
Sepanjang perjalanan pulang papa terus bersungut-sungut karena kesal dan hanya ku tanggapi dengan tertawa puas, puas hati bisa balas kejahilan papa 2 tahun yang lalu. Hehehe..
Gimana papa gak kesal plus malu coba, papa datang ngelamar kay tanpa tau apa-apa, dengan pakaian santai pula, di tambah lagi melihat kay sekeluarga berpakaian rapi seperti mau kondangan (a.k.a. formal) plus jamuan makan yang nikmat bikin papa bertambah malu. Tapi bukan papa namanya kalau gak bisa cepat membaur di suasana yang sempat bikin dia malu, dan akhirnya acara lamaran pun berjalan lancar.
Sesampaimya dirumah papa yang masih aja ngedumel ngajak aku duduk di teras belakang rumah sekedar untuk mengobrol dengan ku.
"kamu kok gak bilang-bilang sih di mau ngelamar kay? masa cuma papa doang yang gak tau apa-apa!" omel papa.
"bahkan mama kamu yang lagi di jawa aja tau. Ya masa papa ngelamar anak gadis orang pake pakaian begini, mana bawanya rengginang lagi." oceh papa kesal.
"itu balasan buat papa, 2 tahun yang lalu papa pura-pura ngelamar kay padahal cuma mau ngasih oleh-oleh. Sekarang ardi balik nih. Ardi yang pura-pura ngantar oleh-oleh tapi sebenarnya mau ngelamar kay. Satu sama ya pa. Hehehe." jawab ku. Papa hanya berdecak sebal mendengar jawaban ku, namun akhirnya tersenyum sambil memegang erat sebelah bahu ku.
"tapi papa senang akhirnya kamu .ngelamar kay. Kay itu anak yang sholeha, insyaAllah juga bakal jadi istri yang sholeha, yang sayangnya bukan cuma buat kamu aja, tapi juga buat papa sama mama kamu." ucap papa lembut.
"papa benar, Kay itu memang yang terbaik buat ardi. Ada berlian di depan mata gak mungkin ardi abaikan. Makanya ardi lamar kay." jawab ku.
"bilang aja takut disambar orang duluan hehehe, namanya juga berlian pasti banyak yang mau kan?" ucap papa yang ku jawab hanya dengan senyuman.
"tapi apa gak kelamaan 7 bulan setelah tunangan nanti baru nikahnya di? Gak baik kalo di lama-lamain apalagi ini kan buat ibadah." tanya papa.
"yah mau gimana lagi pa, kerjaan ardi numpuk sampai akhir tahun. Banyak project di luar kota, kalau pun pulang hanya beberapa hari, itu juga buat laporan ke atasan, meeting, jumpa client, kerja lagi. Ardi cuma mau fokus sama kerjaan dulu aja pa, coba bertanggung jawab sama pekerjaan. Kalau sama kerjaan aja gak bisa bertanggung jawab, gimana ardi bisa bertanggung jawab sama rumah tangga ardi nanti." jawab ku.
"anak papa sekarang jadi semakin dewasa yaa. Hehee." ucap papa.
"baru tau aja papa sekarang, hehehe." jawab ku dengan nada sombong yang di buat-buat.
"nanti setelah menikah kalian bakalan tinggal dimana? Dirumah kay, rumah papa, atau rumah mama kamu?" tanya papa.
"kayanya ardi buat sementara di rumah kay dulu pa, selanjutnya mungkin ngontrak dulu. Kata kay "biar adil" gitu pa." jelas ku.
"Lagian sebulan sebelum nikah ardi rencana mau resign pa." sambung ku.
"loh kenapa?" tanya papa.
"aku gak mau kay tau gimana kelakuan ku bareng anak-anak kantor pa." ucap ku dalam hati.
"hmm.. Ardi kan sering dapat project di luar kota pa, kasian kay kalau harus di tinggal-tinggal." ucap ku, gak bohong sih cuma gak ngasih tau alasan yang sebenarnya aja ke papa. Papa hanya megangguk-anggukan kepalanya tanda kalau ia paham dengan ucapan ku.
"kamu udah bicarakan ke kay?" tanya papa.
"udah pa, kalau kay nya sih terserah ardi aja." jawab ku.
"yang penting kay udah tau. Kalian kan akan menikah, jadi harus saling lebih terbuka lagi, jangan ada yang disembunyiin, kalau ada masalah atau yang ngeganjel di dalam hati semua harus diomongin baik-baik, jangan nurutin emosi palagi hawa nafsu. Masalah besar di kecilkan, masalah kecil kalau bisa anggap aja gak ada masalah." nasehat papa.
