KAYANA

KAYANA
26



Ternyata untuk membangun sebuah sekolah tidaklah gampang, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengurus semuanya. Mulai dari membangun ruang kelas, mengurus surat-surat, sampai promosi mencari guru dan murid, ternyata butuh waktu, tenaga dan dana yang tidak sedikit.


Alhamdulillah sudah hampir dua tahun sejak sekolah ini berjalan, aku mengambil satu kelas untuk ku mengajar. Dan aisyah termasuk salah satu murid ku. Hehehe.


"assalamualaikum kakak ais." ucap qiana.


"ibuun.." teriak aisyah.


"jawab dulu salamnya sayang." ucap ku mengingatkan.


"wa'alaikum salam ibun. Dedek naula." ucap aisyah cadel. Dan langsung dipeluk naura, padahal mereka setiap 2 minggu sekali ketemu tapi selalu seperti udah lama gak ketemu. Pemandangan yang selalu bikin aku gemes sendiri. Kompak selalu dan saling sayang ya anak-anak umma.


"alif gak ikut dek?" ucap ku pada qian karena tak melihat alif bersamanya.


"nanti nyusul kak, ada urusan sama mas akbar." jawab qiana.


"sepi amat, ayah sama bunda kemana kak?" tanya qiana.


"coba tanya sama aisyah" jawab ku.


"ais, nenek sama kakek kemana?" tanya qiana pada aisyah.


"pelgi bun, ais gak boleh ikut ama nenek." ucap ais, matanya tampak berkaca-kaca.


"ais kenapa kak?" tanya qiana bingung.


"dia tadi minta ikut sama ayah, tapi di larang sama bunda. Nangis tadi, sampai guling-guling." cerita ku.


"emang pada pergi kemana kak?" tanya qiana.


"kerumah sakit, jenguk anaknya tante ira yang abis lahiran." jelas ku. Qiana mengangguk tanda ia mengerti alasan kenapa bundanya melarang aisyah untuk ikut


"kak ada yang mau qian omongin sama kakak." ucap qiana.


"apa dek?" tanya ku.


"kakak udah siap untuk berumah tangga lagi belum?" tanya qiana. aku terdiam dan berpikir sejenak, sebenarnya gak ada alasan juga untuk tidak siap, toh aku sudah pernah menikah sekali. Tapi dikatakan udah siap untuk menikah lagi juga gak, ah.. Aku benar-benar bingung.


"gak tau dek, biar Allah aja nanti yang jawab. Jodoh kan ditangan-Nya." jawab ku akhirnya. Qiana menghela napasnya.


"emang kenapa dek?" tanya ku lagi.


"hmm... Gini kak, teman qiana ada yang mau ngajakin kakak buat ta'aruf." jelas qiana.


"teman kamu lajang atau duda?" tanya ku lagi.


"masih lajang kak." jawab qiana.


"yakin teman kamu mau ta'aruf sama kakak? Kakak janda loh dek, punya anak lagi. Dia gak takut jadi bahan gunjingan orang kalau nikah sama janda?" tanya ku.


"insyaAllah dia serius sama kakak. Dia juga tau status kakak tapi dia gak mempermasalahkannya. Keluarganya juga gak masalah sama status kakak. Malah katanya kalau nikah sama kakak malah dapat doorprise, buy one get two. Gitu katanya " jelas qiana lagi.


"kakak gak usah langsung jawab, pikirin aja dulu dengan tenang, dia kasih waktu kakak 2 minggu buat kakak."


"siapa sih dek? Kakak kenal?" tanya ku penasaran.


"ada deh, tapi kakak kenal kok. Orangnya baik, insyaAllah sholeh, sayang sama aisyah juga." jawab qiana.


"siapa ya.." pikir ku. Gak ada satu orang pun yang terbayang dalam pikiran ku.


"kalau kakak setuju, 2 minggu lagi dia bakalan kesini sama orang tuanya." ucap qiana.


"langsung ngelamar gitu?." tanya ku.


"ooh. Kakak mau langsung di lamar ya.. Hehehe" ledek qiana.


"gak gitu juga dek." jawab ku salah tingkah. Qiana hanya tertawa. Pembicaraan kami berhenti karena naura nangis dan tak lama aisyah juga ikut menangis, mungkin karena takut di marahi.


***


Awalnya ingin langsung aku tolak, tapi dibalik CV yang ia berikan ada surat untuk ku yang membuat ku jadi mempertimbangkan ajakan ta'aruf nya. Isi suratnya cukup pendek hanya 1 paragraf, tapi benar-benar membuat ku terharu. Begini isinya:


"tidak ada bedanya gadis atau janda karena keduanya sama-sama wanita ciptaan Allah. Masih lebih baik janda tapi bisa mejaga diri daripada gadis yang suka mengumbar diri. Aku memilih kamu karena keshalihan mu, aku memilih kamu karena Allah yang memilih mu untuk ku."


