akhir, mantan ketua BEM, sama mantan ketua organisasi yang anis ikuti. Dia memang partime jadi ojol, katanya skripsian butuh banyak biaya makanya dia jadi ojol biar gak ngerepotin orang tua katanya" jelas anis antusias
"waduh, lengkap banget penjelasannya, udah kaya CV kamu dek." jawab kay.
"gak boleh pacaran ya nis!" ucap om bima, papanya anis.
"yeee... Siapa yang pacaran sih pah, anis gk pacaran kok." jawab anis cepat.
"demen-demenan juga gak boleh!" ucap om bima lagi, kali ini lebih tegas dari sebelumnya.
"siap komandan! Dimengerti!" ucap anis.
"bener itu kata papa kamu nis. Pacaran itu banyak ruginya. Cuma bikin sakit hati sama sakit dompet doang." timpal kay.
"iya paham-paham. Anis gak pacaran loh, gak demen-demenan juga. Mending chek in deh." ucap anis manyun.
"ada yang manyun tuh." goda kay sembari mendorong troli untuk chek in.
Selesai chek in mereka semua menunggu diruang tunggu keberangkatan. Setengah jam kemudian mereka mulai memasuki pesawat, kay melirik keluar jendela, ini kali pertama ia pulang sejak ia memutuskan untuk melanjutkan S-2 nya di Surabaya. Bahkan saat pernikahannya dulu juga dilaksanakan segala proaes hingga akad dilaksanakan dirumah om nya di Surabaya.
Jantungnya ntah mengapa berdebar tak karuan, ada rasa takut menyusup masuk ke hati nya. Ia takut kembali bertemu ardi atau pun siska, ia sama sekali gak membenci keduanya tapi ntah kenapa trauma didalam dirinya tak kunjung hilang hingga saat ini.
.
"makasih mas." ucap kay.
"sama-sama sayang."
Tidak lama pesawat yang mereka naiki mulai take off. Satu setengah jam berlalu, kini mereka sudah tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah mengambil bagasi kay mencari-cari sosok ayahnya diantara kerumunan orang-orang yang sedang menunggu di depan pintu keluar terminal kedatangan dalam negeri. Tak lama ia melihat sesosok pria yang sangat sangat ia rindukan. Melihat senyuman diwajah ayahnya, rasa rindu yang ia simpan mendadak mendobrak keluar melalui air matanya.
"kay rindu ayah." ucapnya sembari memeluk ayahnya erat.
"ayah juga rindu kamu." ucap ayahnya kay sembari mengelus kepala kay.
"gimana kabar kamu nak? Sehat?" tanya ayahnya kay.
"alhamdulillah. Ayah sehat? Bunda gak ikut yah?" tanya kay.
"alhamdulillah ayah juga sehat. Bunda lagi nunggu orang dekor makanya gak ikut, terus juga td lagi banyak tamu teman-teman qiana, jadi bunda gak enak kalau ninggalin mereka sendiri dirumah." Setelah melepas rindu dengan anak sulung, menantu, serta adiknya kesayangaanya (om Bima). Ayahnya kay mengajak mereka untuk segera pulang.
Sesampainya dirumah, kay langsung menyusuri seisi rumah, tujuannya satu, mencari bundanya. Rasa lelah selama perjalanan langsung hilang saat kay memeluk serta menghirup aroma tubuh bundanya. Ia rindu bau tubuh bundanya, ia rindu hangatnya pelukan bundanya, ia rindu nasehat-nasehat dari bundanya, selain itu ada satu hal yang paling dirindukan oleh kay yaitu masakan bundanya. Padahal ia sering menanyakan resep masakan pada bundanya, tapi tak pernah ada satupun masakannua yang rasanya pas seperti masakan bundanya.
"bunda, kay pengen nasi goreng buatan bunda." rengek kay.
"iya nanti bunda buatin buat makan malam, kamu bersih-bersih terus istirahat. Jangan langsung gosip sama qian, kasian calon cucu bunda." ucap bunda.
"siap bunda." ucap kay. Lalu berbalik menuju kamarnya yang dulu. Sebelum ia masuk kekamarnya, ia sempatkan untuk mengintip Qiana, adik semata wayangnya di kamar.
"duh calon manten di kamar aja. lagi dipingit yaa. hehehe" ucap kay mengagetkan qiana.
"kak kay." pekik qiana, dan langsung berlari memeluk kay.
"kangeeen" lanjutnya.
"halo sayang, ini aunty qian. Sehat selalu ya dedek bayi, jadi anak yang sholeh dan selalu dalam lindungan Allah." ucap qiana sambil mengelus dan mencium perut buncit kay.
"Aamiin Allahumma Aamiin.. Maacii aunty qian." jawab kay.
"aunty qian, aku sama umma istirahat dulu yaa. Nanti malem baru kita main bareng.." ucap kay.
"oke deeh." jawab qiana. Sebenarnya banyak yang ingin ia ceritakan kepada kakaknya itu, apalagi sudah lama banget mereka tak bertemu tapi ia urungkan mengingat kondisi kakaknya yang sedang hamil besar.
Setelah sekian lama merindukan masakan ibunya, hari ini rasa rindu kay terobati. Bukan hanya nasi goreng seperti permintaannya tadi, tapi bundanya juga masak hampir semua makanan kesukaan kay. Suaminya kay hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya. Tapi ia bersyukur karena bisa kembali melihat rasa bahagia yang tepancar jelas diwajah istrinya.
Ia teringat hari-hari dimana istrinya lebih sering menangis daripada tersenyum, hari-hari dimana istrinya murung dan menyalahkan diri sendiri, hari-hari dimana mereka kehilangan calon anak pertama dan kedua mereka.
Dikehamilan kay yang ke-3 ini, kay benar-benar menjaga kehamilannya, mulai dari resign dari pekerjaannya, minum vitamin, kontrol kedokter bahkan sampai sebulan 2x, sampai menjaga pola makan dan menjaga pola pikir agar tidak stress. semua mereka lakukan agar tidak kehilangan calon anak mereka untuk ketiga kalinya lagi.
Selesai makan kay izin kepada suami dan keluarganya untuk kekamar qiana. Sudah tak sabar rasanya ia ingin berbagi cerita dengan adiknya itu.