"iya pa." jawab ku.
"papa pesan cucu 5 ya di. Hehehe" canda papa.
"buset deh pa, itu anak orang atau anak kucing, banyak amat. Hahaha." jawab ku.
Setelah puas mengobrol dengan papa, aku langsung masuk kamar lalu dan merebahkan diri di kasur. ku rogoh kantung celana ku lalu ku ambil handphone ku dan menyalakannya -yang memang sengaja aku matikan sebelum berangkat kerumah kay tadi- dengan niat untuk mengabari mama tentang lamaran tadi dan rencana tunangan yang akan diselenggarakan 3 minggu lagi. Belum sempat aku menghubungi mama, siska udah lebih dulu menghubungi ku.
"maksud lo apa sih di! Lo ngelamar kay gak bilang-bilang ke gue!" amuk siska.
"lo tu yang apa-apaan? Lo lamar kay tapi gak bilang gue!" jawab siska
"kenapa harus bilang ke lo, yang mau nikah kan gue bukan lo, masa gue harus izin ke lo. Emang lo siapa? Istri pertama gue? Jadi kalo gue mau nikah harus izin ke lo dulu!" jawab ku sedikit kesal.
l
"lo yang bilang kalo gue sahabat lo, gue juga adek lo. Sahabat macam apa lo, kakak macam apa lo, ngelamar anak orang gak bilang-bilang!" umpat siska.
"kenapa gue harus bilang elo? Bokap gue aja gak gue kasi tau!" jawab ku dongkol. Gak ada jawaban dari siska, perlahan ku dengar isak tangis siska dari seberang sana.
"lo kok jadi nangis gitu sih? Bingung gue, seharusnya lo seneng dong sahabat lo, abang lo ini mau nikah. Bukan malah marah-marah gak jelas gini, mana pake nangis- nangis gini lagi. Sumpah bingung gue sama lo sis!" ucap ku.
"kalo lo nikah gue gimana di?" jawab siska terisak.
"apanya yang gimana? Emangnya kenapa sih kalo gue nikah!" ucap ku bingung bercampur sedikit frustasi.
"dulu lo selalu ada buat gue, sejak pacaran dengan kay waktu lo buat gue jadi berkurang, lo jadi jarang main sama gue, hiks.. Hiks.. Apalagi nanti lo kalau nikah. Hiks.. Hiks.." ucap siska terisak-isak.
"astagaaa siskaa, seharusnya kata-kata itu keluar dari mulut kay bukan dari mulut lo. Gue pacaran sama kay, tapi gue lebih sering jalan sama lo, lebih sering main sama lo, hangout sama anak kantor juga sama lo bukan sama kay, gak pernah tuh kay ngomong kaya lo barusan! Lo jangan egois dong sis!" ucap ku semakin frustasi. Aku gak habis fikir sama jalan fikiran siska.
"lo kenapa jadi belain kay si di!!" bentak siska.
"karna kay emang gak salah apa-apa, lo nya aja yang aneh!!" bentak ku.
"apa sih hebatnya kay di banding gue!!" teriak siska. Salah satu sifat buruk siska, kalau sedang marah gak bisa sama sekali menahan emosi, sama sekali gak bisa di ajak bicara baik-baik.
"kay sejuta kali lebih baik dari lo!! Puas lo!!" bentak ku. Sebenarnya aku juga gak bermaksud membanding-bandingkan siska dengan kay, karena setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk didalam diri meraka tak terkecuali siska dan kay.
"laki-laki ***!! Bajingan!! Gak tau diri!! Gue benci sama lo!!" maki siska sesaat sebelum memutuskan line telpon secara sepihak.
Ku benamkan muka ku dalam telapak tangan ku. Ntah kenapa kepala ku jadi mendadak sakit, Ku jambak-jambak perlahan rambut ku untuk meredakan rasa sakit di kepala ku. Semakin ku memikirkan perkataan siska tadi, semakin sakit pula kepala ku.
*****
hai readers..
mohon maaf yaa author baru up lagi, padahal janjinya seminggu 2-3 kali up.
tapi beneran semingguan ini anak author sakit dan maunya cuma sama author, maunya di gendong terus. sampai tidur juga maunya di pangku sama author.
tapi alhamdulillah anak author udah sembuh jadi bisa up lagi seperti biasa seminggu 2-3 episode.
so, happy reading readers
jangan lupa like and comment yaa!!
thank you.
😘