
•KAYANA POV•
Pernikahanku hanya tinggal 3 bulan lagi, entah kenapa ada hal yang berbeda yang aku rasa, hati ku terasa berat untuk terus melangkah. Aku seakan tidak mengenal sosok Ardi, pria yang akan menjadi suamiku. Padahal aku sudah mengenalnya hampir seumur hidupku (karena kami adalah teman sekolah sejak SD hingga kuliah) dan sudah berpacaran sejak 3 tahun yang lalu.
Dulu saat berteman rasanya sangat bahagia karena selalu tersenyum oleh kekonyolannya, sampai suatu hari Ardi menyatakan cintanya dan ya, aku menerimanya begitu saja, toh tidak akan ada perbedaannya antara berpacaran dan berteman, fikirku saat itu.
Setelah 2 tahun 8 bulan berpacaran, Ardi mengajak untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, pernikahan. Dan aku juga menerimanya begitu saya, toh selama ini semua baik-baik saja dan sejauh ini aku juga merasa bahagia saat bersama dengannya jadi pasti tidak akan jauh berbeda antara berpacaran dan berumahtangga, fikirku saat itu.
Sudah 4 bulan sejak pertunangan aku dan Ardi, hanya tinggal 3 bulan lagi menuju hari "H" dan entah mengapa hati ku terus resah dan bergejolak, fikiran ku mulai menghubungkan setiap rangkaian peristiwa sejak lamaran 4 bulan yang lalu.
Berawal dari wajah ibunya yang terus saja menunjukan wajah kesal dan pandangan meremehkan saat memandang ku dan kedua orang tua ku. Dari awal aku juga sudah tau kalau ibunya tidak setuju dengan lamaran ini. Tidak.. Tidak.. Ibunya bukan tidak suka dengan ku, dulu ibunya sangat sayang dengan ku, bahkan sejak dulu ibunya selalu mendesak ardi untuk segera melamar ku.
Jadi apa maksud dari tatapan ibunya ardi terhadapku dan keluarga ku??
Tentu saya orangtua ku menyambut baik permintaan calon besannya itu. Tanpa ditanya calon ibu mertuaku itu memberitahu alasannya untuk memajukan tanggal pernikahan kami, ternyata menurut sesepuh keluarganya Ardi 2 minggu setelah lamaran adalah tanggal baik kami untuk menikah, jika tidak menikah ditanggal itu pernikahan kami tidak akan bertahan lama bahkan ibunya Ardi akan mati karena menikahkan anaknya ditanggal sial.
Tentu saja ayah dan ibuku kaget mendengar alasan itu, alasan yang sangat tidak masuk akal bagi orang tua ku. Tentu saja ayah ku menolak dengan tegas, ayah dan ibu ku tidak mau terlibat dalam hal kemusyrikan. Ibunya ardi yang tidak terima dengan penolakan ayah dan ibuku langsung murka.
"jadi kalian mau aku mati!! Kalau kalian tidak mau mengukuti kemauan ku l, lebih baik batalkan saja pernikahannya!!"
"lebih baik pernikahan ini batal Ris, dari pada anak kami terjerumus pada kesyirikan!" jawab ayah tegas.
Wajah ibunya Ardi tambah memerah karena menahan amarah, lalu seketika berdiri dan meninggalkan ayah dan ibu sambil mengumpat pelan. Sejak kejadian itu perlakuan ibunya Ardi terhadapku berubah 180°. Dia semakin keukeh menolak pernikahan kami, tapi Ardi dan ayahnya malam itu juga datang dan minta maaf atas kelakuan tante Marisha itu (ibunya Ardi) dan minta untuk melanjutkan rencana pernikahan kami seperti yang telah kami disepakati sebelumnya.
Akhirnya lamaran dan rencana pernikahan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan diawal. Tapi entah kenapa semakin mendekati hari H rasanya semakin berat jalan yang aku lalui. Rasa berat itu Berawal dari 3 bulan lalu, ketika masalah kecil seperti telat membalas chat atau telat mengangkat telepon menjadi masalah besar untuknya. Sejak saat itu dia jadi sering marah untuk hal yang sangat sepele. Dia juga mulai mencurigai hal-hal kecil, hingga sering menuduhku selingkuh saat aku pergi dengan teman-teman ku. Ada saja hal-hal yang menjadi bahan untuk diributkan.