
"mas, kay pingsan." teriak fira. Tentu itu membuat rahman semakin khawatir.
"saya coba panggil ambulans, rumah sakitnya juga sudah dekat. Yang penting kay bisa langsung di tangani." ucap rahman. Akbar mengangguk.
"hati-hati bang." ucap akbar.
"ada apa mas?" tanya salah seorang pengendara yang ikut membantu mereka.
"istrinya dia mau melahirkan." jelas akbar. akbar dan pengendara lain terus berusaha memindahkan pohon tumbang tersebut, setidaknya harus sampai bisa memberi jalan untuk ambulan nanti. Sedangkan Rahman terus berlari kearah rumah sakit.
"pak istri saya jatuh, dia dia perdarahan. Dia lagi hamil besar pak." ucap rahman satpam rumah sakit, ia sedikit gemetaran karna menahan dinginnya hujan dan angin yang lumayan kencang sedangkan ia sendiri sudah basah kuyup.
"saya, saya butuh ambulans pak, istri saya, ada di mobil, di lampu merah depan. Ada pohon tumbang, mobil saya gak bisa lewat pak." jelas rahman lagi.
"ayo ikut saya pak." ucap satpam tersebut setelah mendengar penjelasan rahman.
"tunggu disini ya pak" ucap satpam tersebut ketika sudah didepan pintu masuk IGD. Terlihat satpam tersebut sedang menjelaskan pada salah seorang dokter. Tak lama satpam tersebut keluar bersama seorang perawat.
"boleh saya minta data pasiennya pak?" tanya perawat tersebut.
"apa gak bisa datanya menyusul sus, apa gak bisa jemput istri saya dulu? Gak jauh kok sus, di lampu merah depan." ucap rahman.
"sudah peraturannya seperti ini pak. Kita juga sedang menghubungi supir ambulannya pak." jelas perawat tersebut.
"nama pasien?"
"kayana adeera." jawab rahman menggigil. Rahman teringat sesuatu, ia mengeluarkan KTP kay yang ada di dompetnya.
"ini sus." ucap rahman sambil menyerahkan KTP kay pada perawat tersebut, mulutnya rada kelu saking dinginnya ya ia rasa.
"pak, maaf sebelumnya, tapi bapak harus membayar deposit terlebih dahulu sebesar...
"ini ini sus, saya cuma ada cash segini." ucap rahman sembari memberi semua uang yang ada di dalam dompetnya, kurang lebih sekitar 1,7 juta.
"kalau kurang nanti saya tambah lagi, tapi tolong sus, kirim ambulans untuk menjemput istri saya." ucap rahman semakin kalut, karna sudah hampir 15 menit ia disana tapi ambulans juga belum bergerak menjemput istrinya.
"masih lama sus?" tanya rahman, ini sudah kesekian kalinya ia bertanya pada perawat, pasalnya ia sudah menunggu lebih dari 30 menit.
"supirnya sudah datang pak, sekarang sedang memanaskan mobilnya." ucap perawat yang meminta data pasien tadi. Tak lama ia melihat satu mobil ambulans sudah jalan melewati ruang igd. Ia juga bergegas kembali ke tempat kay. Hujan sudah mulai reda hanya tinggal gerimis yang berebutan untuk turun dan angin juga sudah tak semenakutkan tadi.
"pakai payung pak." ucap satpam tadi pada rahman ketika ia melewati pos satpam.
"makasih pak." ucap rahman sembari mengambil payung tersebut dan tersenyum ramah. Rahman kembali berjalan menuju mobilnya. Pohon tumbang masih menghalangi jalan. Terlihat dari jauh ambulans sampai disana dan mencoba memindahkan kay. Fira ikut kedalam mobil ambulans tersebut untuk menemani kay. Setelah itu ambulans kembali berjalan kearah rumah sakit.
"bar, kamu disini aja ya sampai mobilnya bisa lewat. Aku nyusul kay ke rumah sakit." ucap rahman pada akbar.
"di mobil kayanya bang. Kenapa bang?" tanya akbar.
"aku mau kabarin ayah sama bunda. Aku takut kay butuh donor darah, sedangkan golongan darahnya kan..
"A negatif. Sama kaya ummi bang." potong akbar.
"iya. Langka" jawab rahman.
"tadi aku udah ngabarin alif bang. Mungkin sebentar lagi mereka sampai." jelas akbar lagi, ia sedikit merasa gak enak pada rahman karna ucapannya tadi.
"makasih bar." akbar hanya mengangguk.
"aku tinggal dulu ya." ucap rahman, lalu berlari menuju rumah sakit. Tiba-tiba..
Baaaammmmmmm......
Sebuah motor menabrak tubuh rahman, ia dan pengemudi motor tersebut sama-sama terpental, tapi tak lama pengemudi tersebut berdiri dan langsung kabur dengan motornya.
"bang hafiz!!!" teriak akbar.
Akbar langsung berlari kearah rahman. Kaki dan tangan kanan rahman mungkin patah, tapi hampir tidak mengeluarkan darah. Satu-satunya tempat yang mengeluarkan lebih banyak darah hanya dari mulutnya. Setelah melihat kondisi rahman, akbar meminta tolong pada orang-orang disekitar untuk membopong rahman ke rumah sakit.
Fira begitu kaget ketika melihat akbar masuk kedalam ruangan igd, yang membuatnya kaget bukan karna kemunculan akbar tapi karna ia melihat suaminya kay di atas ranjang pasien yang didorong oleh akbar.
"loh, ini kan bapak yang tadi" ucap seorang suster kaget.
"suaminya kay kenapa mas?" tanya fira panik.
"kecelakaan, tabrak lari sewaktu jalan mau kesini." jawab akbar.
"mas, pasien yang ini di bed sebelah pasien itu aja ya, mereka suami istri." ucap akbar pada perawat laki-laki yang ikut mendorong brankar pasien bersama akbar.
"maaf, bisa minta data untuk pasien?" tanya salah satu suster pada akbar. Akbar mencoba mencari dompet rahman, ia mencari kartu tanda penduduk rahman. Karena selain nama, ia tidak tau apa pun tentang rahman.
"ibunya harus segera dioperasi. Kita butuh persetujuan keluarga pasien." ucap dokter yang memeriksa keadaan kay.
"keluarganya sedang dalam perjalanan kemari dok." ucap fira, dokter tersebut mengangguk tanda mengerti lalu beralih memeriksa keadaan rahman.
"pasien yang ini juga harus segera pindai CT scan, agar bisa tau seberapa berat luka yang di derita. Kita juga butuh persetujuan keluarga, kalau bisa keluarga pasien bisa secepatnya sampai disini.
"iya dok, saya coba hubungi lagi." jawab akbar, lalu segera ia mencoba menghubungi alif kembali.
"meraka sudah hampir sampai." ucap akbar pada fira. 20 menit kemudian alif, qiana dan orang tua kay sampai di rumah sakit.