Janda mana yang hatinya tak terenyuh membaca surat seperti itu, tapi aku juga takut itu hanya sebatas gombalan yang tak berarti apa-apa untuk nya. Tapi di satu sisi, aku yakin qiana gak mungkin mengenalkan ku pada laki-laki yang buruk sifat dan akhlaknya.


Sekilas aku dengar suara pintu di buka, mungkin ayah atau bunda keluar kamar. Aku turun ke bawah menuju arah dapur, ternyata ayah yang kedapur untuk mengambil minum.


"yah.. Ada yang mau kay omongin." ucap ku sedikit mengagetkan ayah.


"kamu belum tidur?" aku menggeleng.


"ais tidur?" aku mengangguk. Ayah menatap ku, aku menunduk.


"bunda udah tidur yah?" tanya ku.


"tadi belum, mau ngobrol bareng bunda kamu juga?" tanya ayah. Aku mengangguk.


"yaudah kita ngobrol di kamar ayah aja." jawab ayah. Tanpa menjawab aku mengikuti ayah menuju kamarnya. Ku lihat bunda sedang nonton film yang sedang di siarkan disalah satu channel tv.


"kay mau ngobrol katanya bun." ucap ayah. Aku menyerahkan cv laki-laki tersebut pada ayah lalu aku duduk samping bunda. Ayah membaca cv tersebut, awalnya ayah terlihat mengerutkan dahinya lalu tak lama ayah tersenyum. Lalu memberikan cv tersebut pada bunda.


"menurut kamu gimana kay?" tanya ayah.


"kay masih bingung yah. Takut lebih tepatnya" jawab ku jujur. Ayah mengerutkan dahi mendengar jawaban ku.


"kamu sudah istikhoroh?" tanya bunda. Aku mengangguk.


"berapa lama?" tanya bunda lagi.


"10 hari." jawab ku.


"terus?" tanya bunda. Kay menunjukan surat dari "M-besar" pada ayah dan bunda. Mata bunda terlihat berkaca-kaca setelah membacanya.


"apa yang kamu takut kan?" tanya ayah.


"kay gak tau yah, kay cuma ngerasa takut aja. Setiap kali kay sehabis sholat kay merasa tenang, setelah membaca surat darinya kay juga jadi senang tapi setelah itu juga kay jadi takut. Takut apa nanti keluarganya bisa terima kay dan aisyah, apa lingkungannya bisa terima kay dan aisyah. Kay ini janda anak satu, kay merasa gak layak untuk jadi istri siapa pun lagi. Hiks hiks..." ucap ku yang kemudian di peluk oleh bunda.


"kamu jangan mengecilkan diri mu sendiri kay. Ayah yakin keluarga dan lingkungannya bisa menerima kamu dan aisyah, kalau tidak, gak mungkin kan dia berani ngajak kamu ta'aruf, bahkan sampai nulis surat seperti ini. Jangan kamu fikirkan hal-hal yang gak perlu, itu cuma bakal jadi beban kamu aja. Tanya kan hati mu, apa yang sebenarnya pilihan mu, jangan lupa untuk terus minta petunjuk pada Allah." nasihat ayah.


Nasihat ayah terus terngiang-ngiang oleh ku, masih ada waktu beberapa hari untuk memantapkan jawaban ku, hingga akhirnya aku yakin dengan jawaban yang aku pilih.


"semoga ini yang terbaik untuk kami semua, terutama untuk aisyah." ucap ku dalam hati.


Seperti biasa setiap 2 minggu sekali qiana, alif dan naura nginap disini. Ku mantapkan langkah ku sekali lagi untuk memberikan jawaban pada qiana. Seperti biasa, sehabis makan malam mereka semua kumpul di ruang keluarga untuk bermain dengan aisyah dan naura sambil berbincang ringan.


"bismillah." ucap ku dalam hati.


"dek.." panggil ku. Qiana menoleh. Aku mengangguk.


"kakak mau ta'aruf." ucap ku malu.


"alhamdulillah." ucap mereka semua serempak.


"alhamdulillah." ucap aisyah ikut-ikutan, sedangkan naura lebih memilih terus bermain seperti sebelumnya.


"mas kabarin mas a eh.. Mas Mbesar." ucap qiana pada suaminya. Alif mengambil hp dan berjalan menjauh dari kami semua, tak lama alif kembali.


"besok mereka mau kesini, ba'da dzuhur insyaAllah." ucap alif. Mata bunda tampak berkaca-kaca lalu memeluk ku.


"semoga Allah meridhoi dan melancarkan semuanya besok, semoga kamu selalu bahagia ya nak." ucap bunda lalu mencium kedua pipi ku.


"aamiin ya Allah." ucap ku.


"nenek.. Ais juga mau dicium." ucap aisyah yang sudah berlari dan memeluk kaki neneknya. Tak lama naura juga ikut-ikutan berlari dan memeluk kaki neneknya. Suasana haru seketika berubah karena tingkah laku mereka berdua.


***